
Mia tidak bisa menemukan cara memecahkan kode yang diberikan Asisten Min. Ia hanya membacanya berulang kali dan merasa buntu setiap saat.
Ia memutuskan untuk menghentikannya sejenak dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Ia masih memiliki pertemuan pada keesokan harinya, jadi Mia terlebih dahulu mempersiapkan apa yang perlu ia gunakan untuk pertemuan itu.
Keesokan harinya Mia meningalakn pertemuan menjenuhkan itu, malam sudah larut dan hatinya terasa kacau.
Hari itu cuaca begitu bagus, langit begitu terang berhiaskan bintang-bintang.
Mia berdiri menatap lagit terang sambil memilih-milih bintang. Yang mana yang merupakan bintang milik Andra? Ia memandang bintang paling terang dan tersenyum sendirian. Ia tidak sadar bahwa hanya sedetik ia memikirkan Andra dan kini suasana hatinya menjadi lebih baik, bahkan sangat baik.
"Kau menyukai bintang?" Sebuah suara pria mengejutkannya.
__ADS_1
Mia berbalik mendapati Wixel sedang berjalan ke arahnya dengan tangan di saku celana depannya. Pria itu terlihat sangat gagah, selain wajahnya semua anggota tubuhnya tidak berbeda dengan Andra.
Gadis bergaun malam itu terpanah ketika melihat pemandangan di depannya. Ia tidak mengerti harus bereaksi seperti apa. Pikirannya seperti terkunci akan kedatangan Wixel.
Wixel berdiri di samping Mia sambil menatap bintang di langit, ia sama sekali tidak terganggu dengan tatapan yang di berikan Mia.
"Kau masih terus merindukannya?" Wixel teringat postingan Mia. Seorang gadis dengan senyuman yang indah. Tentu saja ia tahu kalau senyum itu adalah senyum terpaksa.
Ia tahu seluk beluk kehidupan kedua orang itu hingga ia merasa yakin kalau mereka benar-benar tidak memiliki perasaan satu sama lain.
Ketika Wixel kembali, ia berpikir akan mudah mendapatkan gadis disampingnya terlepas dari kenyataan bahwa gadis itu tidak pernah jatuh cinta.
Ia membuat waktu yang tepat untuk masa pendekatannya hingga menjadi terlalu sempurna untuk mengisi hati yang hampa milik Mia.
__ADS_1
Tapi siapa sangka bahwa hari berlalu hingga minggu bahkan bulan dan perkembangan hubungan mereka bahkan hampir tidak terlihat.
Wixel melirik Mia yang terus memperhatikannya. Tatapan wanita itu penuh dengan kekaguman bercampur perasaan sedih.
"Apa aku boleh menjadi bintang di hatimu?" Wixel penuh ketulusan mengatakan kata-kata itu. Ia benar-benar tulus mencintai wanita di depannya.
Mia bisa melihat ketulusan pria itu, dalam sekejap ia tahu bahwa pria itu benar-benar bersungguh-sungguh. Tapi kemudian Mia segera mengalihkan pandangannya, ia tidak mengerti. Ini adalah pengalaman pertamanya. Seseorang mengatakan cinta padanya secara langsung dengan sangat tulus"
Kata orang jika kamu mendapat pengakuan cinta yang tulus, maka hatimu akan berdebar, dan kamu merasa kehilangan dirimu karena kebahagiaan yang memuncak pada saat itu. Tapi mengapa? Mengapa sekarang rasanya hambar? Mungkinkah ia tidak lagi normal?
Wixel meraih bahu gadis itu dan memaksanya mengarah padanya untuk mengunci tatapan mereka. "Aku berada di luar negeri sejak belasan tahun yang lalu, aku selalu ingat kamu dalam setiap detikku. Aku pikir saat aku kembali kamu akan mengingatku dan mau menghabiskan waktu bersamaku. Kau tahu betapa aku menjadi hancur ketika mendengar kabar penikahanmu dengan Andra? Tapi kemudian aku melihat bahwa nasib berpihak padaku hingga aku bisa kembali dan menemukanmu. Tapi sekarang ketika aku menemukanmu, bukannya merasa bahagia aku malah mendapat penolakan. Kau tahu, aku menyimpan perasaan ini selama bertahun-tahun, aku terus menjaga dan menikmatinya hingga melakukan apa pun agar aku layak bersamamu, tapi sekarang aku mengerti, aku seharusnya mundur. Tidak. Aku seharusnya tidak penah kembali kemari"
Mia bisa melihat kesedihan dan keputusasaan dalam tatapan pria itu. Ia ingin menjauhinya, tapi mengapa? Tubuhnya terkunci, ia tidak bisa bergerak, rasa ingin tahunya menguasai dirinya. Mengapa pria itu mengatakan belasan tahun?
__ADS_1
"Aku akan mengatakan ini untuk kali terakhirnya, maukah kau menjadi milikku?" Wixel menatap mata indah Mia dengan rasa cinta bercampur putus asa.
...