Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 57


__ADS_3

Di kamarnya Geri kembali memeluk tubuh istrinya itu, ia sudah lebih hangat dan bernafas dengan normal, bahkan wajahnya telah membaik.


Ia sangat cemas sehingga ia tidak dapat mengalihkan pikirannya dan hanya terfokus pada istrinya yang masih lelap dalam mimpinya.


Setelah 3 jam, akhirnya Carri terbangun dan mendapati suaminya masih setia memandanginya.


"Bagaiman perasaanmu?


Carri mengeratkan pelukannya lalu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Ia menghirup aroma maskuli suaminya dengan panjang.


Ia bahkan tidka mau jika harus mengubah posisinya, ia sangat nyaman dengan posisi berpelukan seperti itu.


"Kita akan segera pulang, Nando sudah diperjalanan menjemput kita"


"Aku ingin mandi"


Geri langsung bangun dan membawa Carri untuk mandi air hangat.


Ia bahkan harus mengahbiskan banyak sampo pada rambut istrinya yang panjang itu.


Ia juga ikut mandi sekali lagi, karena mandinya yang tadi adalah mandi buru-buru hang tidak benar.


Setelah mandi mereka memakai pakaian dan kemudian mengeringkan rambut istrinya.


Ia membuka bubur yang di sediakan oleh Regan namun itu sudah dingin.


Ia kemudian menyuruh Carri menunggu di kamar dan mengunci pintu, lalu ia berlalu ke dapur memanaskan bubur.


Setelah ia kembali ke kamar ia menyuapi istrinya, dan Carri tidak tinggal diam ia juga menyuruhnya makan, karena Carri tahu suaminya belum sempat makan karena menjaganya.


Setelah mereka makan Geri menyuruh Carri untuk tetap duduk di atas kasur, sedangkan ia membereskan semua barangnya.


Ketika selesai membereskan barangnya, Nando sudah tiba di rumah tua, kemudian mereka pulang bersama.

__ADS_1


Semua orang mengantar mereka ke depan, Bibinya pun ada disana, ketika bibinya hendak mengatakan sesuatu pada Carri Geri sengaja mengalihkan pembicaraan hingga mereka masuk kedalam mobil dan berlalu dari rumah tua.


Selanjang perjalanan Carri hanya tertidur dalam pelukan Geri, ia tidak ingin menjauh darinya walau hanya sesaat.


Mereka tiba di apartemen dengan Carri masih lelap dalam tidurnya. Geri menggendong istrinya sampai kamar dan kemudian membaringkannya di atas kasur.


Ia kemudian berjalan ke ruang kerjanya lalu memesan makan malam untuk mereka. Ia menyalakan komputernya dan membalas beberapa email.


Di rumah tua, semua orang dikumpulkan di ruang keluarga, mereka duduk di sofa, sedangkan semua pelayan berdiri menghadap kakek.


Keheningan terjadi selama beberapa saat, hingga semua ornag disana menjadi ketakutan, bahkan mereka tidak berani bernafas.


"Ayah bicaralah"


Setelah Doni berkata istrinya yang duduk di sampingnya semakin gugup. Ia merasa dunianya sudah hancur bahkan jika ia dilepaskan kali ini ia mungkin akan di usir dari rumah tua.


Ia hanya bermaksud menakuti Carri, namun ternyata ia tidak bisa berenang. Bahkan ia sempat tidak bernafas, jadi bagaimana bisa ia akan lolos dari masalah ini.


Andre juga merasakan hal yang sama, ,bahkan kini kakinya gemetaran namun ia mengalihkan perhatian dengan mencubit pahanya.


Selama ini ia bisa mempunyai banyak teman karena ia memiliki kedudukan dan juga uang, namun jika mereka tidak lagi bisa berada di rumah tua, dari mana mereka akan mendapat uang untuk bertahan hidup.


Reran hanya duduk dengan manis disertai senyuman, ia bahkan mengharapkan bibinya segera diusir dari rumah, ia sudah muak dengan penjilat yang tidka tahu malu itu.


"Katakan yang sebenarnya terjadi"


Kakek memulai pembicaraan dengan nada dingin hingga semua orang merasa mengigil mendengarnya, semua oelayan terutama yang pergi emmanggil Carri berkeringat dingin mendengar suara Kakek Bambang.


Semua orang masih diam tidak ada yang mau berbicara, bahkan Doni tidka tahu apa pun jadi ia tidak mau mengatakan apa pun dan membiarkan keheningan terjadi.


"Tidak ada yang berbicara?


"Maafkan saya Ayah, saya yang berada disana saat itu namun Carri hanya terpeleset ketika ia sedang memetik sayuran, tapi aku tidak tau kalau ia tidak bisa berenang"

__ADS_1


"Mengapa kalian memetik satur di jam 4 subuh?


Seketika keringat Milan semakin deras mengalir di punggungnya, bahkan kakinya bergetar hebat dan ia tidak lagi mampu mengendalikan kegugupannya.


"I,,i,,tu, itu karena kami ingin memasak bersama dan mempersiapkan sarapan untuk semua"


"Kamu bangun pada subuh hari untuk membuat sarapan?


"Iya Ayah"


"Siapa pelayan yang bertanggung jawab membuat sarapan?


Seorang pelayan dengan usia 40 tahun melangkah ke depan "Itu saya tuan"


Mengapa kamu membiarkan Menantu dan cucuku yang melakukan pekerjaanmu?


"Saya minta maaf Tuan"


"Seharusnya ada pelayan yang memanggil Carri ke kamarnya apakah itu juga kamu?


"Bukan saya tuan"


"I, itu saya tuan"


Pelayan yang lebih muda itu segera berlutut karena akkinya telah lemas dan sedari tadi menahan kegugupannya.


"Bukanka ia adalah pelayan khusus untukmu Milan?


"Maafkan saya Tuan, saya di perintah oleh Nyonya untuk memanggil Nona Carri ke dapur, setelah itu saya meningalkan mereka berdua sesuai perintah"


"Bagus kalian berdua di pecat dan kemasi barang kalian hari ini"


Kedua pelayan itu langsung tersungkur di lantai, dan semua pelayan yang masih ketakutan lainnya berdiri mengamati mereka, itu adalah pelajaran yang patut mereka simpan dalam hati.

__ADS_1


"Milan, kamu bahkan tidak memberi tahu orang-orang dengan segera, pergila kekamarmu dan jangan keluar sampai aku memutuskan.


Dan kalian semua, ini adalah peringatan bagi kalian, kalian harus bersyukur cucuku baik-baik saja, kalau terjadi sesuatu aku akan pastikan kalian semua menerima akibatnya" Kakek Bambang berbicara dengan tegas lalu berdiri dibantu pelayannya dan menibgalkan riang itu.


__ADS_2