Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 119


__ADS_3

Baru saja mereka membuka pintu ketika sala satu mahasiswa datang menghampiri dengan takut-takut. "Kalian,, itu di panggil ke ruang kemahasiswaan"


"Baiklah" Keti menjawab dengan entengnya seperti hanya diberi kabar kelas akan segera dimulai.


Mereka berjalan ke gedung kemahasiswaan menemui Pak Ender. Ketika mereka masuk ruangan besar itu Nari sedang menangis sambil tertunduk.


"Duduklah" Pak Ender melihat dengan wajah yang serius sambil mengamati kedua wanita di depannya. Bagaimana bisa para wanita cantik ini saling menyalahkan satu sama lain, mereka terlihat berasal dari kelas atas namun memiliki etika yang kurang baik. "Sepertinya kalian bisa minta maaf sekarang"


Mia hanya diam melihat ke arah Nari, ia pantas mendapatkan tamparan itu, dia juga bisa mendapatkan yang lebih buruk dari itu, tapi sekarang rubah licik itu malah membuat masalah tambahan untuk mereka. Lagi pula sangat tidak mungkin bila Pak Ender tidak tahu apa senarnya yang terjadi, tapi melihat bagaimana reaksi Pak Ender ia jelas melindungi rubah licik itu.


"Pak, apakah bapak sudah menyelidiki masalahnya lebih dulu hingga Bapak memutuskan begitu cepat? Keti sebenarnya merasa heran juga tapi ia bisa menjadikan kejadian ini sebagai hiburan yang menyenangkan.

__ADS_1


"Kalian ini mahasiswa yang berpendidikan, kalian jelas-jelas berada di kampus elit dan bagaimana kalian tidak tahu etika? Kalian mengeroyok seorang gadis lugu hingga melukainya seburuk ini, sudah seharusnya kalian minta maaf"


"Yaa, tapi aku rasa dia yang seharusnya minta maaf karena dengan sengaja melukai Mia hingga kulitnya melepuh" Keti menjawab dengan wajah yang tegas seperti seorang istri berpengalaman dalam menghadapi para selir. Ia jelas tidak akan minta maaf pada rubah licik, apa lagi melihat bagaimana masalah ini muncul.


"Itu hanya ketidak kesengajaan, jadi kalian tidak seharunya menghakiminya"


"Ya dia tidak sengaja dan aku juga tidak sengaja menamparnya, bukankah itu seimbang?


Dengan perdebatan yang panjang akhirnya masalah tersebut tidak bisa diselesaikan hari itu hingga perlu partisipasi orang tua untuk mencari jalan keluar.


Nari tersenyum licik dalam kebahagiaannya, jelas mereka bukan tandingannya, lagi pula dengan Andra berada di belakangnya maka semuanya akan baik-baik saja. Segalanya berada di genggamannya jadi siapa yang akan berani menentangnya.

__ADS_1


"Baiklah Pak, aku harap kalian tidak akan menyesal ketika menghubungi orang tuaku" Keti beranjak dari ruangan itu sambil tersenyum puas menggenggam tangan Mia.


Pak Reden merasa bingung dengan Keti tapi ia segera mengalihkan pandangannya pada Nari. Urusan satu ini harus selesai dengan sempurna dan berjalan mulus supaya ia dapat mengamankan posisinya dan tentu keluarganya.


...


Nari tiba di rumah dan menghadap pada cermin merasa kesal karena ia harus mengorbankan wajah berharganya untuk membalas dendam pada Mia dan Keti.


"Apakah pipimu sepadan dengan hasilnya" Asisten Rin merasa miris melihat wajah bengkak Nari.


Nari tentu merasa kesal dengan ucapan Rin dan memandang wajahnya dengan kesal dan mengerutkan keningnya. "Sialan, apa sejelek itu? Lihat saja kedua ****** itu akan menerima nerakanya besok!!

__ADS_1


"Aku tak sabar menantikannya" Rin berkata dengan semangat dan memainkan imajinasinya.


"Lihat saja, besok mereka akan berlutut di kakiku dan meminta pengampunan, tapi aku tidak akan membiarkan mereka" Senyum liciknya mengembang sempurna, siapa suruh kedua ****** itu melangkahinya di wilayahnya sendiri, mereka pikir bisa mendapatkan keinginannya begitu mudah. Jika saja mereka tidak terlalu cantik dan tidak terkenal maka mereka tentu akan memiliki kehidupan kampus yang lebih baik. Apa lagi mereka telah berani mengganggu pujaan hatinya, jelas ini bukanlah hukuman yang sepadan tapi ia bisa menambahkan hukuman lain dikemudian hari


__ADS_2