
Setelah ia membawa Carri ke atas ia membaringkannya di pinggir kolam dan melakukan pertolongan pertama.
Ia memeriksa nafas Carri namun sudah tidak bernafas lagi bahkan jantungnya sudah berhenti bekerja.
Segera ia menekan dada carri dengan irama yang teratur sebanyak tiga kali lalu memberi batas buatan namun Carri masih tidak bergeming.
Ia mngulangi proses itu sebanyak tiga kali hingga kemudian Carri memuntahkan air kolam yang telah ia telan.
Geri membantunya dengan menekan punggungnya. Setelah semua air ia perkirakan telah keluar ia segera mengangkat Carri dan berlari kedalam rumah.
Ia langsung menuju kamar dan melepaskan semua pakaian Carri. Ia membaringkannya di tempat tidur dan memberi 2 buah selimut pada Carri.
Tubuhnya masih mengigil dan sangat dingin.
Ia menyuruh seorang pelayan untuk masuk dan mengoleskan minyak kayu putih di tubuh Carri. Pelayan itu juga membungkus rambut Carri dengan handuk.
Geri segera mengatur suhu ruangan menjadi hangat lalu ia mengambil beberapa pakaian dan pergi ke kamar mandi membilas tubuhnya dengan air hangat lalu memakai pakaiannya.
Segera ia menyuruh pelayan itu keluar lalu ia mengunci pintu dan naik ke atas ranjang memeluk tubuh istrinya yang kini masih sangat dingin.
Bibir pucat Carri tampak sangat menyedihkan, bahkan pipinya yang selalu merona kini sangat pucat.
Ia memeluk istrinya dan menghembuskan nafas hangatnya pada seluruh wajah Carri.
Ia melakukannya berulang kali hingga wajahnya berangsur membaik.
Bibirnya sudah sedikit berwarna dan kini tubuhnya tidak lagi mengigil.
"Aku disini sayang"
Carri membuka matanya dan melihat seluruh ruangan ia sangat takut Bibinya akan datang dan melemparkannya kembali kedalam air kolam yang mengerikan.
Matanya lama berkeliling memandangi tembok, jendela dan pintu ia harus memastikan bahwa tidak ada cela untuk seseorang datang menyergapnya.
"Sayang jangan takut oke, aku disini"
Carri merontah ingin membebaskan diri, namun Geri memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Sayang tenang lah, tidak ada siapa pun selain kita"
Carri perlahan mengalihkan pandangannya dan menatap kedalam mata Geri. Ia mengenali mata itu, mata yang bersinar dan mengandung cinta.
Carri segera sadar lalu memluk erat Geri dan menangis. Ia menangis sangat lama dalam pelukan Geri hingga ia menjadi tenang.
Geri mengelus pelan punggung istrinya dan meniup hangat kepala Carri yang terbungkus handuk.
Setelah beberapa lama ia merasakan tubuh Carri telah lebih hangat, namun ia tidak berhenti mengelus punggungnya.
"Sayang"
Carri tidka menjawab namun pelukannya pada Geri masih sangat erat.
Geri kembali diam dan membiarkan Carri merasa lebih tenang.
Setelah lama menunggu ia memeriksa Carri dengan mengangkat wajah Carri, namun Carri telah tertidur.
Geri kemudian perlahan bangun dan memperbaiki selimut Carri. Ia berjalan ke meja rias mendapatkan pengering rambut lalu mengeringkan rambut istrinya.
Setelah rambut istrinya kering ia kemudian menelpon Nando untuk segera menjemput mereka.
Suara ketukan dari balik pintu membuat ia menatap dingin ke arah pintu namun ia segera menangkan hatinya lalu berjalan membuka pintu.
Regan sedang berdiri disana dengan semangkuk bubur pada baki ditangannya.
"Bagaimana keadaan Kakak?
"Sudah lebih baik, masukla"
Regan masuk dan meletakkan bubur yang ia bawa di meja samping ranjang.
Ia memndang wajah Carri yang masih sedikit pucat.
"Apa sebenarnya yang terjadi?
"Kami akan pulang setelah Carri sadar"
__ADS_1
"Baikla Kak, aku akan keluar".
Regan segera berlalu dari kamar itu dengan perasaan bersala melingkupinya.
Ia sangat marah pada bibinya, bahkan ia ingat bagaimana bibinya beralasan tidak sengaja tersandung.
Tapi ia tau pastila itu disengaja, karena ia juga perna sekali hampir didorong oleh mereka ke kolam, namun ia dengan cepat sadar lalu menghindar.
Ia sangat marah pada orang itu, bahkan mereka telah berani menyentuh kakaknya.
Bahkan jika dipikirkan lagi semua kronologisnya tidka masuk akal.
Bagaimana bisa Carri bangun jam 5 subuh dan berada di kebun memetik sayuran?
Dan ia juga tidka pernah melihat bibinya bangun sangat pagi seperti itu, bahkan dua penjelasna itu sudah cukup meyakinkannya bahwa bibinya memang telah merencanakannya.
Tapi ia sangat bingung kenapa ia menargetkan kakaknya. Ia bergulat dengan pikirannya hingga ia kemusian bergegas ke kamar kakeknya.
"Kakek"
"Masuklah"
"Bagaiman keadaan kakakmu?
"Sudah lebih baik"
"Hmmmn"
"Kakak ipar bilang mereka akan kembali setelah Kakak sadar"
"Mmm"
"Aku akan kembali ke kamarku"
Regan segera meningalkan kamar kakeknya dan kembali ke kamarnya tanpa menahan semua yang ingin ia katakan pada kakeknya, bahkan jika ia mengatakannya ia tidak akan dipercaya.
Yang harus ia lakukan sekarang adalah lebih berhati-hati, bahkan ia juga harus melindungi kakek, mungkin saja nanti kakeknya akan menjadi target wanita gila itu.
__ADS_1