Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 107


__ADS_3

Sudah pukul 11 malam ketika Mia tiba di rumah dan ia merasa sangat lelah karena kemarin malam ia tidak tidur dan harus lembur hari ini.


Ketika ia masuk ke kamar, kamar itu masih gelap dan tidak ada sedikit pun cahaya disana, syukurlah bahwa ia mengingat setiap jengkal sudut ruangan itu.


Mungkin para pelayan lupa untuk mematikan lampu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tapi itu tidak masalah bagi Mia, ia malah merasa lebih baik jika pulang mendapati rumah dalam keadaan gelap karena dulunya ia juga selalu seperti itu.


Ia terllau lelah untuk melakukan apa pun lagi dan hanya ingin bersatu dengan kasurnya ia melemparkan tas sembarang arah, melepas rok dan jaketnya serta BHnya dan melompat ke atas kasur.


"Aaaaaaaaaaahhhh!!!!!!!!"


Sesuatu yang keras dan berisi berada di bawahnya jelas itu adalah tubuh kekar yang besar. Segera ia berdiri dan menyalakan lampu.


Ia terpaku sebentar mendapati ruangan itu yang seketika berubah suhunya menjadi sangat dingin dan menegangkan.


Suaminya berbaring di atas kasur sambil menatap ke arahnya yang sedang berdiri tanpa melakukan apa pun. Ia hanya menganga dalam kegugupannya dan nyalinya menciut seketika. Badannya tak lagi merasa lelah kantuknya hilang entah kemana. Hanya rasa kaget yang ada dibenaknya memenuhi pikirannya hingga ia tidka bisa bergerak bahkan benafas atau mengedipkan matanya.


Bagaimana bisa kutub utara itu berada dikamarnya, sementara di kantor tadi mereka seperti orang asing. Bagaimana pula ia akan tidur jika kutub utara satu ruangan bersamanya diranjang yang sama. Sudah cukup ia begadang dimalam sebelumnya dna kini harus terulang lagi. Nasibnya sungguh tidak beruntung kali ini.


"Tidulah"


Tentu sjaa Mia snagat ingin tidur dan melepaskan lelahnya, tapi itu tadi sebelum ia menyadari seorang kutub utara berada satu ruangan dengannya apa lagi satu ranjang dna satu selimut, jelas itu adalah kutukan baginya.


Melihat Mia yang masih terpaku diam di tempatnya seperti orang yang kehilangan jiwanya Andra merasa kesal dan berjalan keluar dari kamar. Ia membangting pintu dengan begitu keras hingga suaranya memekikkan telinga Mia.

__ADS_1


Mia segerah runtuh di lantai ketika mendengar pintu kamarnya tertutup. Ia harus mengambil banyak nafas untuk kebaikan paru-paru dan pikirannya.


...


Sejak malam itu Andra sudah tidak penah lagi pulang ke rumah dan Mia menjalani harinya yang normal kembali kecuali ketika ia berada di kantor. Setiap hari mereka akan mendapatkan omelan dari Monika dan tidak ada yang terlihat baik dimatanya.


Karena akan diadakan pesta tahunan bagi seluruh karyawan maka hari ini mereka bertiga sangat sibuk melakukan persiapan untuk kelangsungan acara itu.


Mereka ditugaskan memindahkan barang yang di perlukan. Sekali lagi barang itu sangat berat dan juga banyak hingga mereka harus mengeluarkan ekstra tenaga untuk bisa memindahkan semuanya.


"Kalian istirahatlah sebentar, aku yang akan menyelesaikannya"


"Oh kacungku bagus sekali kalau begitu kami akan pergi mendapatkan beberapa cemilan" Keti segera menarik lengan Mia dan mereka berdua menghilang di balik dinding. "Ternyata memiliki kacung ada guannya juga, aku akan membuatnya menjadi kacung kita selamanya"


"Tidak perlu mengasihaninya ia sendiri yang mau melakukannya, lagi pula ia adalah lelaki jadi dia harus bisa menyelesaikannya"


"Yaa"


Ketika mereka kembali semua barang telah di pindahkan dan sudah ditata dengan rapi.


"Eh kacung, ni buat kamu" Keti menyodorkan minuman pada Deon.


"Trima kasih"

__ADS_1


"Ok, dan besok pestanya berlangsung, tapi kami tidak akan datang karena ada urusan mendadak jadi kamu yang akan menyampaikannya pada si Monika itu"


"Baik!"


"Huh, kau begitu bersemangat kalau gitu kami akan pulang duluan"


Malam harinya Mia duduk bersandar di ranjang membaca sebuah majalah ketika Asisten Min menelponnya.


"Halo"


"Nyonya ini saya asisten Min, besok pukul 7 saya akan menjemput Nyonya untuk acara makan malam"


"Baik"


Mia melemparkan HPnya dan kembali fokus pada majalahnya.


Mia sudah selesai melakukan persiapan dan duduk di ruang tamu menunggu asisten Min menjemputnya.


Setelah mobilnya datang ia kira hanya akan pergi sendirian dna akan bertemu Andra di tempat acara itu berlangsung namun begitu pintu mobil terbuka disana sudah ada kutub utara yang fokus pada laptopnya.


Mia hanya masuk dan duduk di samping Andra sambil melihat ke arah luar. Meski pemandangan sangat indah tapi ia tidak bisa fokus menikmatinya karena aura menakutkan di dalam mobil.


Sepanjang perjalanan ia gugup dan jantungnya bedetak kencang seperti tahanan yang sednag diculik dan disekap. Tapi nyatanya ia hanya berada dimobil bersama suaminya dan asisten suaminya.

__ADS_1


Jika ia harus mengalami penderitaan seperti ini setiap hari maka sebentar saja umurnya akan habis terpangkas oleh rasa takut dan gelisahnya.


__ADS_2