
Carri menagis sepanjang perjalanan. Supir taksi yang hanya bisa memberinya tissu lalu kembali fokus mengendara tanpa ingin bertanya.
Sesampainya di apartemen Carri langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat lalu berendam hingga ia bisa berhenti menangis.
Setelah memakai baju tidur ia kemudian mencoba menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban, ia semakin gusar lalu berusaha untuk tidur.
Namun beberapa menit ia hanya membolak balik badannya tanpa bisa memajamkan mata.
Ia akhirnya menyalakan TV dan menonton sampai tertidur.
Setelah Megan mengantar Agus ke kamar, ia menunggu sampai suaminya benar-benar tenang lalu keluar untuk menemui Carri.
Ketika tiba di pintu kamar itu, ia mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban. Akhirnya ia mencoba membuka pintu dan itu tidak dikunci.
Setelah masuk dan memeriksa semua ruang disana, tidak ada seorang pun hingga ia memeriksa lemari dan sudah tidak ada apa pun.
Merasa panik akhirnya ia mencoba menghubungi putrinya namun tidak ada jawaban.
Dengan penyesalan di hatinya ia kemudian berjalan ke kamar Sari, ia melihat Sari di balkon sedang menelpon, ketika hendak menyapa ia mendengar bahwa putrinya tengah berbicara dengan Gen.
Ia kemudian mengurungkan niatnya dan berllau meningalkan kamar itu.
Ia tidak berani mengatakan apa pun pada suaminya karena ia takut Agus bisa menjadi kaget dan jatuh sakit.
__ADS_1
Akhirnya malam itu Megan hanya berbaring tanpa bisa tertidur.
Keesokan paginya Megan terbangun lalu melakukan rutinitas paginya.
Ketika tiba sarapan semua sudah ada di ruang meja makan.
Sari tertunduk sepanjang waktu karena ia takut kalau ayahnya masih marah hingga ia hanya terdiam disana.
Ruangan itu lama hening, bahkan mereka belum menyentuh makanan sedikit pun.
Itu adalah kebiasaan keluarga itu, menunggu kepala keluarga lebih dulu memulai baru kemudian diurut berdasarkan usianya.
"Dimana Carri?
Agus dari tadi menunggu Carri hingga ia hanya diam saja, namun kemudian lama menunggu membuat ia merasa ada sesuatu yang aneh.
"Hmm"
Agus mengangguk mengerti lalu mulai sarapan.
Pagi hari di apartemen, Carri sedang bersiap untuk berangkat ketika ia menerima panggilan dari suaminya bahwa ia akan akan lebih lama berada di luar negri.
Mendengar kabar itu suasana hati Carri menjadi tidak bersemangat, hatinya menjadi gusar dan tanpa di undang air matanya telah berkumpul di kelopak matanya bersiap untuk meluncur membasahi pipi indah yang kini sedikit lebih pucat.
__ADS_1
"Sayang, kau baik-baik saja?
"hiks.... kau harus cepat pulang aku akan mati kalau kau lama-lama disana"
Cari menangis dan langsung jatuh duduk dilantai, ia sangat merindukan suaminya itu, ia ingin menceritakan semua yang telah ia alami, ia merasa semakin serak pada suaminya itu.
"Sayang, jangan menangis ok! Aku akan pulang nanti tapi kamu tidak boleh menangis"
Carri hanya diam tanpa bicara namun suara tangisannya masih tersengar pelan, ia menyeka air matanya dengan kasar lalu menenangkan hatinya dan bangkit berdiri menuju sofa untuk duduk.
"Pulang lah lebih cepat atau akau akan menyusulmu kesitu"
"Akan kuusahakan, tidak usah matikan telfonmu dan biarkan aku mendengar nafasmu. Rapatnya akan segera dimulai.
Akhirnya Carei mencari headset lalu memasangnya dan memastikan sekali lagi bahwa tidak ada lagi bekas air mata.
Selama perjalanan ia melihat ke luar jendela mobil dengan tenang sambil mendengarkan rapat yang berada di seberang telpon.
Ia jarang mendengar suaminya berbicara, kecuali ketika Geri mengiyakan atau sedikit meminta penjelasan.
Sesampainya ia di kelas Carri langsung disambut oleh senyum lebar Sarah.
Pelajaran dimulai namun ia tidak fokus ke sana ia hanya fokus pada suara dari seberang telpon, ia berharap sepanjang waktu Geri akan berbicara lagi.
__ADS_1
Setelah jam istirahat, panggilan itu belum juga berakhir, ia makan sambil mendengarkan rapat dari ujung telpon yang masih berlangsung, ia sedikit hawatir bahwa suaminya akan kelelahan.
Setelah mereka selesai makan siang rapat itu juga telah selesai, mereka mengobrol sebentar lalu mematikan sambungan selulernya.