Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 110


__ADS_3

Pada pagi harinya mereka bersiap untuk berangkat ke kantor, kantung mata mia telah ditaburi dengan bedak yang tebal hingga tidak terlalu buruk ketika di pandang.


Ketika tiba di lobi mereka berpapasan dnegan Andra yang turun dari mobil. Keti segera mengalihkan perhatian Mia dan lanjut masuk ke lift karyawan.


Deon sudah sampai lebih dulu dan ia melanjutkan pekerjaannya dengan serius. Ketika kedua orang itu tiba ia hanya berpaling sesaat dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Di tengah perkerjaan mereka Monika memanggil Mia untuk datang ke kantornya.


"Pembimbing, anda memanggil saya"


"Ya masuklah, aku tidak punya banyak waktu dan besok akan ada pertemuan perjalanan meninjau lokasi pembangunan proyek dan dari divisi kita akan mewakilkan 2 orang. Kau tahu kan kalau kita sangat sibuk belakangan ini lagi pula semua ornag sedang menyiapkan laporan yang diburu untuk minggu ini. Jadi aku akan memintamu mewakili divisi kita"


"Tapi saya hanya anak magang dan juga belum memiliki banyak pengalaman" Mia sebenarnya merasa bangga jika diberi tanggungjawab seperti itu tapi membayangkan kemungkinan akan ada suaminya ditempat itu membuat kengerian terlintas di benaknya.


.


"Kau tidak perlu melakukan apa pun karena Miranti akan menangani semuanya, kau hanya perlu menampakkan diri bahwa ada dua orang dari divisi kita yang hadir. Besok kau akan berangkat pukul 8 dan jangan terlambat, ini adalah nomor Miranti dan kau bisa menghubunginya nanti untuk menanyakan lebih detail"


"Baik Bu"


Mia keluar dari ruangan dan baru saja ia duduk di bangkunya jiwa kepo Keti sudah menyambutnya.


"Cepat ceritakan!!

__ADS_1


"Aku akan pergi mersama Bu Miranti untuk meninjau lokasi pembangunan proyek besok pagi"


"Huh? Anak magang bisa melakukannya?


"Katanya aku hanya perlu mengabsen dan yang lainnya akan diatasi oleh Bu Miranti"


"Diman lokasinya? Berapa hari?


"Aku belum tahu, aku baru akan menghubungi Bu Miranti nanti"


"Emm, aku bisa mencari tahu kalau kau mau" Mata Keti sesaat berbinar untuk mencoba kemampuannya tapi belum ia menyentuh keyboard komputernya tangan Mia sudah nyelonong tanpa permisi.


"Jangan membiasakan diri meretas disini kita bisa dibunuh jika ketahuan, lagi pula biar kita tahu kita tetap tidak bisa merubah apa pun"


"Kau benar"


Mia duduk di bangku depan mobil sambil memperhatikan jalanan sesekali berbincang bersama Miranti yang mengemudikan mobil.


Mereka membutuhkan 3 jam untuk tiba di lokasi peristirahatan. Saat tiba beberapa dari tim satu perusahaan pada divisi lain telah lebih dulu sampai dan bersiap untuk makan siang. Mia melirik sekeliling penuh waspada jika ada tanda-tanda keberadaan si kutub utara. Pada akhirnya ia menghembuskan nafasnya penuh kelegaan karena semuanya terlihat aman.


Mia bergabung bersama mereka dan duduk di antara para wanita yang memanggilnya. Makan siang di barengi dengan perkenalan singkat dan dilanjutkan pengarahan untuk kegiatan selanjutnya.


Mereka tiba di lokasi yang akan menjadi tempat proyek itu berlangsung, Mia mengamati lokasinya dan itu adalah lahan perkebunan kelapa sawit yang akan di rombak besar-besaran.

__ADS_1


Mereka berkeliling di lokasi mengamati keadaan dan posisi strategis serta kondisi lingkungan yang mungkin saja bisa dimasukkan ke laporan dan di perbaharui.


Mia hanya mengikuti dan melihat mereka sedang sibuk mendapatkan gambar dan menulis hasil pengamatannya. Pemandu yang disiapkan memberi penjelasan panjang lebar tanpa henti hingga mereka kelelahan dan hari sudah menjelang malam.


Mia dan Miranti memilih istirahat lebih dulu karena mereka telah lelah berjalan. Rombongan semakin jauh tapi Miranti masih sibuk memijat kakinya yang kelelahan.


Mia memperhatikan Miranda dan tahu bahwa wanita itu tidak terbiasa berjalan jauh, kakinya pasti terasa sakit.


"Biarkan aku membantumu, aku bisa memijit"


"Benarkah? Kakiku terasa snagat sakit dan sepertinya telapak kakiku juga mengalami bengkak"


Mia mendekat dan melepas sepatu Miranda "Ini pasti terasa sakit, aku akan mencari obat herbal dulu" Mia segera beranjak pergi meinggalkan Miranda dan menghilang diantara pepohonan.


Ketika ia melihat tanaman yang dikenalinya bisa membantu meredakan bengkak di kaki Miranda ia segera meraihnya dan kembali ke tempat ia meninggalkan Miranda.


"Aku mendapatkannya" mia menempelkan daunnya di kaki Miranda lalu memasang kembali sepatunya. "Apakah terasa lebih baik?


"Miranda merasa kagum karena mendapat patner kerja yang cerdas dan bisa diandalkan ia menatap Mia dengan rasa kagum "Jauh lebih baik"


"Kalau begitu kita hanya perlu menunggu sebentar dan melanjutkan perjalanan kita nanti"


Kebun itu sangat luas dan mereka berada di tengah-tengah kebun. Pohon sawit menjulang tinggi dan semak-semak sudah tumbuh tinggi karena kebunnya sudah lama tidak diperhatikan. Meski mereka berada dijalur mobil pengangkut tapi tetap saja mereka bisa tersesat jika malam datang.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Mia membanntu Miranti bangkit dan mereka berjalan perlahan. Karena langkah mereka yang lambat oleh rasa sakit di bagian kaki Miranda maka mereka terjebak gelapnya malam.


Mia menyalakan senter HPnya dan menerangi jalan mereka, ia sendiri sedikit takut jika ada binatang buas atau pun ular yang mereka temui, tapi dengan sigap ia meninggalkan pikiran buruknya dan terus berjalan menyusuri jalan di tengah kebun.


__ADS_2