
"Aku datang membawa bekal titipan Ibu" Mia tetap tertunduk dan hanya melihat sepatu pria itu yang sangat mengkilap.
"Masuklah" Andra berlalu melangkah ke arah pintu dan masuk lebih dulu ke ruangannya.
'Masuklah!'
'Masuklah!'
'Masuklah!'
Kemari dan hampiri kematianmu!
Itulah kepanjangan dari satu kata yang diucapkan Andra!
Dengan langkah kaki yang berat Mia berjalan perlahan masuk ke ruangan besar milik Andra. Ia sednag menghampiri kematiannya sendiri!
Ia tidak berani memperluas pandangannya dan hanya berdiri di tempatnya menunggu perintah sang empunya kerajaan memberi perintah.
"Kemari" Andra berkata penuh nada dingin.
__ADS_1
Maju atau berbalik! Dua kata itu mewakili pilihannya untuk tetap hidup atau mati!
Tentu saja pilihannya sangat jelas, ia ingin tetap hidup!
Mia cepat berbalik dan hendak membuka pintu tapi sialnya pintunya terlalu keras, itu terkunci!
Dengan wajah pucat dan tubuh yang kaku ia menatap gagang pintu di depannya.
Ia membuat pilihan yang benar di situasi yang salah! Seandainya dari tadi ia sudah pergi, maka masih ada waktu baginya! Sekarang nasi sudah menjadi bubur dan malaikat mautnya sudah mengayunkan tongkatnya!
Kematian berada di hadapannya sekarang!
"Mengapa kau masih di situ?" Andra berpura-pura tidak mengerti.
Mia berbalik perlahaan dan berjalan ke arah Andra dengan tubuh tengangnya. Kalau malam itu ia kalah kekuatan dengan Andra karena ia masih belum pulih dari sakitnya maka hari ini ia bisa membanting pria itu! Ia tidak akan menyerah dengan mudah dan membiarkan malaikat kematiannya menyelesaikan tugasnya terlalu cepat!
Lihat siapa yang akan kau jemput kali ini dasar malaikat maut sialan!
Mia meletakkan kotak bekalnya di atas meja dan membukanya perlahan.
__ADS_1
"Ini buatan Ibu" Mia berkata dengan berat.
"Baiklah, duduk sebentar dan tunggu aku menyelesaikan sarapanku" Andra meraih kotak bekalnya dan mulai makan.
Mia memilih duduk pada sofa paling jauh dari Andra dan tidak berani menatap langsung padanya.
Andra memperhatikan tingakah Mia dan tersenyum melihat bagaimana gadis itu tidak berani menatap langsung pada matanya.
Gadis itu merasa takut saat melihatnya dan akan merindukannya di malam hari!
Ia sengaja memperlambat laju makannya agar Mia bisa lebih lama berada di hadapannya. Ia sekarang ingin menghabiskan banyak waktu dengan gadis itu, tapi ia terlalau takut bahwa semuanya akan berakhir buruk bagi Mia hingga hanya akan menyisakan rasa sakit pada gadis itu.
Andra meletakkan kotak bekalnya di atas meja dan menatap Mia. Ia memiliki kesmpatan sekarang, paling tidak ia harus memberi tahu Mia kebenarannya sebelum ia menyesal di kemudian hari.
"Apa kau begitu takut padaku?" Suara andra sudah tidak sedingin biasanya.
Mia terkejut dengan nada suara Andra ia rasa telinganya telah sala posisi dan lubangnya mengarah ke belakang sehingga ia salah mendengar.
Ia tetap tunduk dan tak mau bicara, lagi pula ia hanya ingin cepat pergi dari sini tapi bagaimana ia bisa pergi kalau Andra masih belum menyuruhnya.
__ADS_1
Ia ketakutan saat ini, tapi ia juga tahu kalau ia kembali nanti rindunya akan semakin tumbuh besar pada pria itu. Meski hanya duduk seruangan dengan Andra Mia sudah merasa tengang, tapi begitu kembali dan pria itu tidak ada disisinya ia merasa kehilangan sesuatu.
Perasaannya itu sangat aneh. Ia takut dan juga rindu pada saat yang berlawanan.