
Keheningan panjang dalam ruangan itu seperti tak berujung, Mia gemetaran dalam selimut dan menangis dalam diamnya. Ia hanya ingin sendiri seperti sedia kala tanpa ada pengikat, tanpa orang lain, bahkan bila perlu kegelapan saja yang menemaninya.
Menit berlalu hingga jam akhirnya Mia merasa lega merasakan derap langkah menjauh darinya, sampai pintu berbunyi karena tertutup dengan sempurna.
Sudah satu minggu ia berada diruangan yang sama tanpa ada pengunjung, hanya para suster yang datang dan pergi melakukan tugas mereka.
Mia tidak memiliki akses keluar bahkan poselnya entah berada dimana, dan para perawat juga tidak pernah memberi akses baginya untuk keluar walau hanya selangkah dari pintu. Ia seperti diisolasi dari dunia luar.
Mia tidak pernah tersenyum apa lagi berbicara semenjak Andra pergi dari ruangan itu ia hanya terdiam dan sering kali menangis dengan kondisinya.
Dokter yang datang memeriksanya selalu membuat lelucon yang mungkin akan membuatnya ketawa jungkir balik di masa lalunya, tapi kini ia bahkan tidak ingin mendengar kata dari orang lain, ia bahkan hanya memandang kosong ke arah dokter yang berbicara. Ia seperti mayat hidup yang tidak berinteraksi, tidak merasakan apa pun bahkan kesedihan tidak pernah dilihat orang lain di wajahnya. Kosong dan hampa, hanya itu.
Ketika dirinya selesai dimandikan Mia menatap gaun indah di tubuhnya, gaun yang sangat indah, ini adalah pertama kalinya ia merasa kagum dan tertarik ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Meski ia terlihat lesu dan tak bersemangat tapi gaunnya, gaun itu sangat indah dengan warna biru lagit yang cerah lengkap bersama pola awan kecil dengan burung kecil yang manis terlihat sedang terbang.
__ADS_1
"Nona, ini adalah surat dalam kotaknya" pelayan itu menyerahkan sebuah surat kecil berwarna jingga.
"Aku menantikan waktu dimana aku bisa memukulmu dengan keras karena lelucon konyol dan bodoh darimu". (Carri)
Carri,, Carri sahabatnya, seketika air mata Mia meluncur deras dari tempat persembunyiannya, ia sudah lupa dengan semua sumber kebahagiaannya dan hanya berlaku pada satu titik. Titik yang membawa jiwanya pada tempat gelap hingga tersesat lebih dalam dan tak sanggup menemukan jalan keluarnya.
Ia melupakan satu hal lain yaitu sahabatnya, ia masih punya seorang sahabat yang selalu mengingatnya, ia masih harus memastikan sahabatnya tidak terluka jika ia menghilang, memastikan ia akan melihat ponakan kecilnya nanti.
Ia begitu egois hingga hanya memikirkan dirinya sendiri, meskipun dirinya ada di genggaman orang kejam yang dingin tapi ia masih memiliki seorang sahabat yang selalu setia menjadi penyemangatnya.
Mia meraih buket bunga raksasa itu dan kembali air matanya jatuh, sepucuk surat terselip di antara kuntum bunga yang indah.
"Ai, aku menemukan film lama yang sangat menegangkan, aku menunggumu" (Keti)
__ADS_1
Emosinya meluap dan kini ia bisa tersenyum sambil mengusap air matanya yang masih deras mengalir layaknya mata air yang tidak akan pernah kering. Ia duduk di sofa memeluk bunganya dan membenamkan wajah di buket bunga itu seolah ada kehangatan yang tersembunyi disana.
...
Remang-remang di ruangan kamarnya ketika ia bangun mendapati seorang gadis tertidur dibawah selimut yang sama dengannya. Gadis itu memeluk erat lengannya seperti anak kecil yang memeluk guling kesayangannya.
Mia merasakan nafas Keti berhembus teratur di lengannya. Dengan pelan ia membebaskan lengannya dari pelukan keti dan bangkit duduk memandang wajah Keti yang tidak terlalu jelas karena pencahayaan yang kurang.
Mia melepaskan helaian rambut yang menutupi wajah gadis cantik itu dan kemudian hanya duduk memandanginya berharap waktu berhenti hingga ia terus tidur dan lelap dalam mimpi ini.
Waktu berlulu cepat hingga Keti mengerjapkan matanya berulang kali dan merasakan tidak ada orang disebelahnya. Ia membuaka mata dan melihat Mia telah duduk sambil memandanginya.
Dengan perasaan bahagia Keti bangun melupakan kantuknya dan memeluk Mia "Ai, kau,, aku merindukanmu"
__ADS_1
Pelukan erat dan hangat dari saudaranya membuyarkan mimpinya "Ini,, i,, ini bukan mimpi" Mia membalas pelukan Keti.
...