
"Untunglah kalian datang, hiburlah ia, ia sudah mengurung diri di kamar selama 1 Minggu. Ia tidak mau menemui siapa pun dan selalu menyendiri. Ia bahkan tidak pernah berbicara, ia terus menangis sepanjang waktu" Merisa menjelaskna dengan penuh sabar. Ia tidak mau air matanya jatuh ketika menceritakan keadaan mennatunya itu.
"Kalau begitu aku akan memasak untuknya, ia sangat menyukai masakanku ketika kami masih bertetangga." Carri berkata sambil menoleh pada Geri.
Ia tahu kalau suaminya tidak akan setuju, tapi ia memberanikan diri sekali ini saja demi sahabatnya.
Geri tidak menyangkah kalau Carri akan menawarkan diri untuk memasak. Ia memperlakaukan istrinya dengan hati-hati dan tidak membiarkannya berdiri terlalu lama agar tidak kelelahan. Bahkan setiap langkah Carri membuat jantungnya berdebar kencang terlalu takut membayangkan ketika langkahnya akan goyah dan bisa membuatnya jatuh.
Sekarang istrinya itu ingin mengujinya didepan Merisa. Ia tidak bisa memberinya ijin! Sudah cukup ia memaksakan diri untuk memenuhi permintaan Carri datang menjenguk Mia di saat kondisi perut itsrinya semakin membesar. Sekarang ia juga harus mengijikan istrinya berdiri terlalu lama saat memasak? Lebih parahnya lagi Carri harus memegang pisau dapur dan bermain dengan kompor!
__ADS_1
Geri menggelengkan kepalnya tanda tak setuju. Ia tahu istrinya itu akan bersikeras dan tak mau diatur. Tapi ia juga akan mati jika Carri terluka sedikit saja. Ia tahu kalau sahabatnya membutuhkannya, tapi masih banyak cara lain yang bisa Carri lakukan tanpa harus membuat tubuhnya kelelahan bukan.
Merisa mengerti ketakutan Geri. Ia juga tidak mau terlalu membebani ibu hamil, ia sudah cukup puas bahwa Geri masih memberi ijin Carri untuk datang menghibur menantunya. Ia tidak berharap lebih lagi. "Kau tidak perlu memasak untuknya, cukup ajak dia berbicara, mungkin ia akan merasa lebih baik jika melihatmu disini"
Carri merasa tidka enak, karena suminya yang terlalu waspada ia menjadi tidak terlalu bebas. Berdiri 30 menit untuk memasak tidak akan membuatnya sampai kelelahan. Ia hanya sedang hamil bukannya menderita penyakit kronis.
Carri tidak punya pilihan lain, ia segera menjawab Merisa "Baik Bu, dimanakah dia?"
Mendengar lantai dua Geri segera meengerutkan keningnya. Dirumahnya saja ia tidak membiarkan ada satu pun anak tangga untuk semua jalan yang akan dilalui oleh Carri. Bagaiman bisa ia membiarkan istrinya itu memanjat puluhan anak tangga di rumah besar itu. Segera wajah Geri menjadi muram menatap anak tangga di samping dinding rumah.
__ADS_1
Carri yang menyadari tatapan muram suaminya segera tersenyum geli. "Aku tidak akn mati hanya karena beberapa ank tangga"
Merisa yang tidak menyadari tatapan Geri menjadi kaget dan melihat wajah Geri yang begitu muram sambil terus menghitung jumlah anak tangga di rumah itu.
Kalau saja Geri masih lajang ia kan menculiknya dan memberikannya pada Mia atau pun anak perempuannya yang tidak bisa diatur itu!
Carri tidak bisa menahan malunya lagi. Suaminya bahkan membuang waktunya untuk menghitung anak tangga di rumah orang lain hanya karena istrinya akan melewatinya. "Bu, maaafkan dia, aku sangat malu"
Merisa tertawa kecil dan mengoda Carri "Mintalah suamimu membantumu naik ke lantai atas, aku bahkan tidak ingin betanggung jawab kalau kau sampai terluka karena tangga dirumahku"
__ADS_1
Wajah Carri menjadi merah padam, ia sangat malu! Mengapa suaminya harus mempermalukannya di depan Merisa!