Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 219


__ADS_3

Sebuah pesan singkat dari Carri mengenai lokasi rumah sakitnya.


Mia tersenyum melihat pesan yang masuk. Ia segera menyimpan ponselnya dan tersenyum bahagia mengabaikan pria yang berdiri di sampingnya. Ia tidak mengetahui bahwa pesan dari Carri telah di baca oleh Wixel.


Waktu berlalu cepat ketika Mia sudah tiba di rumah sakit dan ia berjalan perlahan memasuki lobi rumah sakit.


Ia menekan tombol buka pada lift dan menunggu beberapa saat. Ia hanya sendirian di pintu lift itu, tapi ketika ia berjalan masuk seorang lelaki mengikutinya untuk masuk.


Mia terhentak kaget ketika ia menatap pria di sampingnya dengan kaget. Orang ini membuntutiku! Ia menekan nomor lantai denagn cepat dan berdiri mematung.


Melihat reaksi Mia yang sangat buruk membuat Wixel kembali bingung. Kebingungannya tidak terpancar keluar, ia hanya tersenyum hangat pada Mia "Kau akan mengunjungi siapa?" Wixel tersenyum bagai lelaki yang polos.

__ADS_1


Mia memalingkan wajahnya dan menatap keranjang buah yang ia beli di tengah perjalanannya. "Seorang sahabat"


Setelah percakapan singkat itu tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Mia mengambil langkah ke sudut lift dan bersandar di dinding. Ia merasa sedikit kesal ketika melihat ke arah tombol lift hanya mereka berdua di dalam lift dan tombol lantai yang tertekan hanya satu, hanya lantai yang Mia tuju. Apakah orang ini benar-benar membuntutinya? Resa kesalnya semkain dalam.


Matanya menatap orang yang berdiri di depannya sambil membelakanginya. Saat melihat pemandangan itu matanya memerah. Ia ingat pada suaminya yang sekarang tidak tahu dimana.


Pikirannya melayang dan terus menjelajah setiap kenangan mereka bersama. Meski semua kenangan itu menyakitkan ia masih setia untuk terus mengulanginya di memorinya.


Bagaimana pun ia mencari sumber masalah ia tidak bisa menemukan apa pun seolah semuanya tersembunyi di tempat yang tidak terjangkau


Ting!

__ADS_1


Mereka segera tiba di lantai tujuan. Wixel berjalan keluar lebih dulu tanpa menoleh ke belakang. Ia berjalan lurus menuju ujung koridor dimana pintu pasien bertuliskan nama Carri.


Mia yang mengikut di belakangnya memandang orang itu dengan tatapan mencibir. Entah mengapa tapi ia terlampau membenci Wixel bagaimana pun caranya!


Ia tidak bisa menahan emosinya setiap melihat tubuh Wixel. Ia selalu teringat pada suaminya dan tak bisa melepaskan diri dari rasa sedih yang selalu membelenggunya.


Beberapa hari terakhir ia lewati dengan perasaan berkecamuk. Ia berusaha bersikap tulus pada pria itu, tapi ia kemudian merasa bahwa itu tidak benar. Dengan berpura-pura tulus akan mengakibatkan masalah yang lebih lanjut dimana Wixel bisa menganggap itu sebagai sikap normal yang bisa membuat orang itu semakin ingin mendekat padanya.


Lagi pula perasaan Wixel ialah perasaan yang tidak bisa diterimahnya. Orang itu menginginkan tempat Andra dihatinya. Jadi bagaimana bisa ia bersikap baik padanya? Mata Mia menjadi suram ketika mengingat kejadian dimana Wixel mengatakan perasaannya tanpa rasa malu.


Saat melihat bahwa pria itu benar-benar memasuki ruang perawatan Carri, Mia tersentak kaget. Ia tidak bisa menahan rasa kecewanya dan matanya menjadi lebih gelap ketika ia menghentikan langkahnya dan berdiri mematung di tempat itu.

__ADS_1


.


__ADS_2