Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 167


__ADS_3

"Milik orang lain?"


Mia mendengus sedih "Ya, ini bukan bekal untukku, ini untuk si kutub utara yang..."


"Apa!!!!! Itu untuk Kutub Utara sialan itu? Hah! bagaimana kau akan memberikannya?" Keti merasa semua kekesalannya terangkat seketika mendengar Mia harus membawa bekal itu pada Kakaknya. Bagaimana jika hal buruk terjadi?


"Gampang saja, tinggal titip di asistennya dan selesai" Deon tersenyum bangga dengan idenya.


"Ide macam apa itu kacung!" Keti berteriak penuh kesal. Lelaki bodoh itu benar-benar terlalu bodoh!!


"Aku akan mengantarkannya sendiri, lagi pula akan berakibat buruk jika aku ketahuan hanya menitipnya saja" Mia berpasrah pada nasibnya. Lagi pula ada sedikit kerinduan untuk pria itu. Rindunya terselubung oleh rasa takut dan traumanya terhadap lelaki itu. Dihimpit oleh semua fakta mengerikan yang Mia ketahui hingga terlalu sulit untuk bangkit mendominasi hatinya.


Ia merasa tenang menjalani harinya tanpa harus memikirkan Andra, tapi setiap kali malam tiba ia akan ingat pada pria itu sesaat sebelum ia jatuh tidur. Ia tidak pernah jatuh cinta jadi sulit untuk membangun sebuah hal baru dalam hatinya. Terlebih dengan orang yang telah menyakitinya bekali-kali.


"Itu bukan ide yang bagus, tapi kami akan menunggu di mobil dan kau hanya perlu membuat panggilan telpon jika sesuatu terjadi" Keti meyakinkan Mia. Ia tahu Ainya itu sangat gugup dan terlebih ia memiliki trauma akan Si Kutub Utara. Ia sangat memahami ketakutan Mia, tapi ia tidak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


...


Mobil itu tiba di gedung tinggi yang menjulang ke cakrawala.


"Kami akan menunggumu disini" Keti memberi semangat pada Mia.


Mia mengangguk perlahan sebelum melangkahkan kakinya keluar dari mobil menuju lift. Setibanya ia di lantai paling tinggi gedung itu Mia menghela nafas dan merasakan mulas pada perutnya.


Sialan! Baru berada di depan ruagannya saja ia sudah mulas minta ampun. Apa ia kan pingsan kalau saja ia bertatap muka dengan suaminya sendiri? Atau ia akan terkena serangan jantung begitu bersentuhan dengan Si Kutub Utara?


Mia menepis pikirannya dan berjalan perlahan menuju meja asisten tapi tidak ada orang disana.


Ia hanya akan berdua bersama Andra! Ini adalah kematiannya sekarang!


Mia menatap pintu ruangan Andra dan nyalinya menciut seketika.

__ADS_1


Sedetik sampai menit dan Mia masih terpaku menatap pintu itu hingga akhirnya ia melangkahkan kakinya menjauh dari pintu.


Tidka bisa! Ia tidak mungkin mati semudah itu! Megapa ia harus menemui ajalnya ketika jalan untuk kembali masih terbuka lebar?


Satu langkah dua langkah dan satu meter ke dua meter ia semakin menjauh dari pintu besar itu. Beberapa meter lagi hinggah ia tiba pada pintu lift.


Hanya perlu melangkah tapi mengapa kakinya seperti terikat dan pintu yang ia tuju semakin menjauh?


Ini seperti berbalik dari neraka menuju surga, ia mngejar surganya yang kini semakin menjauh.


Malaikat maut, kali ini saja abaikan ia!


"Kau disini?" Suara berat seorang lelaki membuat hawa dingin disekitarnya semakin kelam seakan menelannya.


Sialan! Ia hanya ingin bebas, paling tidak hanya beberapa langkah lagi dan ia bisa pergi dengan tenang dari lantai mengerikan ini!

__ADS_1


Mia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan dengan hati-hati menjaga tatapannya tidak bertemu dengan seorang lelaki di depannya.


Malaikat yang baik, kali ini saja biarkan ia lolos dan ia tidak akan merepotkamu lagi!


__ADS_2