
"Keparat, kau pikir dirimu siapa? Mia segera membenturkan kepalanya dengan kekuatan penuh ke hidung Rendi hingga darah mengalir dari kedua lubang hidung itu. Rendi benci darah dan segera berdiri beranjak ke toilet. Seketika gairahnya telah hilang dibawah angin.
Semua orang hanya terdiam menikmati kejadian itu dan beberapa gadis bahkan mengeluarkan ponselnya merekam kejadian yang baru saja mereka saksikan.
Mia yang terbebas dari Rendi langsung berdiri dan beranjak menuju pintu dan melarikan diri.
"Sayang sekali pertunjukannya berakhir, apa kau kecewa honey? Kian bertanya pada gadis di pelukannya sambil mematuk hidungnya ke hidung gadis itu. "Aku merekamnya" Gadis itu tersenyum puas dan menunjukkan video yang dimaksudnya.
"Hapus itu" Suara Andra yang dingin dan mengintimidasi segera mengalihkan perhatian mereka.
"Ayolah Kak, ini hanyalah video untuk bersenag-senang" Kian memperhatikan ekspresi Andra dan tanpa membangkang ia menyuruh gadis yang sudah duduk di pangkuannya untuk menghapusnya.
...
Mia keluar dari ruangan tanpa peduli asisten Min yang ada di pintu menyambutnya dengan tatapan datarnya.
Penampilannya berantakan dengan gaun yang tak karuan menutupi tubuhnya. Ia memasuki lift yang kosong dan duduk di sudut memeluk lututnya sambil menangis meratapi nasibnya.
Seharusnya ia tak pernah berhubungan dengan manusia sialan itu, seharusnya tak pernah ada kejadian seperti ini dalam hidupnya. Penyesalan demi penyesalan menghantuinya sampai lift itu tiba di lantai dasar dan ia segera keluar dari lift dengan langkah berat menghetikan sebuah taksi.
__ADS_1
Ia tiba di rumah dengan mata sembap dan tak berhenti mengeluarkan air mata, hatinya sesak dan harga dirinya menghilang dari tempatnya.
Berendam air hangat adalah pilihan terbaiknya hingga ia merasa lebih baik dan tidur memeluk dirinya sendiri. Semua pintu di kunci dengan rapat untuk menghindar dari adanya kemungkinan lelaki sialan itu pulang ke rumah dan berakhir di kamarnya.
Hari ini ia telah dijadikan bahan lelucon dan ia hampir di perkosa di depan suaminya sendiri, tidak bukan suaminya bagaimana mungkin seorang suami membawanya menjadi mainan lelaki bejat dan hanya diam menikmati rintihan istrinya.
Mia tidak bisa menahan diri hingga ia terus menagis sampai lelah dan akhirnya jatuh dalam tidurnya.
Keesokan hari Mia tidak masuk bekerja dan beralasan sedang sakit, ia tidak mau menjadi pusat perhatian karena semua orang akan melihatnya dalam mata yang bengkak akibat menagis semalaman.
"Ai!!! Ada apa denganmu?
Keti yang mendengar Mia sedang sakit langsung datang mengunjunginya ketika ia pulang dari kantor.
Setelah menagis sebentar dan mereka duduk bersama di ruang tengah.
"Apa si kutub utara menyakitimu?
Mia sudah tidka mau berbicara dan hanya mengangguk untuk memberi jawaban.
__ADS_1
"Keparat itu, apa dia menyentuhmu?
Mia menggeleng dan menyeka air matanya yang terus keluar menodai pipinya.
"Lalu apa dia berkata kasar? Memukulmu? Mengancam atau,,"
"Di,, dia"
Mia memperhtaikan wajah Keti dna menarik nafasnya sebelum melanjutkan kata-katanya "Dia menipuku"
Keti mengerutkan keningnya merasa bingung dengan uacapan Mia. Menipu? Ia menipu Mia? Keti sungguh bingung dengan satu kata itu.
Bahkan jika kakaknya menipu Mia, untuk apa ia menipunya lebih tepatnya menipu seperti apa?
"Di, dia menipuku akan menghadiri makan malam namun mala yang terjadi ia melemparkan aku pada singa kelaparan dan hampir diperkosa. Ia bahkan hanya diam menikmatinya ketika keparat itu menyerangku"
Keti seperti kehilangan jiwanya mendengar perkataan Mia, bagaimana bisa kakaknya berbuat seperti itu. "A,, ap,,a ka, kau,,"
Keti tak mampu melanjutkan kata-katamya saat ini ia sangat marah dan juga merasa sedih. Keduanya bercampur aduk membuatnya memeluk Mia dan kembali menenagkannya.
__ADS_1
Mia mebikmati pelukan Keti dan merasa lebih baik, meski ia masih trauma ketika kejadian yang menimpanya kembali datang dalam pikirannya tapi kali ini ia merasa lebih baik dengan Keti ada disana bersamanya.
"Aku akan menginap disini malam ini, akan menyenangkan berendam bersama dan tidur bersama" Keti berusaha tersenyum dan menyakinkan Mia bahwa semua akan baik saja. Ia tau kalau Mia pasti kesulitan tidur kemarin malam, dan malam ini ia akan ada bersamanya.