Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 213


__ADS_3

Posisi mereka yang terlalu dekat juga memberinya peluang yang lebih besar.


Wajahnya menjadi merah ketika ia menyadari pikiran kotornya. Dengan menggelengkan kepalanya ia bergerak memindahkan lengan Keti dengan lembut.


Kemudian ia sedikit menjauhkan diri dari Keti dengan menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu pada kasur dan memperhatikan tubuh yang tertindih di bawahnya.


Meski pun Keti memiliki tubuh yang kurus, tapi ia bisa mengetahui bahwa tidak ada yang salah dengan ukuran dada Keti. Deon menggelengkan kepalanya ketika menyadari mata dan pikirannya kembali mengalihkannya dari apa yang seharusnya ia lakukan.


Kaki gadis itu masih melilit di pinggangnya. Dengan sedikit hati-hati ia mengangkatnya namun kemudian ekspresi Keti menjadi tidak baik. Keti mulai mengerutkan keningnya tanda ada sesuatu yang mengganggunya.


Deon menjauhkan tangannya dari kaki Keti dan kembali mengamati ekspresi gadis itu. Ia terlalu takut untuk menganggunya karena bisa menyebabkan kecanggungan yang besar ketika mereka bertemu lagi.


Tiba-tiba ponsel Deon yang diletakkan di atas meja samping tempat tidur bergetar disertai nada dering standar.

__ADS_1


Shittt! Deon mengumpat tanpa suara.


Deon hendak meraih ponsel itu ketika Keti kembali merasa terganggu dan semakin mengerutkan keningnya.


Belum sempat ia meraih ponsel yang bergetar itu dan ia sudah ditarik semakin mendekat ke arah gadis di bawahnya.


Ia bahkan tak di beri waktu untuk mempersiapkan diri, Keti telah menggigit lehernya tanpa berniat melepaskan gigitannya. Gadis konyol itu bahkan mengisap dan memainkannya bagai sebuah ice cream yang manis.


Sensasi tersengat listrik menjalar di seluruh penjuruh darahnya. Gigitan dan sentuhan keti di satu titik itu bagaikan saklar yang diaktifkan untuk membuat aliran menggelitik ke seluruh bagain tubuh yang terjangkau darahnya.


Keti yang dalam keadaan tidak sadar pun masih bisa merasakan sensasi aneh yang tak bisa di tolak tubuhnya.


Diluar pintu apartemen seorang wanita paruh baya yang berdiri menekan bel setelah panggilan telpon yang ia buat tidak pernah di hiraukan.

__ADS_1


Mia mengerutkan keningnya ketika ia mendengar bel pintu yang terus berbunyi. Siapa yang bertamu pada tengah malam seperti itu? Dengan malas ia meningalkan kasurnya dan beralih membuka pintu.


"Mencari siapa?" Mia keheranan melihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pembantu.


"Saya menerima panggilan untuk kemari Nyonya, dari Tuan Deon" Senyum ramah terukir di wajah yang sudah mulai keriput itu.


Mia menengok ke arah meja yang masih berantakan dan dengan kening mengerut ia memberikan beberapa lembar uang kertas sebagai tib bagi wanita itu dan menyuruhnya kembali saja. Tidak mungkin ia membiarkan wanita itu membereskan ruangan yang berantakan pada tengah malam seperti ini. Lagi pula apa yang ada di pikiran Deon hingga ia harus menelpon untuk menyuruh seorang pembantu datang pada tengah malam?


Kembali ke dalam kamar, Deon menatap dengan gairah ke arah Keti yang sudah setengah telanjang di depannya. Wanita itu terus mengerang dan mencengkaran jubah mandi yang dikenakan Deon.


Bel yang terus berbunyi diabaikannya dan lebih memilih menikmati wajah Keti yang terus mendesah meminta sesuatu yang yang tidak mungkin Deon berikan.


Dengan sedikit kesadarannya yang masih tersisa Deon melepaskan Keti yang terus melengket padanya. Ia memperbaiki posisi baju milik Keti dan berjalan meningalkan gadis itu dengan suasana hati yang bercampur aduk.

__ADS_1


Ia tidak peduli dengan suara-suara tidak jelas yang dibuat oleh gadis itu.


__ADS_2