Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 194


__ADS_3

"Ai, kau membuat sarapan?" Keti kaget melihat Mia bangun sngat pagi untuk membuat sarapan.


Mia melihat ke arah Keti dengan heran, Keti bangun sangat pagi "Aku juga kaget, kau bangun sangat pagi"


"Ya, aku mencarimu dan kau sudah tidak ada di sampingku" Keti duduk di meja sambil menatap kesibukan Mia. "Jadi mengapa kau bangun sangat awal untuk repot-repot membuat sarapan?"


"Kau butuh sarapan yang sehat, jadi aku memasak untuk kita" Mia menjawab tanpa melihat ke arah Keti.


"Aku menyukai kebiasaan lama kita" Ucap Keti.


"Kalu begitu kau bisa menyesuaikan diri dari sekarang" Mia menghidangakan hasil karyanya di depan Keti.


"Bukankah ini terlalu banyak?" Apakah Mia sedang berusaha membuatnya menjadi gemuk?


Mia berbalik meraih kotak makan dan mengisinya satu persatu.


Keti terperangah dengan apa yang dilakukan Mia.


Apakah Mia memiliki kebiasaan aneh setelah kepergian Andra? "Untuk apa kau membuat 3 buah kotak bekal, dan untuk apa pula yang di piring lain itu?"


"Kotak bekal ini untuk seseorang di lantai bawah. Ia adalah penggila kerja jadi dia pasti akan berangkat ke kantor walau pun dia sedang sakit. Satunya lagi untuk Asisten Min, dan yang terakhir untukku." Mia menutup kotak bekalnya dengan hati-hati.


"Yang di piring ini untuk sarapan orang di lantai bawah. Aku sudah berjanji akan mengunjunginya di pagi ini" Mia menjelaskan.

__ADS_1


Dia adalah penggila kerja? Mereka sudah berkenalan sampai tahap mana?


"Apa dia lelaki? Tampan? Apa pekerjaannya? Bagaimana kalian berkenalan? Berapa umurnya?" Keti bertanya dengan antusias.


Akhirnya sifat asli Keti muncul lagi. "Dia rekan bisnis. Kita satu lift kemarin sore. Tapi saat itu kau terlalu menyedihkan jadi kau tidak menyadarinya"


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu dan melihatnya juga, aku memiliki penglihatan yang baik!" Tentu saja ia tidak bisa membiarkan Mia pergi sendirian. Apa lagi menemui seorang lelaki yang belum lama di kenalnya.


"Baiklah" Mia menjawab singkat.


Mereka tiba di apartemen Wixel.


"Wah, dia bahkan memberimu kode aksesnya?" Keti terperangah melihat Mia dengan cekatan menekan tombol pintu besi itu.


"Kau tidak curinga?" Keti memperhatikan wajah Mia dengan seksama.


Ia tidak peecaya kalau seorang pria memberi kode akses rumahnya tanpa maksud lain pada seorang wanita yang baru dikenal.


Jahat atau baik?


"Curiga apa? Dia hanya sedang sakit!" Mia melangkah masuk ketika Keti menariknya kembali.


"Siapa yang tahu, aku sangat curiga pada orang asing itu" Keti menjadi lebih waspada.

__ADS_1


"Dia boleh melakukannya kalau ingin tulangnya retak" Mia menjawab dengan cepat dan meninggalkan Keti yang masih terpaku di pintu.


Hah! Keti melihat punggung Mia ia tidak percaya Mia jadi lebih terbuka pada orang lain setelah Andra pergi.


Gadis itu banyak berubah sekarang!


Keti melangkah ragu mengikuti Mia masuk ke dalam apartemen Wixel.


Tok... tok... tok...


Mia mengetuk pintu kamar Wixel.


Pintu itu teebuka otomatis. Disana Wixel masih berbaring diatas tempat tidur.


"Lukamu semakin parah, kau juga demam. Alu rasa kita benar-benar harus memanggil dokter" Mia meraih ponselnya.


"Jnagan. Aku akan baik-baik saja setelah minum obat" Wixel membantah Mia dengan cepat.


Lihat! Lihat bagaiman mereka. Pemandnagan ini terllau emngerikan.


Jelas saja Wixel sengaja menahan Mia. Siapa yang bisa mengobati orang sakit dengan baik selain dokter.


Ia ingin segera menarik Mia keluar, tapi ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalakan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2