
"Hahahahahha... kau sangat pandai dalam memilih barang, aku bahkan kaget melihatnya"
Meski semua orang kaget dengan tawa Kakek Bambang namun sesaat mereka kembali berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini adalah barang yang aku cari selama ini, tapi bahkan jika aku memliki uang barang ini masih susah di miliki tanpa sebuah koneksi yang kuat"
Serentak semua kerumunan melongo dengan penjelasan yang mereka dengar, bagaimana pun juga barang di tangan Kakek Bambang sangatlah sederhana dan terlihat biasa saja, bagaimana mungkin Kakek Bambang yang berkuasa susah untuk membelinya.
Mereka semua mengetahui bahwa Kakek Bambang menyukai mengoleksi patung, namun oatuang miliknya adalah patung langkah yang bahkan hanya bisa dimiliki oleh orang dengan uang dan kekuasaan yang tinggi.
Tapi darimana Carri mamiliki uang untuk membeli barang semahal itu? Ini pasti hanya tipuan murahannnya untuk mendapat perhatian dari Kakek Bambang.
Carri hanya bergantung pada suaminya dan tidak memiliki pekerjaan atau usaha untuk mendapatkan uang, tetap saja Sari lebih baik dari adiknya.
"Tapi jika ini dibeli oleh Carri maka cucuku ini pasti memiliki penghasilan yang tidak sedikit sampai memberi hadiah seperti ini ya kan? Hahahahaah aku sangat bangga dengan kamu Carri, kamu wanita yang mandiri"
"Terima Kasih Kek"
"Tapi Kek, Carri tidak mungkin menggunakan uangnya sendiri untuk membeli barang itu ia masih seorang pelajar saat ini"
__ADS_1
Sari sudah tidak dapat menahan emosinya karena telah dipermalukan oleh anak pungut itu dan lidahnya secara tidak sengaja mengeluarkan emosinya.
Ia bahkan merasa kaget karena berkata sembarangan di depan Kakek Bambang, tangannya dengan cepat menutup mulutnya ketika ia tersadar apa yang sedang ia bicarakan.
Semua orang memandang Sari dengan tatapan setuju karena mereka juga berpendapat sama, bahkan untuk berbohong didepan Kakek itu adalah suatu kesalahan besar.
Carri tidak ingin membongkar rahasianya di depan orang yang tidak tahu malu itu jadi ia hanya tersenyum pada Kakek dengan tatapan yang tulus.
"Hmmmm" Kakek merasa kecewa pada cucunya sendiri, ia adalah cucu kebanggaannya namun kali ini ia berbicara sembarangan hingga membuat adiknya sendiri berada dalam kondisi yang canggung.
"Kek, istriku tentu saja memiliki sumber penghasilannya sendiri, ia satu-satunya model dari A"
Mereka jelas mempercayai Geri karena fakta yang mendukung dan lagi pula Geri dikenal sebagai pengusaha yang jujur.
Setelah pemberian kado itu semua orang sudah kembali berbincang membentuk kelompok kecil dan mencari sendiri tempat yang baik untuk obrolan mereka.
Carri sedang makan bersama suaminya ketika Sari datang meminta Carri membantunya membawa minuman.
"Carri kalau kamu sudah selesai makan temui aku di dapur, para pelayan kewalahan dan kita tidak boleh mengecewakan tamu kita."
__ADS_1
"Oh iya sebentar lagi Kak"
Setelah makan Carri menuju dapur dan mendapati Sari sedang mengaduk minuman yang akan diberikan pada para tamu.
Semua pelayan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Sari adalah anak yang manja namun ia juga sedikit tauh masalah dapur karena mamanya selalu mengajaknya untuk memasak bersama ketika Sari sedang ada waktu luang.
"Carri, bawakan ini kepada para bibi di kebun belakang, sebagian ini akan kubawa ke samping rumah"
Sari tersenyum licik dan langsung berjalan membawa baki menjauh dari dapur, Carri masih diam disana dengan wajah yang pucat dan keringat dingin memenuhi seluruh tubuhnya.
Sari kembali ke dapur dan melihat Carri masih berdiri di depan meja seperti posisi saat dia meninggalkannya. Ia hanya berdiri dibalik dinding memperhatikan Carri, ia akan menikmati pemandangan ini.
Carri bergetar dan meraih baki itu namun ia tidak bisa mengangkatnya karena bakinya terlalu bergetar hingga gelasnya bisa jatuh jika ia memaksakan diri mengangkatnya.
"Carri, kau disini? Bawakanlah minuman pada para bibimu di kebun belakang"
Bibi Shifa datang menegur Carri hingga membuat Carri tambah bingung dengan wajah yang masih sangat pucat ia melihat ke arah Bibi Shifa.
__ADS_1