Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 224


__ADS_3

Carri menatap suaminya dengan mata penuh cinta ketika ia mendengar penjelasan Geri. Ia selalu tahu bahwa lelaki yang ia cintai itu selalu bersikap posesif karena takut bahwa ia menjadi terluka ketika sedang melakukan aktifitas.


Tapi dalam pikiran terdalamnya pun ia tidak pernah tahu bahwa suaminya yang ia kasihi itu selalu terbayang akan kejadian yang sudah belalu tahun yang lalu. Ia berpikir sikap suaminya hanya karena dirinya sedang mengandung sehingga menjadi begitu takut bahwa ia akan terluka.


Siapa sangka suaminya yang selalu digemari banyak orang ini memiliki ketakutan akan suatu kejadian kecil yang telah berlalu hingga membuatnya trauma.


Carri dengan lembut menggosokkan hidungnya dengan lembut ke hidung lelaki itu. Rasanya begitu menakjubkan ketika kulit mereka bertemu bergesek satu sama lain. Hatinya dipenuhi kehangatan bagai berada di taman bunga dengan sinar matajari pagi yang hangat.


Perasaan itu semakin dalam menancap sampai ke tulangnya ketika sosok bayi mungil di pangkuan Carri sudah tertidur begitu lelap.


Hal itu tak luput dari perhatian Geri ketika ia merasakan kebahagiaan mengalir di seluruh tubuhnya.


Geri melepaskan Carri dari pelukannya dan mendudukkan wanita itu disampingnya sambil beralih meraih bayi di gendongan Carri untuk dipindahkan ke keranjang bayi di ruangan itu.

__ADS_1


Saat ia berbalik menatap istrinya ia melihat Carri menatapnya dengan wajah yang polos. Wanita itu jelas teelihat sedang tersanjung dan memiliki cinta yang besar.


Geri tersenyum ketika ia mendekat meraih tengkuk istrinya dan mel*mat bibir merah itu dengan ganas.


Mungkin karena gairah yang sudah ia tahan sekian lama hingga tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Dengan telaten tangan Geri telah menyusup ke balik pakaian wanita itu. Tangannya hendak meraih harta karun yang tersembunyi ketika bunyi pintu yang terbuka membuat suasana menjadi canggung.


Mia yang menerobos masuk tanpa memperhatikan keadaan. Wajahnya segera memerah ketika melihat posisi sepasang suami istri itu.


Carri yang menyadari kecangungan segera mendorong suaminya dan melangkah maju memeluk Mia.


Ia terlampau bahagia ketika ia dengan cepat menarik Mia untuk duduk di sofa. "Kau akhirnya datang juga. Aku sudah terlalu lama menunggumu" Carri tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya ketika ia terus menempel di sisi Mia.

__ADS_1


Geri tidak melakukan apa pun kecuali duduk melihat tingkah istrinya ynag terlalu genit kepada Mia. Ia bisa merasakan kecemburuan memenuhi pikirannya melihat istrinya sangat intim pada perempuan. Di sisi lain ia masih harus menahan hasratnya yang tidak terlampiaskan karena sebuah gangguan yang tiba-tiba.


Di sisi lain Mia tidak bisa mengatakan apa pun. Wajahnya masih menyisikan sedikit rona merah karena kedatangannya yang tidak berada pada waktu yang tepat.


Ia tertunduk dan terus menerus menemukan sesuatu yang aneh yang ia alami. Tapi sebagaimana pun ia berpikir pikirannya seperti tidak mau membantunya.


"Mia, apa kau mendengarku?" Carri menatap sahabatnya ketika menyadari Mia terus diam sepanjang waktu sejak kedatangannya.


Akhirnya Mia tersadar juga setelah pertanyaan Carri. Ia menatap Carri dengan senyum mengembang di wajahnya "Selamat telah menjadi ibu"


Carri tersenyum puas sambil mengedipkan sebelah matanya "Kau juga, selamat telah menjadi seorang bibi. Aku tidak sangka kita menjadi tua dengan begitu cepat" tawa Carri memenuhi ruangan itu.


Mia tidak bisa menahan kebahagiaan yang seketika menjalar di hati dan seluruh nadinya ketika ia melihat ke arah keranjang bayi "Apa ponakan kecilku ada disana?"

__ADS_1


Carri semakin mengembangkan senyumnya ketika ia menarik Mia bangkit berdiri dan berjalan ke arah keranjang bayi "Lihat, dia baru saja tertidur"


"Dia sangat tampan" Mia bergumam sambil menahan perasaan ingin menyentuh bayi mungil itu. Ia terlalu takut akan membangunkannya nanti.


__ADS_2