
Setelah acara belanja mereka seharian, akhirnya Mia bisa terbebas dari Tom and Jerry. Ia menikmati me timenya sambil berendam menikmati wangi aroma terapi pada sabun yang ia gunakan. Sejak ia menikah dan tinggal di rumah mewah dengan fasilitas lengkap ia memiliki hobby baru, berendam sambil menjelajahi internet.
Kalau dulu setiap waktu luangnya akan ia gunakan untuk mencari uang, maka sekarang ia lebih santai tidak memikirkan biaya hidup. Ia bukannya menikmati dengan cuma-cuma semua kemewahan yang ia dapat dari pernikahannya, tapi ia selalu mencatat segala uang yang masuk ke rekeningnya dan berniat mengembalikannya nanti.
Meski sekarang mereka telah menikah dan kewajiban seornag suami untuk menafkahinya tapi ia tidak berhak menerimanya karena ia juga tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seornag istri. Apa lagi memikirkan suati saat Andra akan meningalkannya maka ia perlu mempersiapkan diri hingga ketika Andra meningalkannya maka ia sudah cukup secara materi dan mental untuk melanjutkan hidupnya.
Pernikahan mereka memang rumit, tidak boleh bercerai, tapi bukan berarti Mia akan menghalangi kebahagiaan Andra untuk bersama wanita pujaannya, ia lebih memilih mengorbankan hati dan raganya dari pada harus mengekang orang yang jelas tidak menginginkannya.
__ADS_1
Setelah melamun beberapa saat ponselnya berdering dengan nama pemanggil Keti Sayang. Mia tersenyum bahagia mengangkat telponnya.
Belum sempat ia menyapa lebih dulu Keti sudah berteriak dari ujung telpon "Ai,,!!! Kau pasti sedang berendam dan memikirkan si kutub utara sialan itu. Persetan dengan lelaki itu, biarkan ia kembali bersama nenek moyangnya dan jangan lagi ada didunia ini, kau tahu aku ingin mencabik-cabik dia dan menyiksanya dibawah kakiku sampai ia bersujud minta ampun lalu aku akan dengan senang hati mengirimnya keneraka!!!! Nafas ngos-ngosan Keti tersengar jelas di telinga Mia, gadis itu terlalu cepat berbicara dan memilih meninggikan suaranya hingga ia kehabisan nafas. Paling bodoh lagi ia membiarkan paru-parunya tersiksa hanya untuk mengutuki si kutub utara, apa pentingnya coba.
Mia menghela nafas dan berkata dengan lembut "Apa lagi kali ini Ei?
"Huh, biarkan aku menenangkan diri dulu, ruangan disini kurang oksigen" Keti menghirup nafas dalam-dalam dan menenangkan diri kemudian melanjutkan bicaranya "Aku baru saja meretas komputer Rin dan menemukan berita baru yang mengemparkan, aku rasa internet akan kembali heboh beberapa hari lagi, bagaimana ini Ai? Keti mengerutkan keningnya sambil berpikir dengan keras.
__ADS_1
"Ohahaha,, baiklah jadi,, Asistem Min menghubungi Rin supaya Nari segera menyelesaikan rekamannya karena setelah itu Nari akan berkolaborasi dengan artis internasional yang terkenal itu, Kevin Mengloin, kau tahu Kevin selalu berhasil dalam setiap karyanya, dna sangat suka berkolaborasi dengan artis pendatang baru untuk membantu mereka meningkatkan popularitasnya, jadi kalau Nari berkerjasama dengannya maka Nari akan cepat mendapat popularitasnya, kalau sampai terjadi maka,,,"
Mia memijit pelipisnya, ia sudah tahu arah pembicaraan Keti "Tidak usah pedulikan mereka Ei, kau hanya membuang-buang waktu untuk hal tidak penting, lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya supaya kita mendapat tiket film milik Henry Rostart, aku sudah lama memikirkannya, kau tahu kan sebentar lagi tayangan perdana filmnya dan peminatnya amat banyak, bagaimana kalau kita tidak mendapat tiketnya" Mia berkata dengan lesu karena ia benar-benar mengagumi Tuan Henry, seorang sutradara terkenal dengan karyanya yang selalu menggemparkan dunia hiburan.
Keti merasa kaget, ia pikir Mia akan meresponnya kali ini dan paling tidak mereka membuat sedikit kekacauan pada rencana Andra sebagai balas dendam mereka pada si kutub utara sialan itu. Tapi nyatanya ia memiliki seorang saudara yang terlalu pemaaf, apa lagi yang bisa ia katakan jika Mia sendiri sudah membiarkannya.
"Oh,oh, baiklah, kita lupakan saja kedua orang itu, dan percayakan masalah tiketnya padaku" Keti berbicara dengan bangga, ia memiliki kemampuan diatas rata-rata jika hanya menyangkut hal sepele seperti itu.
__ADS_1
Mia tersenyum bahagia, ia memiliki orang yang selalu bisa diandalkan "Baiklah, aku mengandalkanmu"
"Tentu Ai"