Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 182


__ADS_3

Mia mengerutu dalam hati. Riasan yang ia kerjakan selama 1 jam rusak dalam sekejap.


Air matanya tidak mau bekerja sama. Seharusnya orang bisa menangis tanpa mengeluarkan air mata agar tidak ada kejadian riasan menjadi rusak atau orang lain tahu kalau ada yang menangis.


Mia menghapus riasannya sambil terus menangis ketika suara ketukan pintu terdengar dari luar.


Ia menghentikan pekerjaannya dan


memandangi wajahnya yang sudah berantakan karena sebagian sudah terlihat pucat tanpa riasan dan sebagian lainnya terlihat cerah oleh karena riasan yang belum terhapus.


Mia berjalan perlahan mendekati pintu dan mengetuknya kembali sebelum berbalik menyalakan musik dengan suara keras.


"Ini yang terkahir!" Mia menguatkan dirinya sendiri dan menangis dengan keras. Entah sudah berapa kali ia mengatakan janji itu dan kemudian mengingkarinya lalu mengulangnya lagi.


Tangisan yang menyedihkan itu tenggelam pada alunan musik yang keras.


...


Setelah 3 kali ketukan mereka mendengar balasan dari dalam. Hanya ketukan pintu dengan irama yang sama dengan ketukan Geri.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja" Carri bergumam perlahan.


Sesaat kemudian terdengar suara musik yang keras. Mereka ada diluar ruangan tapi musiknya masih terdengar memekikkan telinga. Bagimana dengan orang yang ada didalam kamar?


Carri berbalik menatap Geri. "Bagaimana ini?"


Geri mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi nomor Mia, tapi nomornya juga tidak aktif. "Sepertinya kita tidak beruntung. Ayo pulang"


Pulang? Begitu sulit untuk keluar dari rumah karena memiliki suami posesif. Sekarang begitu ia keluar suaminya ikut mengawasi dan tidak memberinya kebebasan. Lebih lagi ia hanya berada di luar rumah selama 1 jam dan ia sudah harus pulang? Tidak mungkin!


"Aku rasa kita masih harus menunggu sebentar. Aku hanya takut Mia kenapa-napa" Carri memelas pada suaminya.


Carri tidak berani membantah ketika suaminya sudah menunjukkan ekspresi pamungkasnya. "Baiklah" Ia masih bisa membujuk Geri ketika mereka ada di rumah.


Geri mengangkat istrinya itu kembali ke lantai bawah dan mendudukkannya di sofa. "Tunggu sebentar, aku akan berpamitan lebih dulu"


Carri hanya mendebgus kesal. Bagiamana bisa ia pulang dengan tenang ketika Mia tinggal di rumah dalam keadaan kacau. Sahabatnya itu, apakah ia akan baik-baik saja nanti?


"Carri, tidak usah terlalu di pikirkan. Kami selalu menjaganya disini. Mungkin Mia masih butuh waktu lebih. Ia akan keluar jika hatinya sudah lebih tenang" Merisa menguatkan Carri. Ia tahu apa yang dirasakan gadis itu, ia seharusnya tidak merepotkannya, apa lagi Carri sementara mengandung anak pertamanya.

__ADS_1


Carri segera menjawab "Maafkan kami Bu, tapi kalau ada perubahan, bisa kau menghubungiku segera?"


"Tentu saja, janvan teellau memikirkannya dan jaga ponakan ibu dengan baik. Kau mengerti?" Merisa mengelus perut buncit milik Carri. Entah kapan ia akan mendapatkan hadiah cucu dari anaknya.


Ibu, Carri terharu bahagia "Baik Bu, maafkan kami sudah merepotkanmu"


"Aku bilang tidak masalah. Pulanglah sekarang" Merisa mengantar pasangan itu ke luar.


Geri hanya mengikut di belakang dan dengan sigap membantu Carri masuk ke mobil.


"Jangan terlalu di pikirkan" Sekali lagi Merisa mengingatkan Carri.


 


Readers yang baik, jangan lupa mengetuk tombol 👍 dan memberi vote ⭐⭐⭐⭐⭐.


Saran dan kritik yang di tingalkan pada kolom komentar akan sangat membantu author dalam menyempurnakan cerita di penulisan berikutnya.


 

__ADS_1


__ADS_2