
"Tuan ada apa?" Penjaga paruh baya itu menjadi panik ketika Andra akan memakai baju yang biasa dia pakai saat akan menyelinap keluar.
Wixel sedang berada di kota G, dan kemungkinan terbesar ialah orang itu akan berada disini. Tapi kepanikannya ialah Andra akan menyelinap keluar!
"Kita akan meninggalkan tempat ini! Hubungi markas dan persiapkan penangkapan untuk Wixel di tempat ini!" Andra memakai sarung tangannya dan berjalan ke luar.
Sementara penjaga yang mengalami serangan panik itu tercengang tidak bisa mencerna kata-kata Andra dengan baik.
Apa ini? Bukankah ia bilang mereka kan keluar 5 bulan lagi?
Penjaga itu benar-benar membutuhkan waktu yang lama sebelum menghubungi markas dan melaporkan situasinya.
Andra menyamar menjadi pengawal ketika mereka keluar dari gedung besar itu.
Mereka kemudian berpisah.
Saat itu, Mia sedang dalam perjalanan pulang ke apartemennya, namun kemudian sebuah notifikasi melayang di pojok atas ponselnya muncul 'pesan dari AM'
Mia mengerutkan keningnya saat ia membuka pesna utu dengan cepat.
__ADS_1
"Mari bertemu"
Beberapa saat Mia tertegun sebelum menarikan jarinya pada layar ponselnya dan menyuruh Asisten Min berputar balik.
Mereka tiba di sebuah restoran besar. Saat itu sudha hampir menjelang malam sehingga ornga-ornga muali menyalakan lampu toko.
Lampu kecil yang digunakan sebagai hiasan depan restoran terlihat romantis saat Mia menjejakkan kakinya memasuki restoran itu.
Mia berjalan di atas karpet merah yang telah ditaburi kolopak bunga mawar merah. Restorannya seperti biasa, ramai. Tapi kemudian Mia memperhatikan kelopak bunga mawar itu baru saja di tabur di atas karpetnya. Mia disambut seoranh pelayan yang langsung mengantarnya ke arah ruangan VVIP.
Asisten Min merasa resah ketika melihat Nyonyanya berjalan tanpa perlindungan. Namun ketika ia hendak mengikuti, seorang pelayan menghentikannya dan menyuruhnya menunggu.
Mia berhenti di depan pintu yang ditunjukkan sang pelayan. Sebentar ia menarik nafas sebelum meraih gagang pintunya. Tentunya ia banyak berpikir sebelum memutuskan berada di sini.
Ia mempercayai AM adalah orang yang baik yang sedang membantunya. Jika itu pun orang yang memiliki niat buruk, maka ia sudah siap menggunakan skillnya untuk meremukkan tulang orang itu.
Saat pintu terbuka, seorang pria sedang duduk membelakanginya. Pria itu mengenakan jaket hitam dan meletakkan topinya di atas meja makan.
Tubuh pria itu terlihat kurus dan kulitnya begitu pucat hingga ia bisa melihat urat-uratnya.
__ADS_1
Sebelum Mia bisa berhenti memperhatikan orang itu, Pria berambut pendek itu sudah berbalik memandang ke arahnya.
Seperti di hipnotis, tubuh Mia terkunci dan tak bisa bergerak sama sekali.
Tatapannya terkunci pada pria yang sudah berdiri dan berjalan ke arahnya. Sebuah pelukan hangat terasa ketika Andra memeluknya dengan erat. "Apa kau menunggu lama?"
Mia ternganga dalam pelukan Andra ketika tubuh tegangnya sudah beradaptasi dengan pelukan pria itu dan menjadi rileks.
Detik berikutnya Mia sudah menagis dalam pelukan pria itu sambil memukul punggung Andra.
"Maaf" Andra mengencangkan pelukannya ketika pintu di dobrak dengan paksa.
Andra dan Mia segera berbalik kaget mendapati Asisten Min mengarahkan senjata pada mereka.
Namun belum sempat Mia berkedip dan pintu itu sudah kembali tertutup.
Sialan!!! Sial!!!! Apa itu tuannya?
Asisten Min jatuh di lantai dalam pandangan aneh semua anak buahnya.
__ADS_1