
Mia kembali dari kantor ketika sebuah kecelakaan tepat terjadi di depan mobil mereka.
"Nona, saya akan memeriksa" Asisten Min bergegas keluar melihat kecelakaan itu.
Wixel membuka pintu mobilnya dengan perlahan keluar dari mobil yang sudah mengeluarkan asap.
Supirnya segera beranjak membantunya ketika Asisten Min juga tiba.
Mia melihat dari dalam mobil, ia terkejut dan langsung menghampiri mereka. "Pindahkan ke mobil"
Wixel berjalan di bantu oleh Asisten Min dan supirnya untuk masuk ke mobil Mia.
Asisten Min segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.
"Pulang" Suara pelan Wixel terdengar.
"Tuan, anda harus memeriksakan diri ke rumah sakit lebih dulu" Mia membantah Wixel dengan cepat.
"Tidak. Saya akan pulang saja" Wixel bersikeras.
Pada akhirnya mereka kembali ke apartemen.
Asisten Min membantu Wixel keluar dari mobil. Mia berjalan di depan menekan tombol lift.
__ADS_1
"Mia" Keti berseru ketika melihat Mia telah tiba.
"Ei, kau disini? Ia terkejut ketika Keti langsung memeluknya.
"Aku hanya merindukanmu" Keti berkata sambil terus mengeratkan pelukannya.
Mia merasa bingung dan menatap ke arah Deon. Apa yang terjadi?
Deon langsung mengerti kode Mia. "Nona merasa kau mengacuhkannya, jadi aku hanya berusaha..."
Ting!
Pintu lift terbuka.
Lift berhenti di lantai 27.
"Tuan Wixel, sepertinya saya tidak bisa mengantar anda" Mia berkata penuh rasa bersalah.
"Tidak apa, terima kasih"Wixel menjawab dengan nada lemas menahan rasa sakitnya.
Mereka bertiga tiba di apartemen Mia.
"Ai?" Keti bersuara pelan.
__ADS_1
Mia merasa gemas pada Keti. Ada apa dengan gadis konyol ini. "Kau kenapa?"
"Aku mau minta maaf, itu... aku rasa aku sudah berbuat salah" Keti memandang Mia mengeluarkan kata-katnya dengan sedikit keraguan dan ketakutan. Matanya memerah dipenuhi emosi.
"Apa yang membuatmu merasa bersalah?" Mia tidak bisa tahan melihat wajah Keti yang tampak aneh.
"Aku sudah berbuat salah." Keti mulai menangis membuat Mia panik.
Deon berlari ke dapur mendapatkan air putih.
"Hei, sudah aku tidak menghindarimu, aku hanya terlalu sibuk belakangan ini. Aku malah berencana mengajakmu tinggal bersamaku setelah aku membersihkan kamar atas" Mia membujuk Keti yang sudah terisak di pelukannya.
"Tapi aku sudah gagal jadi saudaramu Ai. Aku... a... aku sudah berusaha menghilangkan hal paling berharga di hidupmu. Aku tidak pantas... ini... ini bukan perilaku hang baik." Keti melepaskan pelukannya dan hendak menjauhi Mia.
"Apa yang kau katakan?" Dengan kekuatannya Mia berhasil menahan Keti dan memaksanya untuk menatap ke matanya.
Beberapa hari ini ia terlalu hingga ia lupa kalau Keti dalam kondisi pikiran yang buruk.
"A... aku tidak pantas, ini..." Keti tergagap sudah tak mampu menahan perasaannya. Rasa bersalah mendorongnya berpikiran buruk.
"Tidak apa. Kau tahu, siapa yang paling berharga bagiku saat ini? Itu kau, kalau kau meninggalkanku lagi, lalu bagaimana aku akan menjalani hidupku? Jangan berpikiran macam-macam dan tetaplah di sisiku oke!" Mia kembali memeluk Keti.
"Maafkan aku Ai" Suara parau Keti.
__ADS_1
"Sudah kubilang kalau tidak ada yang perlu di maafkan. Tidak ada yang bersalah, kalau pun ada akulah yang bersalah sudah mengacuhkanmu. Maafkan aku ok?" Mia menepuk pelan punggung Keti memberi kekuatan pada gadis lemah itu.