
"Wajahmu memerah" Keti tertawa dengan keras melihat Deon dengan wajah memerah karena alkohol. Ini kali pertamanya ia melihat seorang lelaki dengan wajah memerah.
Ia memukul lengan pria itu sebanyak dua kali. Tapi karena menyadari bahwa lengan yang ia pukul itu memiliki otot yang indah ia meletakkan tangannya disana sedikit lebih lama sambil melakukan gerakan kecil merasakan otot pria itu.
Deon dalam keadaan mabuk dan menepis lengan Keti "Singkirkan tanganmu! Itu membuatku merasa semakin panas"
Hentakan yang diberikan Deon terlalu keras sehingga membuatnya mengeluh dengan keras "Kau laki-laki yang kasar!" Ia memegangi tangannya yang terasa pilu dan bangkit berdiri sambil terus menatap Deon dengan kekesalan.
Karena sudah terlalu banyak minum ia merasa pusing sehingga keseimbangannya tidak terjaga dengan baik dan ia malah tersungkur ke depan menimpah tubuh berotort milik Deon.
Merasakan tubuh yang berat menindihnya Deon mengerutkan kening dan dengan wajah memerah ia menurunkan pandangannya melihat wajah mugil memerah Keti dengan mata yang sayu.
Hasrat ingin menyingkirkan benda merepotkan yang menindihnya seketika menghilang. Perasaan lain mala menyusup kedalam hatinya membuat sebuah perasaan berkecamuk yang merepotkan.
__ADS_1
Keti segera memperbaiki posisinya dengan cepat. "Kenapa kau duduk disitu? Tidak tahuka kalau aku akan jatuh ke arah ini?" Keti berbicara dengan suara yang tidak jelas.
Deon tidak memiliki reaksi, ia hanya menatap gadis yang sudah berjongkok di bawah kakinya sambil memandangnya dengan tatapan tidak suka. Wajah memerah Keti membuatnya terlihat mengoda dan enak.
Tubuhnya sudah menegang sejak ia melihat wajah gadis itu, tapi ia masih setengah sadar hingga ia masih bisa mengontrol dirinya dengan lebih baik untuk menghindarkan diri dari gadis di depannya.
Ketika ia hendak berdiri untuk menjauh, Keti malah bangkit dan duduk di pangkuan Deon. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi hingga ia tidak bisa bergerak dan malah membiarkan gadis itu melakukan apa pun yang ia sukai.
Keti tertawa terbahak-bahak sampai ia menjadi lebih pusing dan merasa mual. Ia menutup mulutnya dengan tangan ketika ia sudah tidak bisa menahan mualnya.
Deon mengerutkan keningnya. Gadis ini akan muntah!
Ketika ia hendak melepaskan Keti dari pangkuannya, semua sudah terlambat. Gadis itu sudah muntah tepat di dadanya. Lebih parahnya lagi bahwa gadis itu langsung tidur di atas muntahannya sendiri dengan posisi bersandar ke dada bidang Deon.
__ADS_1
Deon mengerutkan keningnya ketika ia berjalan tidak punya pilihan selain membawa gadis itu kembali ke kamarnya.
Ia masih pusing karena pengaruh alkohol hingga ia merasakan lantainya sedikit bergoyang.
Dengan berpegangan ke dinding ia berjalan ke kamar dengan perlahan.
Setelah membaringkan Keti di atas kasur ia berjalan ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air panas.
Dibawah guyuran air Deon merasa lebih baik meski pikirannya terus melayang mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
Wajah merah Keti terus menghantuinya terputar di memori ingatannya. Ia tidak pernah seperti ini terhadap seseorang dan selalu bekerja dengan hati-hati tanpa ada cacat sama sekali.
Dengan perasaan kesal pada dirinya sendiri, Deon menaikkan suhu air yang ia gunakan hingga sesasi terbakar dapat ia rasakan pada kulitnya. Panas dari dalam tubuhnya karena alkohol semakin membuatnya memejamkan mata dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak memikirkan hal konyol lagi.
__ADS_1