Tatapan Manis Untuk CEO Milikku

Tatapan Manis Untuk CEO Milikku
BAB 180


__ADS_3

Merisa meningalkan pasangan itu dan berlalu menuju dapur untuk membuat makanan bagi Mia.


Carri memandang Merisa dengan sedih, ia seharusnya bisa memasak bersama Merisa, paling tidak ia bisa membantunya dengan hal-hal kecil seperti menyiapkan piring.


Kerinduan akan kebersamaannya dengan ibu kandungnya ketika mereka memasak bersama membuatnya merontah ingin mengikuti Merisa.


Tapi suaminya yang posesif akan gila jika Carri masih mengotot juga membantu Merisa. Ia menelan ludahnya dan menoleh kembali pada suaminya. "Ayo" Carri berdiri berjalan menuju tangga. Ia hendak melangkahkan kakinya ketika tubuhnya sudah melayang di udara.


Geri membopong Carri menaiki satu persatu anak tangga hingga mereka tiba di lantai atas.


"Huh, kau sungguh tak perlu melakukannya" Carri menggerutu kesal karena ulah konyol Geri. Bagaimana kalau ada yang melihatnya?


Geri hanya tersenyum sambil mencuri sebuah ciuman di sela-sela langkahnya menyusuri lorong ke arah pintu kamar Mia.


Carri menggertakkan giginya, kalau saja ia tidka sedang mengandung seorang bayi kecil yang mugil, bayi yang lucu dan imut anak mereka, ia akan memaki suami posesifnya itu.


Ia sudah cukup tegang ketika Geri menggendongnya melewati tangga yang panjang. Tapi kali ini Geri benar-benar berniat memhentikan detak jantungnya!

__ADS_1


"Jangan lakukan itu!" Carri mencubit dada bidang Geri dengan lembut. Meski pun ia sangat kesal dengan Geri tapi ia masih terlalu takut membuat memar pada kulit Geri.


Ia terlalu sedih setiap kali melihat suaminya terluka meskipun hanya luka kecil. Tapi tentu saja ia tidak bisa menjadi posesif pada Geri seperti yang dilakukan suaminya itu.


Ia sudah cukup kesal dengan tingkah posesif suaminya, apa lagi jika membayangkan Geri yang akan di perlakukan seperti dirinya. Suaminya itu akan lebih senang dan akan sering membuatnya kerepotan.


Terlebih lagi Suaminya sering bermanja-manja ketika sedang terluka karena perbuatan Carri. Hingga sangat merepotkan untuk menangani sifat kekanakan Geri jika ia memancingnya keluar.


Suaminya akan selalu memiliki beribu alasan untuk menjadikan lukanya sebagai bahan meluluhkan hati Carri agar mendapat keinginannya.


Geri tersenyum menggoda Carri. Ia menyukai cara istrinya marah tanpa sebuah suara besar yang mengganggu telinga. Lagi pula kenapa kalau ada yang melihat mereka. Semua orang tahu mereka suami istri.


Ciuman itu berakhir ketika mereka melihat Keti datang dari ujung lorong dengan tatapan kaget.


Rona wajah Carri langsung berubah merah karena hawa panas dari dalam tubuhnya yang meningkat seketika.


Ia ingin memaki tapi tidak bisa.

__ADS_1


"Turunkan aku!" Carri memaki Geri dengan suara yang di tekan. Ini bukanlah perilaku yang pantas! Bagaimana ia akan menghadapi Keti ketika mereka bertemu lagi. Terlebih Keti sangat menyukainya. Mungkinkah gadis polos itu akan kecewa karena melihat adegan barusan?


Sebuah cubitan keras tertancap sempurna di dada Geri.


Geri hanya diam dan melanjutkan kembali langkahnya ketika ia melihat Keti telah berbalik dengan tingkah konyolnya memukul kepalanya sendiri sambil melangkah terseok-seok seperti orang mabuk.


Carri baru berbafas lega ketika Geri menurunkannya di pintu kamar Mia.


Sebelum mengarahkan tangannya untuk mengetok pintu kayu itu Carri masih menoleh memberi tatapan peringatan pada Geri. Siapa yang tahu kalau suaminya itu akan mempermalukannya lagi di depan Mia.


"Iya tidak" Geri menjawab sambil mengetuk pintu kamar Mia. Ia tidak akan menbiarkan Carri melakukannya, kulit yang indah milik istrinya itu bisa terkelupas atau tangannya akan menjadi lelah nantinya.


 


***Readers yang baik, jangan lupa mengetuk tombol 👍 dan memberi vote ⭐⭐⭐⭐⭐***.


***Saran dan kritik yang kamu tingalkan pada kolom komentar akan sangat membantu author dalam menyempurnakan cerita di penulisan berikutnya***.

__ADS_1


 


__ADS_2