TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Sambutan Warga


__ADS_3

NGEUNAH


Nama rumah makan baru itu, sekarang sedang menjadi sorotan. Selain karena cuma ada satu satunya di kabupaten ini, rasa dari semua menu yang ada juga membuat ketagihan para pengunjung yang sudah mencicipinya. Bukan hanya dari warga lokal kota kecil itu saja, tapi banyak pendatang dari kota sebelah yang ingin merasakan nikmatnya menu yang ada di rumah makan tersebut.


Rumah makan dibuka mulai jam sepuluh pagi, dan yang beli terlihat cukup banyak yang sudah antri. Bagi yang tidak kebagian tempat baik di lantai bawah maupun lantai atas, banyak pembeli yang memilih makan hidangan segar dan serba pedas itu di taman kota yang memang letaknya di sebelah rumah tersebut.


Adanya rumah makan tersebut juga setidaknya memberi jalan rejeki baru untuk warga sekitar yang bisa memanfaatkan keadaan. Seperti menjadi juru parkir, jasa titip makanan, atau menjadi reseller yang harga jualnya sudah ditentukan oleh owner rumah makan tersebut.


"Do, nanti kalau ada yang pesan baso *****, bilang aja habis gitu ya? Adanya tinggal baso ikan," ucap Dandi pada salah satu karyawannya yang bernama Dodo.


"Baik, Mas. Kira kira yang udah habis apa aja, Mas?" tanya Dodo sebelum mengantar pesanan milik pelanggan.


"Baso *****, cireng kuah sama mie jebew pedas. Untuk sementara cuma itu yang habis."


"Gila, baru jam lima sore, tiga menu itu udah habis?" tanya Randi yang saat ini sedang meracik seblak komplit.


"Ya elah, kamu tahu sendiri, dari tadi siang kita masak nggak berhenti. Sampai pegel nih tangan," keluh Sandi.


"Emang nggak ditambahin persediaannya, Mas?" tanya Dewi, salah satu karyawan disana juga.

__ADS_1


"Nggak, seramai apapun, kita tidak akan nambah persediaan. Biar hasilnya kelihatan," jawab Randi.


Dodo sudah melesat mengantar pesanan, sedangkan dua karyawan lain juga beberapa kali hilir mudik ke tempat itu. Jika suasana agak santai, karyawan dan owner bekerja sama membersihkan barang barang bekas habis pakai.


Sementara itu, di seberang jalan, sebuah gerobogan penjual nasi goreng baru saja mendarat di tempat itu. Kedua penjualnya merasa kagum dengan ramainya pembeli di warung makan yang baru saja buka beberapa hari itu.


"Kamu nggak pengin kesana, Za? Buat icip icip?" tanya Taryo rekan jualan Eliza sekaligus sepupu jauhnya.


"Ngapain? Nanti dikira cari perhatian sama yang jualan," cibir Eliza sambil ikut menata barang dagangannya.


"Hahaha ... ya kan kali aja dapat gratisan."


"Dih, ogah amat."


Di tempat lain, Rianti juga nampak sedang melamun di dalam toko buahnya. Toko yang baru saja dia rintis sejak dua tahun terakhir begitu dia tinggal di kota itu. Rianti sebenarnya sudah pindah di kota itu sudah lebih dari tiga tahun. Melalui kenalannya saat masih di kota, wanita itu sanggup menjalani hidup sendiri di kota orang.


Sebelum hal buruk menimpa Rianti, wanita itu dulu sempat bekerja di sebuah produk kecantikan. Tapi karena sebuah tragedi yang dilkukan oleh seorang pria, wanita itu memilih meninggalkan segalanya dan hidup mandiri. Beruntung masih ada teman yang percaya sama Rianti.


Berawal dari ikut kerja di tempat temannya yang memiliki usaha jualan buah, Dari sanalah Rianti bisa belajar jualan buah tersebut selama satu tahun dan dengan tabungan yang dia miliki, Rianti berhasil membuka sendiri toko buah dan juga tempat justnya.

__ADS_1


"Ri, mau ikut nggak?" tanya Agus, teman sekalligus suaminya teman Rianti juga. Mereka berdua saat ini sedang berada di toko buah milik wanita itu.


"Ikut kemana?" tanya Rianti malas.


"Tuh, ke warung makan yang baru buka. Katanya enak enak loh," ucap Tiwi, istri dari Agus. nama teman yang menolong Rianti.


Nggak lah, orang aku lagi jualan juga," tolak Rianti.


"Ya kan bisa tutup bentar," Tiwi mencoba memaksa.


"Udah jangan dipaksa, kita berangkat sendiri aja, yuk?" ajak Agus. Tiwi menyerah dan mereka berjalan kaki ke warung makan tersebut yang memang jaraknya cukup dekat dari toko buah Rianti.


"Sepertinya, Rianti pernah ada hubungan dengan salah satu pria yang ada di sana deh, Yang," ucap Agus disela sela langkah kakinya.


"Kata siapa?" tanya Tiwi dengan kening yang berkerut.


"Aku kemarin lihat sendiri, salah satu pria yang ada di sana, duduk di depan toko Rianti dan terus memandangnya."


"Wahh! Beneran, Yang?" Agus mengangguk. "Kalau gitu, kita cari tahu, Yuk?"

__ADS_1


Kening Agus berkerut dan tak lama kemudian dia tersenyum. "Oke!"


...@@@@@@...


__ADS_2