TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Di Toko Buah


__ADS_3

"Ibu kenapa? Kok pulang pulang kayak lagi marah gitu?" tanya Arimbi begitu dia melihat wanita yang sudah menolongnya nampak berbeda sikapnya. Wajahnya terlihat kesal. Bu Farida bahkan berkali kali menyebutkan kalimat berbahasa arab yang berarti mohon ampunan pada Tuhan.


"Reyhan mana? Masih merengek nyariin ayahnya?" bukannya menjawab pertanyaan Arimbi, Bu Farida malah mernanyakan bocah yang tidak kelihatan batang hidungnya. Wanita itu juga menerima air minum yang disodorkan oleh Arimbi.


"Lagi di rumah sebelah, main sama Alfian," jawab Arimbi sembari duduk di salah satu kursi yang ada, tak jauh dari keberadaan Bu Farida. "Tadi sih nyariin, malah minta nyusul ke tempat ayahnya. Aku sampe bingung, Bu. Untung tadi ada Alfian nyamperin, jadi Reyhan langsung diam."


Bu Farida menghembuskan nafasnya secara kasar. "Ya kamu antar aja Reyhan ke tempat ayahnya, biar dia tahu rasa bagaimana repotnya ngurus anak."


"Males lah, Bu. ketemu wajah ayahnya aja aku sebel banget, penginnya nonjok."


Bu Farida malah terkekeh. "Ibu malah tadi menampar ayahnya tu bocah. Kesel ibu, dari semalam udah gatal pengin marahin dia. Tadi ditungguin di pasar malah nggak datang. Ya udah, ibu samperin ke tempat dagangannya."


"Hah!" Arimbi seketika langsung menunjukkan wajah terkejutnya. "Pantes ibu tadi wajahnya kayak emosi gitu."


Di saat dua wanita berbeda usia itu masih asyik memperbincangkan ayah dari bocah kecil yang tinggal di sana, keduanya dikejutkan dengan suara tangis yang cukup kencang. Arimbi dan bu Farida sontak bangkit dari duduknya lalu langsung bergegas keluar rumah menuju ke tempat tetangga dimana Reyhan berada.

__ADS_1


"Ya ampun pasti kalian bertengkar lagi, Reyhan nakal ya?" seru Arimbi sambil meraih tubuh anaknya dan menggeondongnya.


"Iya itu, padahal ditinggal sebentar ke kamar mandi aja, udah berkelahi aja ni bocah. Kalau nggak ada, malah dicariin," sahut ibunya Alfian.


"Hhehehe ... ya begitulah, mbak, namanya anak anak," balas Arimbi memaklumi, lalu dia pamit membawa Reyhan pulang. "Tadi kenapa bertengkar, hum?"


"Reyhan mau ayah, bu. Kayak Apian," rengek bocah itu dan tentunya rengekannya sukses membuat Arimbi terkejut.


"Baru aja diomongin, eh udah ingat lagi sama ayahnya. Anterin aja sana, Mbi," sahut Bu Farida.


"Males lah, Bu," tolak Arimbi sambil terus mencoba menenangkan anaknya.


Arimbi pun kembali mendengus. Sepertinya dia terperanguh dengan ucapan Bu Farida. Apa lagi dia tahu karakter anaknya bagaimana. Arimbi tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau dia menuruti saran dari wanita paruh baya yang tinggal bersama.


Di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda, nampak Rianti sedang sibuk memilih dan memilah buah dagangannya. Buah buah yang masih bagus dipisah dari buah yang sudah terlalu matang dan juga buah yang hampir busuk. Buah buah yang sudah terlalu matang, oleh Rianti akan di olah menjadi jus buah dan dikemas menggunakan gelas plastik. Dengan cara seperti itu, tidak ada buah yang terbuang dengan sia sia.

__ADS_1


Di saat Rianti sedang sibuk dengan pekerjaannya, matanya menangkap sesosok pria datang menghampirinya. Pria itu tersenyum lebar saat matanya bertemu dengan tatapan wanita cantik yang sudah lama dia incar.


"Sibuk, Ri?" tanya pria itu sembari duduk di bangku yang ada di depan toko.


"Ya seperti yang kamu lihat, Mas," ucap Rianti bersikap biasa saja. Wanita itu sebenarnya tahu kalau pria yang saat ini ada di tokonya, menyukai dirinya. Tapi entah kenapa, sejak peristiwa gagalnya pernikahannya, Rianti menjadi menutup diri dari yang namanya laki laki. Apa lagi Rianti tahu, siapa laki laki yang ada di tokinya saat ini.


"Kamu nggak capek nyari duit terus? Sekali kali mbok ya jalan jalan loh, Ri," ucap pria itu mulai mencari cara untuk membuika obrolan.


Rianti sontak tertawa lirih. "Hehehe ... kejar setoran, Mas. kan tahu sendiri, biaya sewa toko ini mahal."


Pria itu ikutan terkekeh. "Makanya nyari suami, biar ada yang nafkahin jadi nggak perlu capek nyari duit sendirian."


Rianti kembali tersenyum lebar, tapi dia enggan membalas ucapan pria itu karena Rianti tahu akan kemana arah pembicaraan mereka jika sudah menjurus ke arah suami. namun laki laki itu juga sepertinya tidak menyerah.


"Ri, kamu serius? Nggak mau nerima aku jadi calon suami kamu?"

__ADS_1


Deg!


...@@@@@@@...


__ADS_2