
Masih di malam yang sama, tapi kali ini rumah makan milik tiga pria.
"Ada apa ya, Mas? katanya, Mas ada perlu dengan saya?"
"Oh iya, saya mau minta tolong sama kamu."
"Minta tolong? Minta tolong apa?"
"Tolong kamu jauhi Eliza, bisa?"
Randi melongo begitu mendengar ucapan salah satu dari dua pria yang baru saja memesan menu jualannya. Sungguh permintaan yang mengejutkan dari seseorang yang tidak Randi kenal. Tapi satu yang pasti, baik Randi dan pria itu sama sama mengenal satu nama wanita.
"Eliza yang mana ya?" Randi pura pura tidak tahu. Takutnyya Eliza yang disebut pria itu berbeda dengan Eliza yang saat ini sedang Randi kejar.
"Nggak usah pura pura deh, Mas, kamu pasti tahu Eliza yang mana," pria yang tubuhnya lebih ceking dari yang pertama tadi berbicara, nampak begitu tidak suka dengan pertanyaan yang Randi lontarkan.
"Loh, nama Eliza kan banyak? Emang di negara ini nama Eliza hanya ada satu saja," Randi masih bisa berkilah dengan jawaban yang memang masuk akal.
__ADS_1
"Eliza yang jualan di pasar, yang tiap pagi kamu temui," jawab pria berbadan ceking masih menunjukkan wajah kesal dan tidak sukanya.
"Oh, Elizza yang itu? Emang kalian siapanya Eliza?" Randi memilih tetap berusaha tenang meski pria berbadan ceking itu seperti ingin mengajaknya ribut. Berbeda dengan temannya yang tubuhnya agak gemukan sedikit. Dia terlihat lebih tenang.
"Yang pasti temen aku ini sudah lama suka sama Eliza. Kamu baru datang malah main sosor aja. Sok pahlawan bantuin Eliza," sungut si tubuh ceeking.
"Kalau suka sama Eliza ya bilang ke Eliza dong? Ngapain malah meminta saya untuk menjauihi wanita itu? Aneh nggak sih?"
"Eh, kita itu datang kesini untuk memperingatkan kamu ya? Nggak usah nyolot gitu?"
Pria berbadan ceking langsung bergerak dengan emosi dan mengepalkan tangannya yang siap untuk dilayangkan ke arah Randi. Tapi dengan sigap pria yang sedari terlihat tenang langsung menjegahnya. "Lepasin! Aku harus menghajar orang ini!" teriak pria ceking itu dengan tatapan tajam ke arah Randi.
"Nggak perlu kekanakan. Masalah cewek kok sampai adu jotos," Randi yang tidak ada niat untuk memprovokasi justru ucapannya semakin menyulut emosi pria ceking itu.
"Kurang ajar! Emang kudu diberi pelajaran kamu ya?" Pria ceking itu mencoba membrontak dari cekalan temannya.
"Udah, udah. Jangan bikin ribut!" cuma itu yang dikatakan oleh teman si ceking. Sebenarnya ucapan Randi sedari tadi membuat pria bertubuh agak gemuk itu merasa tertampar malu. Memang tidak seharusnya dia mendatangi Randi untuk memberi peringatan. Tapi entah kenapa, pria itu merasa perlu menemui Randi.
__ADS_1
"Intinya, aku cuma minta kamu jauhin Eliza. Nggak lebih!" pria berbadan agak gemuk itu kembali memberi peringatan dengan tatapan tajam yang menakutkan.
"Hahaha ..." bukannya takut, Randi malah terbahak. "Kamu itu laki laki kan? Kalau kamu suka sama eliza, ngomong langsung di hadapannya. Bukan ngancam ngancam kayak gini. Emang dengan kamu bersikap kayak gini, Eliza akan suka sama kamu?"
"Benar benar harus diberi pelajaran ini orang. Kamu nggak tahu, kita siapa?" si tubuh ceking kembali mengeluarkan amarahnya.
"Nggak perlu! Aku nggak perlu tahu kalian itu siapa!" ucap Randi lantang. "Yang perlu aku tahu tuh, bersikaplah jantan, bukan main main ngancam kayak gini."
Si tubuh ceking semakin emosi. Dia memberontak dari cekalan temannya dan langsung menyerang Randi. Namun sayang sekali, baru saja dia melayangkan tangannya yang terkepal, langsung ditangkap oleh Randi dan dengan tangan terkepal juga Randi langsung menghadang balik sampai pria itu terhuyung dan memekik kesakitan.
Mau tidak mau, teman si ceking juga turut menyerang Randi dan akhrnya perkelahian dua lawan satu langsung menimbulkan kehebohan, sampai suaranya terdengar dari lantai bawah. Dua karyawan yang ada disana langsung saja naik ke lantai dua. Sudah pasti keduanya langsung terkejut melihat perkelahian di depan mata mereka.
"Cepat kamu minta tolong orang orang di depan toko!" seru karyawan pria kepada karyawan wanita. Dengan sigap karyawan wanita langsung turun untuk meminta pertolongan. Pastinya orang orang yang mendengar teriakan wanita itu langsung berhamburan mendekat, termasuk Taryo, suadaranya Eliza,
Seketika lantai dua semakin ramai dan kedua kubu segera saja dipisahkan. Mereka disidang di lantai satu oleh beberapa warga yang ada di sana. Setelah diinterogasi, semua orang yang mendengar alasan perkelahian itu langsung tercengang.
...@@@@@@...
__ADS_1