
Akhirnya kini keenam orang dewasa dan satu anak kecil sudah dalam perjalanan menuju ke kota. Reyhan yang duduk di depan nampak begitu senang. Sesekali ocehan tidak jelasnya keluar saat matanya menangkap sesuatu di sepanjang jalan sampai membuat semua yang ada di mobil mengembangkan senyum mereka
Karena Reyhan duduk di depan, sudah otomatis Sandi yang memegang kendali karena di sebelahnya ada Arimbi. Dandi dan Rianti ada di bagian tengah, sedangkan Randi di belakang bersama Eliza. Biasanya kalau ketiga pria pergi bareng, mereka akan gantian memegang kemudi. Tapi untuk kondisi kali ini, entah mereka akan gantian atau tidak. Apa lagi ada Reyhan yang meminta duduk di depan.
"Eliza dan Rianti, nanti turun dimana? Langsung di rumah apa?" tanya Sandi memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil sejak beberapa menit lalu, saat mereka meninggalkan kota kecil.
"Kalau Rianti sih ke rumah aku dulu lah, San. Mana berani dia langsung balik ke rumah," jawab Dandi.
"Eliza juga ke rumahku, San," ucap Randi sedikit berteriak.
"Emang orang tua kamu mau menerima aku? Apa nggak sebaiknya aku nginap di hotel aja," ucap Rianti.
"Enak aja nginep di hotel," tolak Dandi. "Ya pasti orang tuaku mau menerima kamu lah. Kamu sendiri tahu kalau orang tuaku dari dulu suka sama kamu." Rianti pun terdiam lalu memalingkan pandangannya ke arah luar jalan. Jelas sekali wanita itu masih ingat keluarga Dandi yang memang sangat menyukainya. Entah apa yang akan terjadi nantinya jika orang tua Dandi melihat kedatangannya secara mendadak nanti.
Diamnya Rianti juga membuat Dandi paham kalau wanita itu sedang tidak baik baik saja. Namun, Dandi juga sudah memikirkan dengan sangat matang keputusannya sebelum tadi Sandi melempar pertanyaan. Apapun yang terjadi nanti, Dandi sudah siap menghadapinya.
__ADS_1
"Emang orang tua kamu mengenal aku, Ran?" sekarang gantian Eliza yang bertanya pada pria di sampingnyaa.
"Mengenal sih belum, tapi mereka sudah mendengar nama kamu," jawab Randi.
"Mendengar nama aku? Kapan?" tanya Eliza penasaran.
"Ya dulu, saat aku disidang gara gara ngancurin nikahan kamu. Aku kan sempat di hukum nggak boleh pulang sebelum minta maaf sama kamu," jawab Randi.
"Hahaha ... satu bulan tuh Randi jadi anak terusir saat itu," celetuk Dandi.
"Tapi ya orang kaya raya seperti Randi, nggak bakalan bingung meski pergi dari rumah sekalipun. Ada kalian juga, dan tentunya banyak cewek yang siap menampung," cibir Eliza.
"Kata aku lah." Eliza tidak mau kalah membuat Randi hanya bisa mencebikan bibirnya, karena kenyataannya memang tidak seperti itu. Randi dulu hanya nginep di rumah Sandi maupun Dandi. Kadang juga menginap di tempat usaha yang saat itu baru mereka rintis.
Hingga seiring perjalanan waktu, beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di kota besar. Karena jarak rumah kedua sahabatnya berbeda arah dan cukup jauh, Sandi menurunkan dua sahabatnya bersama wanita mereka di depan, sebelum masuk ke komplek rumah Sandi. Randi dan Dandi melanjutkan perjalanan pulang mereka menggunakan taksi.
__ADS_1
"Eh, Mas Sandi," seru penjaga rumah saat membuka gerbang dan melihat siapa yang datang. Kening penjaga rumah mengernyit begitu melihat wanita dan seorang anak di dalam mobil yang sama dengan anak majikannya.
"Papah dan Mamah sudah pulang, Mang?" tanya Sandi.
"Sudah, Mas. Orang sudah gelap ya mereka pasti sudah ada di rumah," jawab penjaga rumah dengan segala pertanyaan dalam benaknya mengenai wanita dan anak itu.
"Ya udah, aku masuk dulu, Mang," ucap Sandi. Setelah dipersilakan, Sandi kembali menjalankan mobilnya hingga terparkir di tempatnya.
"Ini rumah siapa, Bu?" tanya Reyhan yang belum lama ini bangun dari tidurnya. Sejak selesai makan siang tadi saat di rest area, anak itu tertidur, dan baru bangun saat beberapa menit lagi mereka sampai di tempat tujuan.
"Ini rumah Ayah," Sandi yang menjawab. "Ayo masuk, kita ketemu sama Eyang," ajak Sandi. Keduanya lantas melangkah bersama menuju pintu utama.
"Rumah Ayah besar sekali," ucap Reyhan penuh rasa kagum. Sandi hanya tersenyum lebar, sedangkan Arimbi terlihat lebih tegang dengan segala perasaaan yang tidak bisa dia ungkapan saat ini. Pokoknya di dalam benak Arimbi, perasaannya tidak menentu.
"Ya ampun, cucu Eyang!" pekik ibunya Sandi yang saat itu sedang makan malam bersama suami dan Sandrina. Sandi memang langsung masuk saja karena di jam segitu, Randi tahu orang tuanya belum tidur dan rumah juga belum dikunci. "Kenapa pulang nggak ngasih kabar sih, San?"
__ADS_1
Sandi hanya tersenyum menanggapi protesan Ibunya. Orang tua Sandi dan adiknya langsung heboh menyambut kedatangan cucu ke rumah mereka.
...@@@@@...