
"Ada apa ini! Kok berantakan banget!" seru Sandi begitu memasuki tempat usahanya dan terlihat tiga orang yang ada di sana, sedang merapikan tempat usaha yang terlihat sangat berantakan. Bahkan untuk berberapa saat, Sandi terbengong dan terpaku di ambang pintu begitu melihat keadaan tempat itu. "Apa tadi ada gempa pribadi?"
"Lebih dari sekedar gempa, Mas bos. Tapi perang dunia ketiga," jawab karyawan pria begitu antusias sambil cengengesan. Tangannya merapikan meja dan kursi ke tempat semula.
"Tadi Bos Randi habis dikeroyok, Mas bos," sahut karyawan wanita sambil menenteng alat pel. "Tapi Bos Randi hebat, bisa mengalahkan mereka. Benar benar lelaki idaman," puji wanita itu dengan genitnya. Lalu dia melangkah menuju kamar mandi dekat dapur. Randi yang memilih duduk di salah satu kursi karena tugasnya sudah selesai, hanya bisa tersenyum simpul mendengar pujian dari karyawannya.
"Ini ada apa? Kok belum tutup?" Dandi yang baru saja pulang juga terlihat kaget saat memasuki tempat usahanya dari arah depan.
"Tuh, Randi, katanya habis perang," jawab Sandi sembari melangkah dan duduk di kursi yang tak jauh dari Randi. "Emang tadi apa yang terjadi, Ran?"
"Tahu tuh para pengecut. Bisa bisanya mereka ngancam aku. Ya aku lawan sekalian dong, dikiranya aku takut apa," jawab Randi setelah menyeruput teh manisnya.
"Masalahnya apa, sampai kamu diancam giyu?" tanya Sandi lagi. Di sana juga sudah ada Dandi dengan segala rasa penasarannya.
"Biasa masalah cewek. Aku diancam nggak boleh deketin Eliza, enak aja," balas Randi.
"Hah! bagaimana ceritanya?" Dandi sampai terperangah.
__ADS_1
"Kamu tanya aja tuh, sama mereka," Randi menunjuk karyawannya, bersamaan dengan itu, Randi berdiri. "Aku mau nganter Eliza pulang." Sandi dan Dandi tak memberi respon, tapi mereka langsung meminta penjelasan dari dua karyawannya.
"Kamu mending istirahat aja deh, Nggak usah memaksakan diri nganterin aku," ucap Eliza begitu Randi sudah ada di depan lapak dagangannya.
Randi langsung menoleh dan menatap tajam wanita yang baru saja perintah. "Kamu mau kita cepat nikah?"
Eliza sontak membelalak, lalu tak lama setelahnya dia mendengus. Eliza tahu. "Ya kan aku tinggal bilang sama Paman kalau kamu lagi kurang sehat."
"Ya terserah kamu aja sih. Tapi kalau Paman tahu kamu bohong, jangan salahkan aku ya?" balas Randi tenang lalu bersiap kembali ke kontrakannya.
"Iya, iya, iya! Ih, senengnya main ngancam," sungut Eliza lalu dia beranjak sejenak untuk mengambil tas slempang yang biasa dia bawa. Randi tentu saja saat ini sedang tersenyum lebar karena berhasil membuat Eliza menurutinya. Tak butuh waktu lama, motor pun melaju dengan pelan menembus angin malam menuju rumah Paman Eliza.
"Penggemar siapa? Kalau ngomong suka asal," sungut Eliza dan hal itu sukses membuat Randi mencebikan bibirnya.
"Hilih, pura pura tidak tahu, padahal aslinya tahu banyak, ada ribuan cowok yang ngantri."
"Ribuan, lebai banget kalau ngomong," Eliza malah terdengar kesal, tapi sukses membuat Randi mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Tadi kamu kenapa nggak ikut lihat, pas aku sedang disidang lawan penggemarmu?"
"Apaan sih?" seru Eliza. "Penggemar penggemar. Ngapain juga lihat orang berkelahi, nggak ada untungnya."
"Tapi kan tadi perkelahian untuk memperebutkan hati kamu, Za. Harga diri juga, nggak mau diremehkan. Enak aja! Emang dia siapa kamu sampai larang larang aku deketin kamu. Orang udah jelas, aku yang akan jadi suamimu."
"Kamu sedang ngimpi atau gimana sih? Bisa diam nggak? Bawel banget kayak cewek!" hardik Eliza. Bukannya takut, Randi malah tertawa dengan suara yang cukup keras. Tapi dia tidak melanjutkan ucapannya agar Eliza tidak semakin kesal.
Tak lama kemudian, motor yang dikemudikan Randi memasuki sebuah halama rumah. Eliza langsung turun dan dia menghadap ke arah Randi. "Awas kalau kamu sampai cerita ke Paman! Aku habisi kamu."
"Siapa yang akan dihabisi?" bukan Randi yang bertanya, tapi Paman yang kebetulan saat itu langsung keluar rumah begitu mendengar suara motor berhenti di halaman. Pintu utama juga masih terbuka jadi tidak ada suara pintu sampai tiba tiba suara Paman terdengar. "Emang tadi Randi ngapain, sampai kamu ngancam ngancam gitu?"
"Hehehe ... nggak ngapa ngapain kok, Paman," Eliza langsung salah tingkah dan sesekali dia melirik Randi dengan tajam.
"Tadi kita sedang membicarakan pernikahan kita, Paman. Baru rencana, jadi dia ngancam aku supaya jangan bilang yang lain."
Mata Eliza langsung melotot begitu mendengar ucapan Randi.
__ADS_1
...@@@@@...