
"Ran, ada Eliza tuh?"
Randi yang sedang fokus meracik pesanan seorang pelanggan sontak saja menoleh saatSandi menyebut nama wanita yang familiar di telinga pria itu. "Ah iya, kok dia mau ke sini? Katanya nggak bakalan pernah mau datang ke tempat ini."
"Paling temannya yang ngajak. Tuh, lihat! Temennya yang nampak antusias masuk," tunjuk Sandi dan memang benar, tangan Eliza ditarik oleh temannya masuk ke warung makan khas sunda tersebut. Eliza dan temannya memilih tempat duduk di lantai dua. Dari gerak geriknya, kelihatan sekali kalau Eliza memang terpaksa datang ke tempat tersebut.
Wajar jika Eliza bersikap seperti itu. Siapapun pasti enggan bertemu dengan seseorang dari masa lalunya yang telah membuat luka dalam hidupnya. Mungkin perbuatan Randi dulu memang sangat keterlaluan, sampai wanita itu sangat tidak ingin kembali melihat wajah Randi.
Randi segera saja menyelesaikan pesanan milik pelanggan yang duduk di lantai satu. Di saat bersamaan, salah satu karyawan yang bekerja di sana mendekat. "Mas Bos, ini pesenan meja tiga belas," karyawanan itu memberikan cacatan kepada Dandi yang memang sedang duduk santai di dekat meja kasir.
"Biar aku aja yang meracik," seru Randi. "Itu pesenan milik dua wanita yang baru saja datang di lantai dua kan?" sang karyawan mengiyakan dan Randi langsung saja meracik pesanan Eliza secara spesial.
"Sini Mas, biar aku yang nganterin," ucap salah satu karyawan beberapa saat kemudian saat Randi telah selesai memasak pesanan Eliza dan hendak menyerahkannya di meja wanita itu.
__ADS_1
"Nggak usah," tolak Randi. "Ini spesial bagian saya," ucapnya dengan kepercayaan diri yang cukup tinggi. Dua karyawan yang melihatnya hanya mampu mengernyitkan kening mereka sedangkan Dandi dan Sandi nampak mencibir, tapi Randi tidak peduli.
Melihat Randi yang datang membawakan pesanannya, Eliza langsung mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang sedang dia pegang. Mata mereka tadi sempat bertemu dan senyum Randi seketika terkembang, tapi tidak dengan Eliza. Wanita itu memilih berpaling dan langsung menunjukkan wajah tidak bersahabatnya.
"Dua seblak spesial dan es jeruk ya, Mbak?" tanya Randi begitu dia berdiri di dekjat meja Eliza berada.
"Benar, Mas," ucap teman Eliza nampak senang. "Loh, Mas, kita kan hanya pesan dua porsi?" wanita itu terlihat terkejut saat Randi juga menaruh satu mangkok cuangki komplit.
Eliza yang tahu kalau Randi sedang menyinggungnya, tetap berusaha acuh dengan terus memainkan ponselnya. Sedangkan Randi, begitu selesai melayani, dia bukannya pergi, tapi malah duduk di salah satu meja yang lain. Dengan pura pura bermain ponsel, matanya sesekali melirik wanita yang sedang mulai menikmati makanannya.
"Ah. benar, ternyata enak banget!" seru temen Eliza dengan wajah terlihat berbinar. Randi yang mendengarnya pun ikutan tersenyum.
"Nggak usah lebay deh, biasa aja rasanya," balas Eliza dengan wajah terlihat sangat jutek. Meski dalam hati wanita itu setuju, masakan Randi memang enak. Apa lagi dulu Eliza memang beberapa kali menikmati makanan hasil olahan pria itu.
__ADS_1
"Biasa aja apaan, orang beda dengan seblak yang biasa kita beli. Nih, lihat, isiannya aja nggak fokus pakai mie. Benar benar sunda banget," ucp teman Eliza merasa tidak terima dengan penilaian temannya. Eliza mengakui memang seblak yang sedang dia nikmati berbeda dengan seblak yang ada dikota ini. jika penjual seblak di kota ini selalu ada campuran mie, tapi kalau yang khas sunda, mie hanya sebagai pelengkap saja jika ada yang minta. Kalau yang ini lebih fokus ke kerupuknya yang berfariasi.
"Mungkin ini karena yang masak laki laki kali ya? Jadi rasanya lebih enak," ucap teman Eliza lagi yang tidak henti hentinya memuji kelezatan hidangan yang sedang dia makan.
"Dih lebay banget. Ya nggak segitunya kali," sahut Eliza sambil mencicipi cuanki yang tersaji di depannya. Wanita itu tidak sadar kalau dia pria yang sedang memperhatikan hal itu sambil tersenyum.
"Eh tapi ngomong ngomong, yang jualan emang ganteng ganteng ya?" sekarang temen Eliza berbicara dengan suara lirih, tapi Randi masih bisa mendengarnya karena jarak tempat dia duduk hanya terhalang satu meja saja. "Pasti yang jadi ceweknya seneng banget memiliki cowok seperti mereka. Udah ganteng, pintar masak, pintar cari duit. Lengkap banget kan."
"Nggak mungkin," bantah Eliza. "Yang ada cowok kayak gitu hanya bisa mempermainkan perasaan. Bahkan cowok seperi itu tanpa merasa berdosa, sengaja bikin sakit ahti dan rasa malu pada ceweknya, padahal cintanya udah ditolak, tapi nggak terima. Labil banget."
Deg
...@@@@@...
__ADS_1