TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Membujuknya


__ADS_3

"Kalau kamu pengin ketemu orang tua kamu, ya udah, besok aku antar, mau?" tanya seorang pria kepada seorang wanita, setelah beberapa puluh menit yang lalu, pria itu pulang dari rumah orang tua si wanita yang saat ini duduk bersamanya di ruang tamu.


Bukannya langsung menjawab, wanita yang akrab di panggil Arimbi itu malah terdiam dengan mata memandang ke arah lantai. Si pria yang tidak lain adalah Sandi tahu, wanita yang saat ini duduk di kursi seberang pasti sedang dilema. Masalah yang terjadi di masa lalu akibat ulah Sandi, membuat Arimbi merasa takut menemui orang tuanya sendiri.


"Mumpung kamu masih ada di kota, Mbi. Orang tua kamu juga pasti sangat merindukan anaknya," Sandi kembali mengeluarkan suaranya, mencoba bersikap bijak. "Aku tahu, semua yang terjadi antara kamu dan orang tua kamu itu karena ulahku, jadi biarkan aku yang mengantar kamu pulang esok hari, ya?"


Arimbi mendongak, memandang pria yang sedari tadi berbicara kepadanya. "Apa semuanya akan baik baik saja? Aku takut semua masih tidak terkendali seperti yang aku harapkan."


Sandi lantas tersenyum tipis. "Daripada kamu penasaran, mending kita ke rumah orang tua kamu. Apapun hasilnya nanti, yang penting kamu sudah berusaha. Lagian kan kamu datangnya sama aku dan juga Reyhan, jadi kamu nggak perlu takut. Setidaknya sebagai anak, kamu udah menunjukkan niat baiknya. Semua niat baik memang tidak selalu berakhir dengan baik, tapi daripada penasaran dan selalu bertanya tanya, bukankah lebih baik kita mencobanya, bukan?"


Arimbi pun mengangguk beberapa kali sebagai tanda kalau dia setuju dengan pendapat yang keluar dari mulut Sandi. "Baiklah, besok temani aku."

__ADS_1


"Siap!" senyum Sandi terkembang sempurna. Ada rasa lega dalam hati pria itu, begitu mendengar kesedian Arimbi menemui orang tua kandungnya.


Suasana yang sama juga sedang dirasakan oleh Rianti. Tawaran yang diajukan lawan bicaranya membuat wanita cantik itu terkurung dalam dilema. Entah apa yang membuatnya merasa berat untuk bertemu dengan orang tuanya. Namun Dandi, pria yang saat ini bersama wanita itu, seakan tahu apa yang membuat Rianti masih terlihat enggan menemui orang tua sendiri.


"Apa kamu takut, ayah kamu masih murka, Ri?" tanya Dandi beberapa saat setelah Rianti terdiam karena tawaran yang Dandi ajukan untuk mengantar wanita itu ke rumahnya sendiri, malah tidak dijawab. "Aku tahu, mungkin yang membuat kamu berat bertemu orang tua kamu adalah ayah kamu sendiri."


Rianti menatap pria di kursi seberang sejena. "Sok tahu," cetusnya lalu kembali menghadap ke arah lain.


Senyum Dandi terkembang sangat lebar. "Bukannya sok tahu," bantah Dandi. "Tapi memang aku tahu, kalau kamu masih ada rasa gengsi dan takut ketemu orang tua kamu. Bukankah kamu sendiri yang cerita di malam kedua kita tidur bersama di toko kamu kemarin. Kalau kamu lupa, biar aku ingatkan."


"Ya udah sih, jangan di ungkit mulu," protes Rianti. "Udah tahu, ngomong mulu."

__ADS_1


"Hahaha ... iya iya," Dandi mengalah dan secara perlahan, suara tawanya pun surut. "Kalau ayah kamu yang membuat kamu merasa berat untuk kembali, setidaknya kembalilah demi ibu kamu, Ri. Bukankah dia yang mengerti kamu dan perasaan kamu lebih banyak?"


Rianti kembali menatap pria yang sedang menatapnya. Dandi lantas tersenyum. "Percayalah, Ri, semua pasti akan baik baik saja. Besok biar aku yang antar kamu bertemu dengan ibu kamu ya?" Rianti pun akhirnya mengangguk setelah diam beberapa saat sembari mencerna ucapan Dandi. Anggukan kepala yang ditunjukan Rianti, cukup membuat pria itu kembali tersenyum.


Kebimbangan juga sedang dirasakan oleh wanita bernama Eliza. Tawaran yang diajukan oleh pria yang saat ini bersamanya, membuat wanita itu terdiam beberapa saat lamanya. Diamnya Eliza, tentu saja membuat Randi penasaran.


"Kenapa diam, Za? Bukankah niat kamu ke kota itu untuk menemui orang tua kamu?" tanya Randi kembali karena tawaran yang dia ajukan tadi, tidak mendapat respon dari wanita yang bersamanya.


"Kalau orang tuaku masih marah gimana? Apa lagi datangnya sama kamu, pasti nanti Papah malah makin emosi," akhirnya Eliza mengatakan rasa takut dan khawatirnya.


Randi pun tersenyum. "Maka itu, besok aku anter kamu, biar kamu nggak penasaran dengan reaksi yang ditunjukan orang tua kamu. Ya siapa tahu aja kedatangan kamu memang sudah ditunggu mereka. Yang penting sebagai anak, niat kamu kan sudah baik. Tidak ingin dianggap sebagai anak durhaka."

__ADS_1


Eliza kembali terdiam, namun pikirannya mencerna ucapan pria yang saat ini bersamanya. "Baiklah, besok kamu temani aku," ucapan Eliza beberapa saat kemudian membuat senyum lebar tersungging pada bibir Randi dan pria itu mengangguk pasti.


...@@@@@...


__ADS_2