TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Dua Wanita Beda Usia


__ADS_3

Masih di siang yang sama, tapi kali ini di kampung berbeda, terlihat Arimbi sedang mengangkat beberapa kantung kerupuk dari gudang belakang. Terlihat juga di depan rumah, dua orang wanita yang sepertinya sudah menjadi langganan, sedang menunggu Arimbi mengambil beberapa bungkus kerupuk lagi.


"Berat ya, Mbak?" tanya salah satu dari tamunya Arimbi sambil memindahkan kerupuk dari teras ke depan jok motornya.


Arimbi lantas tersenyum cukup lebar. Meskipun dia tahu kalau itu adalah pertanyaan basa basi, tapi Arimbi tetap membalasnya dengan hangat tanpa ada rasa tersinggung. "Nggak beratlah, Mbak, orang bawanya juga paling banyak dua kantung, nggak sekalian."


"Hahaha ..." wanita itu malah terbahak, begitu juga wanita satunya yang sedang menunggu kerupuk pesanannya. "Mbak Arimbi bisa aja. Ya udah masukin semua ke nota, Mbak, buat bukti."


"Beres," Arimbi langsung melangkah menuju meja dimana nota telah disiapkan. Begitu urusan dengan salah satu pedagang selesai, Arimbi langsung melayani pembali wanita lain yang sedari tadi duduk di atas motor. Reyhan sendiri lagi anteng main sama anak tetangga di sebelah rumahnya, jadi tidak menggangu sang Ibu yang sedang melayani para pembeli.


Saat Arimbi hampir selesai melayani pembeli yang kedua, matanya dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sangat dia kenal, baru saja turun dari mobil. Dengan langkah angkuhnya orang itu berjalan ke arah rumah Arimbi. Arimbi segera menyelesaikan urusannya dengan pembeli, setelah itu dia langsung menyambut tamunya.

__ADS_1


"Silakan duduk, bu," ucap Arimbi setelah saling bertegur sapa dengaj tamu yang seorang wanita. "Ibu mau minum apa?" tanyanya dengan sopan.


"Nggak usah! Nggak perlu repot repot, paling cuma air putih dan air teh doang," jawab tamunya dengan ketus sambil meletakkan pantatnya pada salah satu kursi yang ada di teras. "Aku tuh kesini mau ngomong sama kamu."


Arimbi sudah menduganya, tapi dia bersikap seakan akan kalau dia cukup terkejut. "Mau ngomong apa ya, Bu?"


"Nggak perlu pura pura!" balas tamunya dengan sangat ketus. Jelas sekali kalau tamunya itu tidak menyukai sang tuan rumah. "Aku jauh jauh datang kesini, cuma mau minta tolong sama kamu. Tolong, kamu jauhi Mulyadi, bisa?"


"Loh, bukannya anak ibu yang selalu mendekati saya?" dengan tenang Arimbi membalas ucapan Ibu dari pria yang beberapa bulan ini selalu mendekatinya.


"Astaga. Bu! Darimana ibu tahu informasi yang salah seperti itu? Saya sama sekali tidak pernah memanfaatkan anak saya. bu."

__ADS_1


Ibunya Mulyadi langsung menyeringai. "Kamu pikir aku bodoh apa gimana? Kalau kamu memang nggak pernah memanfaatkan anak kamu, selama ini darimana anak kamu mendapatkan mainan yang bagus bagus. Aku tahu semuanya."


"Maaf ya, Bu. Maaf yang sebesar besarnya, Ibu tanya saja sama anak ibu, kenapa dia mau membelikan mainan yang bagus dan cukup mahal. Anak saya masih terlalu kecil untuk meminta itu semua. Lihat itu! Anak saya mainannya kayak gitu?" Arimbi menunjuk ke arah Reyhan yang sedang bermain mobil mobilan kecil di atas rumput di depan halaman rumah tetangganya.


"Apapun alasan kamu, pokoknya saya sangat menentang hubungan kalian. Lagi sama janda aja saya harus mikir ulang, apa lagi sama wanita yang statusnya nggak jelas kayak kamu. Harusnya kamu sadar diri, Mulyadi yang seorang PNS dan pengusaha, masa bersanding dengan wanita yang nggak jelas statusnya."


"Ya, saya sangat sadar diri, Bu," balas Arimbi dengan menahan gemuruh yang seketika langsung bergejolak karena merasa terhina dengan ucapan Ibunya Mulyadi. "Saya sangat sadar diri sampai saya selalu malas jika anak Ibu main kesini. Selalu yang dijadikan alasan anak saya jika anak ibu main kesini. Ibu tidak perlu khawatir, saya tidak ada minat sama sekali dengan anak Ibu."


"Baguslah. Memang itu yang harus kamu lakukan," wanita itu lantas berdiri. Sebelum pergi dari tempat itu, ibunya mulyadi kembali memberi peringatan. "Ingat ucapan saya, jauhi Mulyadi atau kamu akan menyesal," wanita itu langsung melangkahkan kakinya.


Arimbi lantas terdiam. Bukannnya takut, wanita itu tidak menyangka kalau dia akan mendapat penghinaan seperti ini. Meski hinaan itu bukan yang pertama bagi Arimbi, tapi rasanya tetap sakit kalau statusnya yang tidak jelas diungkit kembali.

__ADS_1


Begitu wanita itu pergi, Arimbi langsung masuk dan menumpahkan segela rasa sakit hatinya melalui air mata yang mengalir deras. Tidak hanya menangis, Arimbi juga langsung melangkah ke arah dapur untuk memgambil karung dan mengisisnya dengan semua mainan yang diberikan oleh Mulyadi untuk anaknya.


...@@@@@...


__ADS_2