TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Berbeda Rasa


__ADS_3

"Ini semuanya sudah, Mbak?" tanya seorang ibu sambil menatap wanita yang berjongkok di hadapannya dengan menunjukan termos es yang hendak dia tenteng.


"Sudah, Bu, itu hanya ada tiga puluh jus saja, ngak apa apa kan?" wanita yang berjongkok tadi bangkit bersama ibu di hadapannya yang sudah mengendong keranjang berisi aneka jajanan.


"Tiga puluh kalau habis semua juga bsrsyukur banget, Mbak," balas Ibu itu dengan wajah sumringah. "Ya udah, Mbak, aku berangkat dulu. Doain ya, moga daganganku laris."


"Aamiin, pasti dong, Bu, " ucap wanita yang usianya lebih muda itu dengan membalas senyuman wanita yang hendak berangkat berkeliling dari satu tempat ke tempat lain menjajakan jajanannya.


"Mari, Mas," ibu itu juga pamit pada pria yang duduk di bangku plastik dekat tempat beberapa jenis buah yang tertata rapi di delakang pria itu duduk.


"Silakan, Bu," balas pria itu dengan ramah juga dan matanya menatap wanita itu hingga si wanita hilang dari pandangan.


"Kamu nggak pulang? Ngapain masih disini sih? Pasang kamera cctv nya sudah selesai, kan?" wanita bernama Rianti itu langsung melempar pertanyaan dengan wajah yang sudah berubah. Tadi kepada ibu yang ikut menjual jusnya, Rianti terlihat sangat ramah. Namun sekarang berbicara kepada Dandi, wajah wanita itu berubah galak dan ketus.

__ADS_1


"Ya belum lah, kameranya memang sudah terpasang, tapi kan belum terkoneksi dengan ponsel kamu," jawab Dandi beralasan agar bisa berlama lama di toko itu. Apa lagi siang ini kontrakannya memang sedang sepi. Dua temannya sedang pergi dengan urusannya masing masing. Maka itu Dandi memilih bertahan di tempat Rianti walaupun wanita itu nampak tidak suka.


"Kenapa nggak dikoneksikan sekalian?" sungut Rianti sambil membersihkan sisa jus buah dan merapikan tempat itu.


"Ya kan nunggu ahlinya. Lagian kalau aku yang turun tangan, emang aku boleh melihat ponselmu?"


"Nggak!" tolak Rianti dengan tegas.


"Ya udah, kita tunggu aja petugasnya," Dandi semakin menunjukan kemenangannya dengan sediikit senyum yang terlihat sangat menyebalkan dimata Rianti. Sebenarnya cctv itu bisa dikerjaakan sendiri oleh Dandi jika alatnya mendukung, tapi karena alatnya terbatas, Dandi lebih memilih menunggu ahlinya agar cctv itu bisa tersambung ke layar ponsel milik Rianti.


"Kalau menurutku sih enak, tapi nggak tahu menurut tukang masak kayak kamu. Selera orang kan beda beda," meski ketus, wanita itu tetap saja mau menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Dandi.


"Emang kamu jarang beli apa gimana? Atau kamu sudah masak?"

__ADS_1


"Sudah masak aku. Lagian heran, jajan aja masih ada sisa, pakai tanya makan segala, apa sedari tadi makan jajanan itu nggak kenyang?" ucap Rianti dengan menunjukan jajanan yang tadi Dandi beli kepada Ibu tadi.


"Hehehe ..." Dandi malah cengengesan. "Kalau belum makan nasi yaa mana kenyang. Minta nasi kamu sini! Lumayan nih, ada martabak dan lumpia, bisa buat lauk."


Rianti melongo mendengar permintaan Dandi, tapi tak lama setelahnya dia melangkah masuk ke dalam ruang yang ada dibalik toko buahnya. Beberapa saat kemudian Rianti keluar lagi dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan tumis kaccang panjang dan juga telor. "Nih!"


"Wahh! Lengkap banget, padahal aku cuma minta nasi loh," balas Dandi dengan wajah berbinar. Tangannya langsung mengambil makanan tersebut dari tangan Rianti terus melahapnya. "Masakanmu masih sama ya, Ri, tidak berubah. Masih enak dan selalu pas dimulut aku."


Rianti hanya mencebikan bibirnya tanpa berniat membalas pujian yang keluar dari mulut Dandi. Tentu saja ucapan pria itu membuat Rianti jadi teringat akan masa lalu saat laki laki yang sama, selalu memuji makanan yang dia buat. Dulu Rianti sangat bahagia saat makanannya dipuji oleh Dandi. Tapi sekarang, justru ada rasa nyeri kala mendengar pujian keluar dari mulut lelaki yang sama.


Dandi yang diam diam memperhatikan perubahan wajah Rianti tentu saja menjadi semakin merasa bersalah. Pria itu juga jelas sekali masih ingat dengan kebersamaannya dengan Rianti. Terutama saat dia sedang manikmati hidangannya. Rasa sesal kembali mengerogoti relung hati Dandi saat ini. Untuk beberapa saat, keadaan di sana menjadi hening meski bising suara kendaraan nampak riuh terdengar.


"Ri?" panggil Dandi lirih begitu selesai makan. Wanita yang sedang menopang dagu dengan tangannya di meja tempat pembuatan jus sontak menoleh. "Jika aku ngajak kamu menikah lagi, apa kamu masih percaya?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2