TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Mengantar Reyhan


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, Sandi saat ini sedang dalam perjalanan, mengantar bocah kecil yang duduk dipangkuannya, sembari mengendarai sebuah motor. Bocah itu nampak terdiam dan sesekali tersenyum lebar menikmati perjalanannya menuju ke rumah, dimana bocah itu tinggal selama ini. Karena tidak memakai baju hangat, Sandi memakaikan jaket miliknya untuk membungkus tubuh bocah itu agar tidak merasa dingin selama dalam perjalanan menuju rumahnya.


Tidak kurang dari lima belas menit, motor yang dikendarai Sandi telah sampai dikomplek tempat tinggal ibu dari anak kecil yang bersamanya. Tentu saja kedatangan Sandi cukup membuat beberapa warga yang ada disana merasa heran. Sandi yang membawa Reyhan seketika menjadi pusat perhatian dan tatapan mereka seakan akan mengandung tanya, siapa pria yang bersama anak kecil yang mereka kenal itu.


Sandi mencoba bersikap ramah dengan melempar senyum pada warga yang kebetulan berada di tepi jalan yang dia lewati. Sampai motor Sandi berhenti di depan rumah yang dituju, beberapa warga masih mencuri pandang ke arah Sandi berada. Pria itu mencoba acuh dan segera menggendong tubuh Reyhan dan juga mengangkat kantung plastik berisi jajanan milk anaknya, lalu turun dari motor dan melangkah menuju pintu rumah.


"Ibu! Ibu!" teriak Reyhan bersamaan dengan Sandi yang mengetuk pintu.


"Ucap salam, Sayang, masa teriak teriak gitu?" ralat Sandi lembut membuat bocah itu malah tersenyum lebar lalu mengucapkan salam seperti yang diajarkan sang ayah.


Tak lama kemudian terdengar jawaban salam dari dalam rumah dan Sandi tahu siapa pemilik suara tersebut. "Ibu!" Reyhan langsung teriak kegirangan begitu pintu kamar dibuka dan melihat wanita yang telah melahirkannya. Sandi pun turut mengembangkan senyumnya meski Arimbi tidak memandang ke arahnya sama sekali.


Tanpa mengeluarkan suara, Arimbi mengambil alih Reyhan dari gendongan Sandi dan diluar dugaan dan cukup mengejutkan Arimbi, reyhan malah yang bersuara. "Ayah, masuk sini," ajak Reyhan dengan suara cadelnya.

__ADS_1


Sandi juga cukup terkejut mendengar suara anaknya memanggil ayah kepadanya. Padahal Sandi tidak menyuruhnya sama sekali. Mungkin telinga Reyhan mendengar Sandi sempat menyebut kata ayah beberapa kali tadi saat bersamanya jadi kata ayah terekam dalam ingatan bocah kecil itu kalau memanggil Sandi dengan sebutan kata ayah.


"Iya, Sayang," balas Sandi dengan senyum yang cukup lebar melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tanpa dipersilakan sang tuan rumah, Sandi langsung duduk.


Sebenarnya Arimbi ingin langsung menyuruh Sandi pergi saja, tapi mendengar Reyhan memanggil sandi dengan panggilan ayah, membuat wanita itu merasa geram di balik rasa terkejutnya. "Kamu mempengaruhi dia untuk memanggil kamu ayah?" tuduh Arimbi dengan tatapan masih menyimpan kemarahan yang sama.


"Emang apa salahnya? Kan dia anakku? Ngak salah kan kalau Reyhan manggil aku ayah?' balas Sandi menatap dua orang yang ada dihadapannya secara bergantian.


"Bu, jajan Teyhan banyak," cetoleh anak itu memamerkan jajan yang tergeletak diatas meja.


"Mbi," Sandi mencoba menahan diri agar tidak terpancing amarah anita itu.


"Udah, ngak perlu ngomong apa apa lagi, mending kamu pulang," usir Arimbi.

__ADS_1


Sandi menghela nafasnya secara perlahan untuk meradam rasa sesak yang tiba tiba menghimpitnya. "Mbi, aku kesini itu mau minta maaf sama kamu. aku tahu, aku salah banget, tapi ..."


"Nggak usah akting!" Arimbi memotong perkataan Sandi. "Kamu pikir aku percaya? Yah, dulu memang aku terlalu bodoh, tapi aku yakin sampai sekarang juga kamu msih mengangap aku bodoh. Sekarang kamu taruhan berapa, untuk meminta maaf sama aku?"


Sandi terperangah. Ditatapnya wajah wanita yang menatapnya dengan penuh kebencian. Sandi terdiam dan dia sadar kalau ini tidak mudah.


Sedangakan di saat yang bersamaan tapi di tempat berbeda, terlihat sepasang pria dan wanita turun dari motor di depan tempat usaha yang didirikan oleh tiga pria dari kota. Si pria sempat mengerutkan keningnya saat mendengar petunjuk dari sang istri kalau orang yang mereka cari ada di tempat itu.


"Kamu yakin? Pria yang telah menuduhku selingkuh tinggal disini?" tanya si pria.


"Kenapa? takut kebongkar gitu? Jadi kamu pura pura tidak tahu?" tuduh si wanita sampai si pria hanya bisa mendengus kesal. "Masuk, kalau berani!" pria yang sedang menahan kesabarannya itu hanya bisa pasrah. keduanya langsung mendekat ke arah meja pembatas dimana pria yang ingin mereka temui ada disana.


Dandi yang baru saja menyelesaikan tugasnya, nampak terkejut begitu melihat dua orang yang baru datang.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2