
Sama seperti acara pernikahan pada umumnya, setelah acara akad berjalan dengan lancar, kini Dandi dan Rianti, disibukan dengan menjalani prosesi pernikahan, yang sesuai dengan adat pernikahan, yang mereka gunakan. Setelah serangkaian prosesi adat selesai, acara selanjutnya yaitu pengambilan gambar untuk mengabadikan momen dan menerima ucapan selamat dari berbagai tamu yang hadir.
"Akhirnya, selesai juga," ucap Dandi setelah semua rangkaian acara berakhir dengan sangat lancar. Meski tubuh terasa lelah, namun rasa bahagia jelas sekali terpancar pada wajah pria yang telah resmi berganti status menjadi suami orang itu.
"Belum, Dan, masih ada satu ritual lagi," ucap Sandi yang kali ini tanpa memanggku anaknya. Reyhan memilih pulang terlebih dahulu bersama Arimbi dan eyangnya karena anak itu sudah cukup lelah dan juga karena iming iming akan diajak main oleh Sandrina dan kekasihnya. Mungkin karena lama tinggal di kota, jadi Reyhan sudah sangat dekat dengan sang tante. Sudah sangat pasti kalau anak itu tidak akan menolaknya, jika mendapat ajakan dari tantenya.
"Satu ritual lagi? Apaan?" bukan Dandi yang bertanya, tapi Randi. Pria itu jadi ikut penasaran dengan dengan ritual apa yang dimaksud oleh Sandi.
"Yaelah, justru ritual ini, ritual yang paling penting dari segala prosesi yang kamu jalani," bukannya langsung mengatakan ke intinya, Sandi malah membalas dengan ucapan yang mngundang rasa penasaran semakin besar pada dua sahabatnya.
"Emang ritual apaan sih? Sok misterius banget,' sungut Randi.
"Iya nih, tinggal ngomong aja, pakai dibikin ribet," Dandi ikut merasa kesal juga.
"Hahaha ... " Sandi malah terbahak terlebih dahulu, bukannya langsung mengatakan ritual yang dia maksud, seperti permintaan dua sahabatnya. "Ritual ngajak istri buat malam pertama."
"Astaga! Cuma itu?" bukanya takjub, Randi malah terlihat meremehkan. "Kirain ritual apaan."
__ADS_1
"Eh tapi bagi aku, itu termasuk sulit loh. Aku aja butuh perjuangan biar bisa melakukannya. Harus mengeluarkan jurus rayuan, sampai hampir debat segala sebelum melakukannya," Sandi tetap tak mau kalah. Dia benar benar menjelaskan apa yang terjadi padanya saat malam pertama.
"Emang Arimbi nggak langsung mau melayani kamu? Kan sudah halal?" kini Randi malah terlihat heran.
"Meskipun sudah halal, tapi kalian masih ingat kan, apa yang kita lakukan kepada wanita wanita kita. Jadi jangan mengangap enteng tentang hal itu," terang Sandi. "Dulu iya, aku sama Arimbi mudah melakukannya karena ada kata cinta sebagai latarr belakangnya. Nah sekarang, beda cerita."
"Benar juga," sahut Dandi setelah mencerna ucapan Dandi baik baik. "Berarti aku butuh berjuang nih, buat nanti malam."
"Iya lah, dan yah, cukup sulit loh, Dan," balas Sandi.
"Kalau aku sih yakin. Aku akan mudah melakukannya," Randi berkata dengan sangat yakin. "Aku sama Eliza akn belum pernah begituan."
"Ya masih lah. Eliza kan cewek baik baik," dengan lantang dan penuh yakin Randi mengetakannya.
"Ya kan siapa tahu aja, Eliza juga udah pernah melakukannya. Kamu ingat kan, mantan Eliza aja pernah ngehamilin cewek," ucap Dandi lagi.
"Ah, iya, aku ingat," Sahut Sandi. "Bahkan kita datang ke pernikahan mantan Eliza kan?"
__ADS_1
"Hih, kalian ini. Jangan meracuni pikiran aku deh. Aku sangat yakin, kalau Eliza masih segel ting ting," Randi kelihatan tidak terima. Tapi tidak bisa dipungkiri, dalam benak pria itu juga tumbuh pertanyaan yang sama dengan dua sahabatnya.
Hingga waktu terus bergulir, tanpa terasa kini petang telah datang. Di sana, sepasang pengantin baru sedang saling terdiam sejak selessai menjalankan ibadah petang. Tidak ada perbincangan yang serius, meski keduanya banyak kesempatan untuk saling berbicara.
"Kamu nggak capek?" akhirnya satu pertanyaan keluar dari mulut Dandi sebagai pemecah kehingan di dalam kamar itu.
"Ya sedikit capek sih?' jawab Rianti tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Rianti cukup memandang wajah pria yang telah menjadi suaminya melalui pantulan cermin di hadapannya. "Kenapa?"
"Kalau capek ya, duduk sini, di atas ranjang, masa sedari tadi duduk kursi itu terus? Nggak pengin istirahat?"
Rianti tersentak. Seketika rasa gugup yang tadi sempat hilang, kini kembali datang. "Nanti aja lah. Kan sebentar lagi kita keluar. Kamu belum makan malam kan?" kali ini Rianti memberanikan diri menatap langsung suaminya yang duduk di atas ranjang.
"Ya belum lah. Kalau aku pengin makan juga paling mintanya sama kamu," sahut Dandi dengan mata membalas tatapan istrinya.
"Apa kamu sekarang udah lapar? Kalau udah, yak, ayuk keluar," ajak Rianti. "Sepertinya makanan tadi juga masih banyak."
Dandi pun mengangguk dan dia bergerak turun dari ranjang. Keduanya lantas berdiri secara bersamaan. Sebelum melangkah keluar kamar, Dandi kembali mengeluarkan suaranya. "nanti setelah makan malam, boleh nggak, aku makan kamu, Ri?"
__ADS_1
...@@@@@@@...