
Begitu ketiga pencuri dibawa ke kantor polisi dan para warga membubarkan diri, Rianti dan Dandi kembali ke toko buah setelah mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah membantu mereka. Rianti langsung masuk ke dalam toko, sedangkan Dandi terlebih dahulu memeriksa lampu toko yang padam.
Setelah urusan lampu kelar, Dandi masuk ke dalam toko dan melihat Rianti terduduk lesu di dekat meja tempat pembuatan jus buah. Dandi pun mendekat dan mengusap rambut Rianti dengan lembut. "Malam ini, aku akan menginap di sini untuk menemani kamu."
Rianti langsung mendongak begitu ucapan Dandi selssai. "Jangan gila! Kamu mau digrebek warga?" Rianti memilih bangkut dan pindah ke kursi lain agar terlepas dari belaian tangan Dandi.
"Yang ada warga bakalan percaya kalau aku itu cowok kamu. Bukankah tadi sudah banyak warga yang melihat kamu memelukku?" Dandi nampak santai menanggapinya. Berbeda dengan Rianti yang kembali melebarkan tatapannya saat Dandi mengingatkan tingkahnya tadi ketika Rianti sedang ketakutan.
"Itu kan nggak disengaja," Rianti berkilah tanpa berani menatap Dandi. "Kalau aku berdiri di dekat orang lain juga pasti orang itu yang akan aku peluk."
Dandi malah menyeringai dan sangat menikmati sikap Rianti yang salah tingkah dan sedikit gugup. "Perasaan kamu memelukku sejak kamu keluar dari persemnbunyian. Bukanlah setelah itu banyak orang yang berdiri di dekat kamu ya? Kenapa kamu tidak melakukannya? Malah meluk pinggangku makin kencang."
__ADS_1
Rianti kembali tergagap dan semakin salah tingkah. "Itu kan nggak di ..."
"Udah, nggak perlu pakai alasan lagi," Dandi langsung saja memotong ucapan Rianti lalu dia bergerak memeriksa pintu toko. "Kuncinya rusak. Kamu mau tidur sendirian? Bukankah kamu tadi dengar sendiri kalau mereka adalah suruhan orang. Bisa saja orang yang menyuruh mereka, nanti malam datang."
Rianti ternganga. Selain karena ucapannya mendadak terhenti, dia juga cukup terkejut mendengar ucapan Dandi. Pastinya dia juga takut jika benar nanti orang yang memerintahkan para maling akan datang. Apa lagi maling itu bukan untuk mencuri buah atau uang, melainkan akan melakukan sesuatu yang mengerikan pada Rianti.
"Maka itu, malam ini aku akan tidur disini. Besok pagi pagi, aku baru pergi jika memang keadaan sudah aman," ucap Dandi lagi. Namun kali ini Rianti memilih diam. Wanita itu malah masuk ke dalam ruangan dibalik toko. Dandi langsung tersenyum. Bagi Dandi, diamnya Rianti saat itu berarti sebuah persetujuan kalau pria itu boleh menginap di sana. Dandi langsung mengambil ponselnya untuk memberi tahu Sandi.
Sebelum masuk ke ruangan yang sama dengan Rianti, Dandi terlebih dahulu menutup pintu dan mengganjalnya dengan kotak buah dari kayu berisi jeruk, yang letaknya ada di dekat pintu. Setelah selesai, Dandi langsung masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Rianti,
Senyum Dandi seketika terkembang begitu menyadari di sana hanya ada satu kamar dan dengan jantung yang berdegup kencang, kakinya melangkah perlahan menuju pintu kamar yang hanya di tutup dengan tirai.
__ADS_1
"Kamu ngapain masuk kesini!" seru Rianti yang sudah terbaring dan kebetulan wajahnya menghadap pintu kamar. Wanita itu langsung bangkit dari berbaringnya.
"Ya mau tidurlah, mau ngapain lagi," jawab Dandi dengan santainya.
"Tapi nggak satu kamar juga," seru Rianti lagi.
"Lah terus aku tidur dimana? Masa aku tidur di atas tumpukan buah? Di sini juga nggak ada sofa," balas Dandi dan langsung membuat Rianti terdiam. Di sana memang tidak ada apa apa, Tapi untuk tidur satu kamar dengan Dandi juga tidak mungkin, walaupun mereka pernah melakukan hal yang lebih.
"Udah nggak usah mikir macem macem. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan," ucap Dandi lagi sembari melangkah masuk dan duduk diatas karpet. "Aku akan tidur di karpet ini, tenang aja. Nggak usah mikir yang enak enak. Nanti juga akan kita melakukannya sampai puas setelah kita menikah."
"Apaan sih?" sungut Rianti sambil melempar salah satu bantal ke tubuh Dandi, lalu dia berpaling dan merebahkan tubuhnya dengan memunggungi pria yang sedang cengengesan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dandi juga ikut berbaring di atas karpet yang menjadi alas kasur Rianti. Mata Dandi menerawang menatap langit langit dengan pikiran yang berkelana. Dan tentunya, Rianti juga sama.
...@@@@@@...