
Masih di malam yang sama. Setelah mendengar ide dari Randi, Paman Iksan dan dua anggota keluarganya langsung menyetujui ide pria tersebut. Awalnya Paman Iksan sedikit keberatan. Pria itu memiliki keinginan dengan caranya sendiri. Namun setelah mendengar penjelasan dari Randi, sang Paman pun dengan mantap sangat setuju.
Ketiga pria yang tadi menghadang Eliza dan Randi langsung digelandang ke rumah Paman Iksan. Beberapa warga yang menyaksikan kejadian itu pun ikut bergabung di rumah Iksan dengan berbagai tujuan. Banyak yang penasaran dengan apa yang sedang terjadi di rumah Paman iksan. Dari sekian banyak yang bertanya, hanya Anto yang memberi jawaban ke beberapa orang, dan jawban itu langsung tersebar dari mulut ke mulut.
Di lain tempat, orang yang menjadi dalang atas kejadian yang menimpa Eliza, saat ini juga sedang merasa cemas. Pria bernama Rudi itu sedikit khawatir karena hingga beberapa menit berlalu, teman teman yang diminta untuk membantu rencananya tidak memberi kabar. Berkali kali pria itu menatap layar ponselnya, tapi tidak ada satupun dari tiga temannya yang memberi informasi.
Hingga beberapa puluh menit berlalu, Rudi baru bisa bernafas lega saat ada sebuah pesan masuk. Dari nama yang tertera dalam pesan itu jelas sekali kalau yang mengirim pesan adalah salah satu temannya. Dengan sangat semangat Rudi langsung bersiap diri untuk menjalankan aksinya.
Seperti yang sudah direncanakan, Rudi akan pura pura melewati suatu tempat yang sudah ditentukan. lalu dia akan bertingkah kalau dia mendengar suara kegaduhan serta teriakan minta tolong. Rudi dengan rasa antusiasnya langsung melajukan motor miliknya menuju tempat yang sudah ditentukan.
__ADS_1
Namun sayang, begitu Rudi sampai di lokasi yang dia tuju, kening Rudi sontak berkerut, karena lokasi yang memang sepi itu tidak ada tanda tanda kegaduhan sesuai dengan rencananya. Tempat itu adalah gedung bekas lapangan futsal yang memang sudah cukup lama terbengkalai. Untuk memastikannya, Rudi lantas mengirim temannya sebuah pesan.
Tak perlu waktu lama untuk menunggu, Rudi langsung memndapat pesan balasan yang menyatakan kalau temannya memang sudah berada di lokasi. Bahkan pesan tersebut juga membagi lokasi yang memang tempatnya sudah ditentukan. Rudi pun menjadi yakin dan dia segera saja turun dari motornya, lalu melangkah melewati gerbang yang sudah terbuka. Rudi berjalan perlahan menuju salah satu ruang yang sudah ditentukan.
"Cari siapa, Mas?" sebuah suara tiba tiba muncul dari arah belakang Rudi ketika pria itu sudah sampai didekat lokasi yang telah direncanakan. Merasa asing dengan suara yang dia dengar, Rudi langsung berbalik badan, dan seketika matanya langsung membelalak saat melihat wajah orang yang bertanya.
"Anto!" pekik Rudi. Ya, dialah Anto, sepupu dari Eliza. Setelah menggiring ketiga orang tersangka ke rumahnya, dia langsung menjalankan rencana yang diusulkan Randi. bahkan tak lama setelah Anto menampakan diri, Randi juga ikut menampakan wajahnya. Tempat itu memang tidak terlalu gelap, ada cahaya remang remang dari beberapa lampu yang berada di tepi jalan dan menyoroti sebagian tempat itu.
Rudi langsung salah tingkah. "Nggak, nggak kenapa kenapa. Kamu ngapain malam malam berada di tempat seperti ini, To?" tanyanya dengan sikap yang dibuat sebiasa mungkin. Tapi sayang apapun usaha yang Rudi lakukan sudah terbaca oleh Anto dan Randi.
__ADS_1
"Lagi nunggu orang yang katanya mau datang menyelamatkan Eliza," jawab Anto sembari menunjukan sebuah ponsel. Mata Rudi kembali membelalak. Selain terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut Anto, Rudi juga terkejut dengan ponsel yeng menampilkan layar chat. Rudi seperti paham kalau ponsel itu adalah milik temannya.
Sedangkan Randi, dia memilih diam, hanya memperhatikan dua pria yang saling kenal itu berinteraksi. Yang satu terlihat tenang meski amarahnya sudah sangat membumbung tinggi, sedangkan satunya lagi sedang dilanda rasa panik yang luar biasa karena kebohongannya sudah dipastikan gagal total.
"Kamu sendiri ngapain berada di tempat ini malam malam?" tanya Anto dengan tatapan penuh mengintimidasi.
Rudi semakin dibuat salah tingkah. Otaknya langsung bekerja guna mencari alasan yang tepat. "Tadi niatnya aku mau buang air karena udah sangat kebelet, To," jawab Rudi agak tergagap. "Ya udah, karena nggak jadi pergi buang air, aku memilih pulang terlebih dulu."
Rudi langsung saja melangkah tanpa menunggu balasan dari Anto. Tapi langkah kaki pria itu terhenti saat Anto kembali melemparkan sebuah pertanyaan. "Kamu nggak pengin ketemu sama ketiga teman kamu? Teman teman kamu ada di rumahku loh, Rud."
__ADS_1
...@@@@@@...