
"Reyhan mau sama ayah." jawaban sederhana dari seorang bocah yang usianya hampir menginjak angka tiga tahun, cukup membuat suasana hati tiga orang disekelilingnya merasa campur aduk. Jika Sandi terlihat senang sampai menunjukkan senyum lebarnya, berbeda dengan pria yang menggendong Reyhan. Pria itu berusaha menyembunyikan rasa kecewanya mendengar pilihan anak itu. Begitu juga dengan Arimbi. Entah apa yang dirasakan wanita itu saat ini.
"Reyhan yakin mau tetap disini? Nggak mau main dengan Om lagi?" pria itu seakan tidak terima dengan pilihan Reyhan sampai dia nekat melontar pertanyaan yang seakaan mempengaruhi Reyhan untuk merubah keputusannya. Tentu saja hal itu membuat Sandi cukup meradang, tapi ayah dari anak itu mencoba untuk menahan amarahnya. Sandi ingin memastikan jawaban Reyhan berubah atau tidak.
"Reyhan mau sama ayah," jawaban yang sama kembali terlontar dari mulut Reyhan, dan hal itu menumbuhkan rasa yang berbeda dalam benak dua pria dewasa yang ada di sana. Sandi bergerak, mengambil alih bocah itu ke dalam gendongannya. Pria yang menggendong Reyhan terlihat pasrah dan dia juga saat ini sedang menahan amarahnya karena kalah akibat pilihan Reyhan.
"Reyhan mau main sama ayah?" tanya Sandi lagi, dan bocah itu dengan sangat antusias mengangguk dengan diiringi senyum yang cukup lebar, membuat pria itu semakin merasa iri dan Arimbi malah terharu. Baru kali ini Arimbi melihat anaknya sesenang itu saat bersama seorang pria yang dipanggil ayah. "Ya udah, sekarang kita masuk yah," Sandi meninggalkan dua orang terpaku di depan warung makannya.
"Anak itu bahkan sampai melupakan ibunya," ucap pria itu dengan tatapan yang entah sulit diartikan. Yang pasti saat ini ada rasa kecewa dibalik ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Ya sudah, Mas, berhubung Reyhan tidak mau pulang, kamu mending pulang dulu, aku akan pergi sebentar karena ada urusan," ucap Arimbi.
Pria itu langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Arimbi. "Yakin ada urusan?" pertanyaan itu cukup membuat Arimbi terkejut.
__ADS_1
"Iya, emang kenapa?" jawab Arimbi dengan segala keterkejutannya.
Tiba tiba pria itu tersenyum tipis. "Ya nggak apa apa sih."
"Ya udah kalau nggak ada apa apa, aku mau naik ojeg aja, maaf ya, Mas," Arimbi langsung hendak pergi sebelum pria itu mermbalas ucapannya.
"Nggak mau aku antar?"
"Nggak perlu," tolak Arimbi lalu dia memanggil ojeg yang ada di sekitar itu.
"Siapa pria itu, San? Apa dia cowok yang suka dengan Arimbi?" Randi melempar pertanyaan setelah menyalakan kompor karena ada dua orang pembeli yang masuk ke rumah makannya dan terlihat sedang memesan kepada salah ssatu karyawannya.
"Yah, dilihat dari sikapnya sih kayaknya dia memang ada rasa sama Arimbi," jawab Sandi. "Sepertinya juga dia cukup dengan Reyhan."
__ADS_1
"Aku juga ngerasanya gitu. Apa lagi tadi anak kamu langsung nempel gitu aja dalam gendongan pria itu. Mungkin dia memang sudah lama dekat dengan anak kamu," Dandi pun ikut mengeluarkan suaranya.
"Mungkin aja, tadi aja sempat bikin aku emosi," balas Sandi. "Masa, mentang mentang dekat dengan anakku, dia seenaknya gitu meminta Arimbi untuk menjemput Reyhan. Ya jelas aku nggak terima dong. Enak aja, mentang mentang anakku aktab sama di, mau berbuat seenaknya."
"Hahaha ... ya nggak apa apa kan? Kali aja dia mau jadi ayah sambungnya Reyhan. kayaknya dia sayang banget sama anak kamu," cibir Dandi. "Lagian, bukankah dulu kamu nggak menginginkan anak ini? Kenapa sekarang malah berbeda haluan?"
"Dulu ya dulu, sekarang ya beda. Apalagi lihat nih sekarang, Reyhan lucu banget. Sumpah sih, aku nyesel nggak lihat tumbuh kembangnya dia sampai segede ini. Di panggil ayah itu seakan capeknya hilang gitu."
"Dihh gaya kamu, San" Randi ikut mencibir.
"Yee, nggak percaya. Nanti kalau kalian punya anak, kalian pasti akan merasakan kalau ucapanku kali ini memang benar," balas Sandi denga penuh keyakinan dan hal itu cukup membuat dua sahabatnya takjub dan juga ada sedikit rasa iri.
"Tapi, San, kapan kamu akan jujur sama keluarga kamu, kalau kamu sudah memberi mereka cucu sebesar ini?"
__ADS_1
...@@@@@@...