
Dan petang hari pun tiba. Di sebuah rumah, nampak beberapa orang sedang terlibat obrolan di sebuah ruangan. Dilihat dari wajah wajahnya, beberapa orang itu nampak sekali sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Bahkan suara tawa hampir sama sekali tidak terdengar dari orang orang yang ada di sana.
"Berarti sekarang, Arimbi berada di rumah Sandi, Yah?" tanya seorang wanita yang kemungkinan adalah kakaknya Arimbi.
"Iya, sejak kemarin dia berada di rumah pria itu," jawab pria yang dipanggil Ayah.
"Apa Arimbi sudah memaafkan pria itu, atau gimana? Kok, sampai dia mau berada di rumah Sandi?" tanya orang yang sama.
"Ayah sendiri kurang tahu," jawab sang Ayah. "Tapi jika dilihat dari kedekatan ayah dan anak Arimbi, Ayah dapat melihat kalau mereka memang sudah sangat dekat."
Kakak Arimbi terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sementara yang lain masih menjadi pendengar yang baik dari obrolan yang terjadi. "Kalau menurut aku sih, terserah Ayah akan memutuskannya bagaimana. Arimbi sudah punya anak dan pastinya dia sudah bisa menentukan apa yang menurutnya terbaik untuk hidupnya."
"Ya nggak bisa begitu dong, Bang," orang yang ada di sana mulai ikut bereaksi. "Harusnya kan kita meyakinkan Arimbi kalau cowok itu tidak baik untuk dia. Dulu aja Sandi nggak mau tanggung jawab dengan kehamilannya, kan? Masa iya sekarang mau dilepaskan begitu saja dan diberi restu, keenakan Sandinya."
"Lalu menurut kamu, apa kamu lebih suka melihat anaknya Arimbi yang menderita gitu?" balas kakaknya Arimbi atas ucapan adiknya. "Kalau Arimbi tidak melahirkan anaknya Sandi, Arimbi bisa saja mencari pria lain, tapi kan sekarang anaknya menjadi pertimbangan juga."
"Tapi masa semudah itu memberi kesempatan kepada Sandi? Enak banget dong hidupnya, nggak ada karma sama sekali."
__ADS_1
"Ya elah, kamu mau membandingkan cerita nyata dengan cerita novel online? Astaga!" orang lain yang ada di sana ikut memberikan respon pada kakak perempuan Arimbi. "Posisikan anak kamu seperti anaknya Arimbi, jika mereka berpisah dengan ayahnya bagaimana?"
Wanita itu sontak terdiam. Hanya dengusan kasar yang dia tunjukan sebagai tanda kalau dia kesal karena tidak ada yang mendukung pendapatnya. Bersamaan dengan itu, datang seorang menghampiri mereka semua.
"Maaf, Pak, Bu, ada tamu," ucap orang itu yang seketika menjeda obrolan yang sedang terjaadi dalam keluarga itu.
"Tamu? Siapa, Mang?" tanya kakaknya Arimbi.
"Neng Arimbi, Mas,"
Deg!
"Ya Mamah jangan seperti itu dong? Masa Mamah lebih ngebelain Dandi daripada Papah?" protes salah satu kakaknya Rianti begitu menddengar pertengkaran orang tuanya. "Mah, harusnya Mamah itu mendukung Papah, bukan malah ngancam bercerai. Nggak baik, Mah."
"Kalian ngomong kayak gitu biar kalian bebas, bukan?" sekarang Mamahnya Rianti bertanya kepada anak anaknya dengan segala amarahnya. "Kalian pasti takut dan merasa terbebani jika disuruh merawat Papah kalian bukan?"
"Ya bukan begitu, Mah," bantah salah satu anaknya. "Kami hanya ingin Mamah dan Papah itu tidak berpisah."
__ADS_1
"Iya, Mah," kakak Arimbi yang lain menimpali. "Lagian kenapa sih Mamah malah mendukung Dandi untuk balikan sama Rianti? Apa Mamah lupa yang sudah Dandi lakukan kepada keluarga kita?"
"Ingat, Mamah sangat ingat. Tapi setidaknya Mamah lebih memikirkan nasib Rianti daripada papah kamu. Sekarang kalian tanya sama Papah kalian, kenapa Papah sampai sekarang tidak mau diajak ketemu Rianti, meski sudah tahu alamat keberadaannya, tanya?"
Semua sontak terdiam begitu mendengar murkanya seorang Ibu yang sangat kecewa pada suaminya. Sang papah lebih banyak terdiam karena sejak kemarin, pria itu selalu disalahkan oleh istrinya. Tidak seperti biasanya, Papaj Rianti akan diam seperti itu.
"Bahkan sampai detik ini saja, Papah kalian masih enggan menemui anaknya, padahal dia tahu Rianti ada di kota, tapi apa yang papah kalian lakukan? Dia sibuk sendiri dengan urusannya. Mamah sengaja tidak berbicara dengan papah kalian dari kemarin, berharap Papah ada inisiatif untuk ngajak Mamah bertemu Rianti. Tapi nyatanya, Papah sangat tidak peduli dengan adik kalian."
"Ya harusnya Mamah ngomong dong sama papah, kalau Mamah diam, ya Papah nggak bakalan ngerti?"
"Kalau soal Rianti, Papah itu nggak pernah mau mengerti. Tapi kalau soal kalian, Papah akan maju paling depan. Mamah sudah satu hari ini memberi kesempatan kepada Papah kalian, tapi sepertinya Papah kalian memang lebih memilih Mamah pergi bersama Rianti."
Semua yang ada di sana sontak terkesiap dengan ucapan Mamah. Namun di saat salah satu dari mereka akan mengeluarkan suara, tiba tiba ada suara lain yang menggema diantara mereka.
"Maaf, Pak, Bu, Ada Neng Rianti di depan."
Deg!
__ADS_1
...@@@@@@...