
Masih di malam yang sama, kesibukan cukup terlihat di rumah yang berbeda milik tiga wanita. Masing masing dari mereka sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya begitu mendengar pihak laki laki yang kemarin datang melamar, akan datang bersama orang tua mereka. Karena terlalu mendadak, para keluarga dari Tiga wanita juga tidak mempersiapkan segalanya secara sederhana.
"Bu, mau sama ayah," rengek seorang anak kecil yang sedari tadi, hampir tidak mau lepas dari gendongan wanita yang telah melahirkannya.
"Ya tunggu sebentar, sayang, ayah kan sedang menuju kemari bareng Eyang," hibur Arimbi kepada anaknya yang sudah merengek sejak tadi siang.
"Tapi kok lama banget sih, Bu?" protes sang anak. "Dari tadi tunggu sebentar terus."
"Ya kan perjalannya macet, Rey, jadi ayah agak lama bawa mobilnya," Arimbi sampai harus berbohong seperti itu beberapa kali. Tapi sepertinya anaknya sudah tidak percaya dengan alasan itu.
"Tadi macet, sekarang macet, macet terus," gerutu sang anak sampai membuat Arimbi gemas dibuatnya.
"Sambil nunggu kedatangan ayah, Reyhan main dulu sana sama Arkana," celetuk kakaknya Arimbi. Arkana adalah nama anak dari kakaknya Arimbi. "Arkana banyak mainan loh," Reyhan tetap diam. Dia sama sekali tidak tertarik dengan bujukan Pakdenya.
"Apa semua anak anak seperti itu ya? Arkana juga kalau sudah minta sama papahnya, huh ngeselin," kakak ipar Arimbi ikut menimpali.
__ADS_1
"Bisa jadi, Mbak. Reyhan juga. Kalau udah sama ayahnya, Ibunya tidak dianggap," Arimbi ikut menyahuti.
"Benar, padahal kita yang mengandungnya ya? ayahnya cuma nyumbang benih doang, tapi sama ayahnya, bisa kayak nggak mau dipisahkan," ucap kakak ipar, dan berhasil membuat semua orang yang ada di sana tersenyum cukup lebar. di saat bersamaan, mereka mendapat laporan kalau tamu yang mereka tunggu sudah datang.
"Tuh, Rey, ayah kamu datang," celetuk kakak ipar. Tanpa pikir panjang, anak itu minta turun dari pangkuan ibunya.
"Astaga!" hampir semua keluarga dibuat takjub dengan anak laki laki yang sebentar lagi genap tiga tahun usianya.
Suasana ramai juga terlihat malam ini pada salah rumah yang sudah mempersiapkan sambutan kecil atas kedatangan tamu yang akan melamar satu satu dari anggota keluarga di rumah itu.
"Kamu sedang nyindir aku?" ucap Papahnya Eliza dengan suara yang cukup lantang dan tatapan yang sedikit tajam ke arah wanita itu.
"Siapa yang nyindir?" Tante terlihat tidak terima karena awalnya memang dia tidak ada niat untuk menyindir pria yang menjadi suami dari kakaknya Tante.
"Terus tadi, ngomong Eliza bersembunyi ditempat yang tepat, maskudnya apa? hah!" Sang Papah makin menunjukkan amarahnya.
__ADS_1
"Udah, Pah," Mamahnya Eliza langsung turun tangan. "Orang mau ada tamu kok malah pada ribut."
"Ya itu, adik Mamah, ucapannya nggak bisa dijaga," balas Papah dengan sewot dan kesal.
Tante hanya mencebikkan bibirnya sebagai tanda kalau dia menang. Memang sudah bukan rahasia umum lagi, permusuhan antara papahnya Eliza dengan paman Iksan, sudah diketatui seluruh keluarga Eliza. Bahkan beberapa orang orang yang dekat dengan keluarga Eliza juga ada yang mengetahuinya.
Perbebatan itu pun berakhir. Selain karena ucapan Mamahnya Eliza, mereka juga mendapat laporan kalau tamu yang sedang mereka tunggu telah tiba di halaman rumah. Semua anggota keluarga Eliza yang hadir di sana langsung bangkit dari duduknya dan beranjak untuk menyambut tamu mereka.
Sama seperti keluarga Arimbi dan Eliza, keluarga Rianti pun sama, saat ini sedang menunggu kedatangan keluarga dari pria yang akan melamar Rianti. Ini adalah pertemuan kedua dari dua keluarga tersebut. Jika dulu pertemuan pertama mereka diwarnai dengan sambutan yang cukup mewah, tapi malam ini, hanya sambutan sederhana yang bisa mereka suguhkan. Rasa canggung tentu saja akan menyelimuti dua keluarga itu, di malam ini, karena mereka kembali dipertemukan dalam suasana hati yang berbeda.
"Kayaknya di dunia ini, cuma Rianti yang mengalami dilamar dua kali oleh pria yang sama dengan status masih gadis," celetuk salah satu kakak lelakinya. Bukan niat mengejek atapun meledek. Tapi hal ini memang cukup unik menurut pria itu.
"Namanya juga takdir, kan kita nggak tahu," seorang wanita muda yang ada disana ikut bersuara. Dia adalah kakak iparnya Rianti.
"Takdir yang cukup mencengangkan. Kalau tahu pada akhirnya mereka aka menikah, kenapa dulu Dandi harus bikin ulah kekanakan kayak gitu?" ucap kakaknya Rianti. Tapi ucapan itu tidak ada satupun yang membalasnya. Karena pada saat itu juga, tamu yang ditunggu keluarga Rianti telah datang.
__ADS_1
...@@@@@...