TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Tiga Lawan Satu


__ADS_3

"Mereka siapa?" tanya Eliza begitu melihat tiga buah motor yang sepertinya memang sengaja menghalangi jalannya. Sedangkan Randi yang sudah tahu hal ini akan terjadi, memilih bersikap tenang karena ada seseorang yang harus dia lindungi saat ini. "Kalian, tolong minggir sebentar, aku mau lewat!" teriak Eliza pada tiga orang pengendara motor yang masih setia memakai helm untuk menutupi wajah mereka.


Bukannya menuruti permintaan Eliza, tiga pemotor itu malah turun dari motornya dan hampir serentak melangkah menuju ke arah Randi dan Eliza berada. Jarak mereka hanya sekitar tiga meter, namun Randi menggunakan kesempataan itu untuk bersiap siap melawan mereka.


Betapa terkejutnya Eliza saat Randi memintanya untuk turun. "Kenapa aku harus turun?"


"Kamu nggak lihat di depan ada bahaya?" balas Randi dengan suara yang cukup lantang sampai Eliza terkejut dibuatnya. Wanita itu memang merasa aneh dengan sikap tiga pria itu. Dan sejetika Eliza turun dari motor dan tanpa sadar dirinya meminta perlindungan pada pria yang memunggunginya.


"Serahkan Eliza pada kita, cepat!" perintah salah satu dari tiga pria itu, dengan memakai helm merah, begitu ketiganya berdiri tepat di hadapan Randi dengan sisa jarak sekiitar satu meter saja.


"Apa!" seru Randi dengan telinga sedikit di dorong maju. Randi seolah olah tidak mendengar ucapan pria berhelm merah tersebut.


Sedangkan Eliza yang juga mendengar permintaan orang itu langsung merasa takut dengan mata mengedar ke sekitar. Eliza hendak meminta bantuan, tapi sayang jalan yang dilalui Eliza saat ini hanya perkebunan dan sawah yang cukup gelap. hanya ada lampu di sisi kanan dan kiri jalan sebagai penerang.


"Serahkan Eliza, cepat!" bentak pria berhelm merah dengan lantang. Tapi lagi lagi Randi menunjukan sikap yang sama, pura pura tidak mendengar. "Kamu nantangin?"

__ADS_1


"Maaf, Bos!" balas Randi dengan berteriak. "Aku nggak dengar kamu ngomong apa?" Randi sengaja berteriak bukan untuk memancing sebuah bertolongan, tapi agar tiga pria itu mau membuka helm yang mereka pakai.


"Serahkan Eliza cepat! Nggak perlu pake teriak!" kini gantian yang memakai helm hijau yang berteriak. Tapi seperti biasa, Randi masih bersikap sama seperti sebelumnya. Sedangkan tangan Eliza yang memegang salah satu ujung pakaian Randi, nampak mengencangkan pegangannya sebagai tanda kalau wanita itu dalam ketakutan.


"Kalian ngomong apa sih! Aku nggak dengar!" teriak Randi dengan kencang dan hal itu malah semakin membuat tiga orang itu naik pitam.


"Hajar aja dia, kelamaan! Serang!" titah pria yang memakai helm hitam. Tanpa banyak penolakan mereka bersiap untuk menyerang Randi. Yang pertama maju adalah pria yang memakai helm merah.


"Mampus kau, sialan! Hiyaat!" pria berhelm merah langsung melayangkan tinjunya. Tapi sayang, pria itu harus menelan kekecawaan. Hantaman tangannya bukannya mengenai tubuh Randi, tapi malah dengan keras menghantam helm milik pria yang bernama Eliza. "Akhh!" pria berhelm merah seketika berteriak kesakitan sambil memegangi jari tangannya. Di saat pria berhelm merah sedang lengah karena kesakitan, Randi melayangkan tendangan.


Dakh!


Dakh!


Bugh!

__ADS_1


Dezig!


Perkelahian benar benat tidak dapat dihindari. Namun keberuntungan masih berada dipihak Randi, tiga pria berbadan ceking itu tumbang setelah mendapat beberapa pukulan, hantaman dan tendangan dari lawannya yang hanya satu orang. Karena merasa kalah, ketiga pemuda itu hendak bersiap untuk kabur, tapi Randi tak kehilangan akal. Daripada memaksa mereka meminta untuk berterus terang kalau mereka disuruh seseorang, Randi bergerak cepat lalu menendang motor mereka, dan mencabut semua kunci motor milik tiga pria itu.


"Za, telfon saudaramu agar segera datang kesini? Cepat!" titah Randi. Dengan tangan gemetar Eliza langsung mengambil ponsel dalam tas slempangnya, sedangkan Randi mengawasi pemuda yang terduduk lesu di jalanan. Setiap mereka melakukan pergerakan, Randi akan melayangkan tendangan tanpa ampun.


Tak butuh waktu lama, saudara Eliza datang bersama pamannya. "Ada apa Eliza? Apa yang terjadi?" sang Paman bertanya dengan perasaan yang sangat khawatir.


"Aku tidak tahu, Paman. Tiba tiba tiga orang ini menghalangi jalanku saat aku mau pulang," ucap Eliza yang merasa lega dengan kedatangan paman dan saudaranya.


"Paksa mereka untuk membuka helm, Mas! Dari tadi mereka nggak mau membukanya, takut wajahnya kelihatan mungkin," seru Randi pada saudara Eliza yang tengah memandang tajam kepada tiga pria itu.


"Kau!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2