TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Menikmati Malam


__ADS_3

Malam ini, cuacanya nampak begitu cerah. Langit bahkan terlihat cantik dengan cahaya bintangnya yang sangat banyak. Udara juga tidak terlalu dingin ataupun panas. Cukup segar menyentuh kulit. Malam yang cerah ini, memang sangat cocok untuk menghabiskan waktu di luar rumah.


Seperti yang di lakukan oleh tiga pria yang tinggal dalam satu atap. Mereka menghabiskan waktu malam itu di luar rumah. Tidak perlu jauh jauh, cukup melangkah beberapa menit, mereka sudah berada di antara orang orang yang menikmati malam itu di sebuah taman kota.


Pada saat cerah seperti ini, suasana taman kota itu memang cukup ramai. Berbagai orang dari berbeda kalangan berdatangan untuk sekedar melepas penat atau menghabiskan waktu di tempat yang tidak di pungut biaya sama sekali. Dari kalangan anak kecil sampai yang tua, bisa menikmati fasilitias yang memang disediakan oleh pemerintah setempat.


Jika lapar, para pengunjung tidak perlu khawatir. Di taman kota itu juga tersedia berjejer pedagang makanan pada salah satu sisinya. Dari makanan ringan sampai makanan berat ada semua. Selain itu, beberapa usaha permianan untuk anak anak juga tersedi di sana. Juga sebuah cafe dan sarana lain yang membuat taman kota itu semakin nyaman untuk dijadikan tempat mengisi waktu.


Tiga pria lajang yang usianya sudah hampir menginjak angka dua puluh delapan tahun itu, benar benar menikmati suasana yang sebenarnya jarang mereka nikmati saat masih di kota besar. Dulu jika sedang libur menjalankan usahanya, mereka biasanya menghabiskan waktu di cafe atau tempat hiburan lain yang sering mengeluarkan uang cukup banyak. Namun kali ini, mereka tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk melepas penat.


"Gila yah? Tempat kayak gini bisa rame banget," seru Randi sambil menikmati makanan ringan berupa kacang dan jagung rebus, serta wedang bajigur yang menghangatkan tubuh.

__ADS_1


"Ya elah, namanya hiburan rakyat. Apa lagi gratis. Ya pastinya sangat diminati para warga," Sandi menimpali.


"Ya itu yang membuat aku takjub. Coba kalau di kota. Kita bahkan kalau ada taman, cuma lewat doang. Sekalinya ke taman, pas olahraga pagi doang. Itu aja taman dekat komplek rumah," balas Randi.


"Hahaha ... mungkin karena kita merasa kalau kita orang kaya, untuk melepas lelah aja sampai mengeluarkan uang banyak. Ingat nggak saat kita ke cafe yang ada di lantai paling atas gedung hotel, lebih dari lima juta hanya kita habiskan dengan makanan yang sebenarnya sangat tidak mengenyangkan," Dandi menimpali dengan raut wajah yang terliha heran dengan kelakuan dirinya sendiri di masa lalu.


"Hahaha ... benar," kedua temannya ikut terbahak. "Pisang goreng hanya beberapa potong aja seratus ribu. Padahal rasanya sama enaknya dengan pisang goreng sebelah sana yang satu porsi sepuluh ribu. Edan," ucap Randi tak kalah herannya dengan kelakukan sendiri.


"Ya itulah uniknya manusia. Kita lebih peduli akan penilaian orang lain yang tidak kita kenal hanya agar mereka mengakui kalau kita itu lebih dari mampu. Padahal tidak sedikit manusia yang menggunakan cara kotor demi bisa memenuhi gaya hidupnya," Sandi menimpali ucapan sahabatnya dengan logika yang memang benar adanya.


"Setuju!" seru Randi. "Hidup memang nggak perlu banyak gaya. Apa lagi gaya hidup. Kapok aku."

__ADS_1


Mereka pun serentak terbahak bersama sembari mengingat kebodohan mereka hanya demi gengsi dan gaya hidup di masa lalu.


"Ngomongin masalah gaya hidup, kalian pernah mikir nggak sih kalau cewek cewek yang pernah kita lukai, juga berubah gaya hidupnya," Randi kembali bersuara di sela sela menikmati kacang rebusnya.


"Nah, iya!" seru Dandi. "Sumpah, aku juga kaget saat tahu Rianti jualan buah. Benar benar tidak sama dengan Rianti yang dulu aku kenal. Kalian ingatkan betapa gaya hidup Rianti sangat wah."


"Ya, sama. Semua memang berubah," Sandi juga ikut memberi penilaian. "Maka itu, aku jadi semakin yakin kalau aku harus menikah dengan Arimbi. Setidaknya, kita bisa menjalani hidup sederhana nantinya."


"Berarti, setidaknya perbuatan kita dulu, ada hikmahnya juga ya buat mereka," ucap Randi.


"Ya elah, Ran. baik buruknya sebuah perbuatan, pasti memang selalu ada hikmahnya. Maka itu, kita harus bisa memanfaatkan hikmah yang kita alami untuk menunjukkkan kalau kita itu memang layak untuk mereka. Betul nggak?"

__ADS_1


"Betul!"


...@@@@@@...


__ADS_2