TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Tidak Sesuai Harapan


__ADS_3

"Arimbi? Mas kenal dengan Arimbi?" pria yang bertamu di saat petang itu mengangguk sembari tersenyum. Wanita paru baya yang tadi melemparkan pertanyaan sontak mengerutkan keningnya. "Masnya kenal dimana?"


Sandi tersenyum tanggung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di saat Sandi akan memberi jawaban, seorang anak kecil berlari menghampiri wanita sembari berteriak. "Nenek!"


"Eh, cucu Nenek udah gagah. Reyhan udah sholat?" tanya wanita itu sambil menggendong bocah yang menghampiri. Si bocah mengangguk dengan bibir mengerucut. Dia terlihat acuh dengan pria yang sedang menatapnya. "Masnya udah sholat? Mungkin Arimbinya lagi sholat sekarang?"


"Boleh numpang sholat disini, Bu?"


"Oh silakan, mari ikut saya." Sambil menggendong Reyhan, wanita itu beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah dapur menujukkan kamar mandi.


Saat langkah Sandi melewati ruang untuk sholat, matanya menangkap sosok wanita yang sedang menjalankan kewajibannya seorang diri. Sandi yakin kalau dia adalah orang yang Sandi ikuti. Sandi mengulas senyum lalu menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu.


Setelah bersuci, Sandi berdiri di dekat tempat sholat karena orang yang memakai tempat itu sedang berdoa. Arimbi nampak terkejut saat selesai berdoa dsn berbalik badan, melihat Sandi ada sudah disana. Dia melengos meski Sandi sudah semaksimal mungkin bersikap ramah. Sepeninggal Arimbi, Sandi langsung menempati ruang yang cukup untuk dua orang untuk menunaikan ibadah.


Usai melakukan kewajiban, Sandi duduk kembali di ruang tamu. Di sana ternyata sudah ada Arimbi dan anaknya. Segelas teh hangat dan sepiring gorengan juga sudah tersaji di atas meja. Meski agak canggung, Sandi mendudukan pantatnya di kursi yang tadi dia duduki.


Di tempat lain, tepatnya tak jauh dari taman kota dan juga bangunan yang dikontrak tiga pria, Randi sedang duduk di sebelah warung tenda, memperhatikan wanita yang saat ini sedang malayani pembeli. Meski wanita itu nampak acuh, tapi Randi terlihat tidak peduli. Dia tetap berada tak jauh dari wanita yang sudah dipastikan kalau dia adalah Eliza.

__ADS_1


"Dia siapa, Za?" tanya seorang pria sambil menggoreng nasi pesanan salah satu pembeli. Pria itu sedari tadi memperhatikan gerak gerik Randi yang agak aneh. Duduk di dekat warung tendanya, tapi tidak memesan apapun.


"Nggak tahu. Orang gila mungkin," jawab Eliza dengan wajah kesal.


Randi yang mendengarnya hanya tersenyum simpul. Randi lantas bangkit dan mendekat ke arah pria yang ada di sana. "Maaf, Mas. Mas suaminya Eliza?"


"Iya, kenapa?" bukan si pria yang menjawab tapi Eliza dengan ketusnya. Sedangkan pria yang ditanya menatap Eliza dengan tatapan bingung.


"Oh, selamat ya? Semoga langgeng," ucap Randi dengan senyum yang dipaksakan. "Kalau gitu aku pesen mie rebus satu."


"Baik, Mas," kini si pria yang menjawab dengan ramah. "Tunggu sebentar ya? Setelah ini."


Di tempat yang berbeda, Dandi juga sedang duduk kembali di depan sebuah toko. Meski dia tahu sedari tadi diabaikan oleh wanita yang ada di toko buah tersebut, Dandi tetap bertahan dan berharap ada peluang untuk berbicara dengan wanita masa lalunya.


Sampai seorang laki laki datang dan disambut dengan hangat oleh wanita bernama Rianti. "Sayang, kok baru datang sih?"


Dandi tertegun. Mendengar kata sayang keluar dari mulut wanita itu, membuat hati Randi seperti ada goncangan. Bahkan tanpa segan Rianti bergelayut di lengan pria yang baru datang itu. Yang tidak Dandi sadari, wajah pria itu juga nampak terkejut dengan tingkah Rianti. Bahkan dia sempat menoyor kepala wanita itu hingga mata Rianti melotot.

__ADS_1


Karena merasa tidak ada harapan untuk sekedar bertegur sapa, Dandi akhirnya memilih pergi tanpa permisi. Rianti yang melihat kepergian Dandi hanya tersenyum sinis melihat kepergian pria itu. Dandi melangkah kembali ke kontrakannya dengan langkah gontai.


"Kamu ngapain duduk di situ, Ran?" tanya Dandi saat langkah kakinya sampai menginjak lantai dua dan melihat sahabatnya duduk di balkon.


"Sedang melihat masa lalu," jawab Randi tanpa menoleh ke arah pria yang melempar pertanyaan. Matanya fokus menatap wanita yang berada di warung tenda seberang kontrakannya.


Dandi melangkah mendekati sahabatnya dan ikutan duduk di tempat yang sama. "Memandang masa lalu?"


Randi mengangguk lemah. "Tuh, Eliza. Ternyata dia sudah menikah."


Mata Dandi membulat dan memandang ke arah yang ditunjuk Randi. "Eliza? Kamu yakin?"


"Nih, mie rebus beli di sana tadi. Dia jualan bareng suaminya."


"Astaga! Kok apes benar," keluh Dandi. "Rianti juga kayaknya sudah menikah. Tadi dia sayang sayangan sama cowok."


Randi menoleh, memandang serius wajah sahabatnya. "Hahaha ... nasib kita memang apes."

__ADS_1


"Betul. Tinggal nunggu cerita Sandi bagaimana nasib dia."


...@@@@@...


__ADS_2