
Hingga waktu terus merangkak maju, tanpa terasa, kini hari sudah berganti lagi. suasana hangat masih tercipta dalam rumah besar yang dihuni oleh keluarga Sandi. Suara tawa sesekali keluar dari mulut orang orang yang saat ini berada di meja makan, akibat sikap anak kecil yang ada diantara mereka.
"Reyhan, Reyhan senang nggak ketemu Eyang semalam?" tanya Sandrina yang saat ini sudah akrab kembali dengan sang keponakan. Karena mereka sering berinteraksi, jadi Reyhan sudah merasa sudah tidak asing lagi dengan keluarga Sandi.
Anak kecil itu menggeleng cepat sambil menguyah makanannya. Setelah makanan dalam mulutnya di telan, Reyhan baru mengeluarkan suaranya. "Eyang galak."
"Galak bagaimana? Emang Reyhan dimarahin?" tanya Sandrina lagi. Semalam saat pulang dari rumah Arimbi, Reyhan memang sudah tertidur, jadi baru pagi ini mereka bisa berinteraksi dengan anak kecil itu.
Reyhan kembali menggeleng. "Ayah dimarahin." suara tawa sontak menggelegar pada arang orang yang ada di sana. Tingkah Reyhan memang menggemaskan. Tidak banyak bicara, tapi sekalinya ngomong membuat semuanya gemas.
"Kalian nanti pergi jam berapa?" sekarang gantian Ibunya Sandi yang bertanya kepada orang tua Reyhan. Dia sudah tahu rencana Arimbi dan Sandi yang akan menemui orang tua Arimbi.
"Ya paling bisanya sore, Mah," jawab Sandi. "Kata Arimbi, biar ketemu semuanya kalau sore atau petang."
"Ya baguslah," sekarang malah Papahnya Sandi yang mengeluarkan suaranya. "Setidaknya, perbaiki dulu hubungan orang tua dan anak. Biar kedepannya semua lancar, karena doa orang tua, juga cukup penting untuk anak anaknya."
__ADS_1
"Siap, Pah. Maka itu, Sandi senang saat Arimbi setuju dengan saran Sandi," balas Sandi dengan antusias.
Di tempat lain, Orang tua Dandi juga sedang membicarakan rencana anaknya dan wanita yang pernah akan menjadi menantu mereka. rencana Dandi dan Rianti untuk menemui orang tua secara bersamaan, membuat orang tua Dandi cukup senang. Setidaknya niat baik Dandi untuk berubah, benar benar ditunjukkan oleh anak yang dulu dikenal sangat bandel.
"Ya, Papah sih cukup senang dengan rencana kalian berdua," ucap Papahnya Dandi. "Yang penting kalian jangan memikirkan hasilnya dulu, jalani aja prosesnya. Untuk hasilnya, nanti juga akan mengikuti. Selama niat kalian baik, pasti juga akan ada kebaikan yang mengiringi kalian."
"Aku juga semalam ngomong kaya gitu sama Rianti, Pah," ucap Dandi disela sela menikmati hidangan sarapannya. "Ya aku bersyukur sih, akhirnya Rianti mau."
"Tapi kamu nggak terpaksa kan, Nak? Bertemu orang tua kamu?" sekarang giliran Mamah yang mengeluarkan suaranya sambil menatap Rianti.
Ibunya Dandi nampak mengangguk dan terlihat senang. "Tapi kenapa mesti sore? Bukankah lebih cepat lebih baik?"
"Biar ketemu semuanya, Tante," jawab Rianti lagi. "Takutnya kalau pagi atau siang datang ke rumah, Mamah atau papah sedang tidak ada di rumah. Nggak mungkin kan, saya menemui mereka di tempat usaha." Kini ibunya Dandi malah tersenyum lebar.
"Lagian, aku juga akan mengecek usahaku lagi, Mah. Biar nanti pas kembali ke kampung, beres semuanya," Dandi menimpali. Hal itu membuat orang tua Dandi cukup mengerti. Mereka pun masih melanjutkan obrolan ke pembahasan yang lainnya hingga acara sarapan di pagi itu selesai.
__ADS_1
Pembahasan yang yang sama juga sedang terjadi di rumah Randi saat ini. Kabar tentang Eliza dan Randi mau menemui orang tua Eliza, tentu saja membuat keluarga Randi juga senang. Mereka sangat mendukung apapun yang Randi lakukan, asal itu memang untuk sebuah kebaikan dan melakukannya dengan cara yang baik pula.
"Tapi kok orang tua kamu, bisa sampai nggak tahu kalau kamu berada di rumah Paman kamu sih, Za?" tanya mamahnya Randi disela sela mereka menikmati sarapannya. "Maaf nih kalau Tante kepo, soalnya ya, Tante merasa aneh aja. Biasnya kan jika anak pergi atau nggak kelihatan, selain rumah temannya, orang tua akan mencari ke rumah saudaranya dulu."
Eliza lantas tersenyum. "Karena saya tahu, tante, Papah tidak mungkin akan mau mencari saya ke rumah Paman Iksan. Hubungan Papah dengan Paman Iksan sedang tidak baik baik saja."
"Loh, kok bisa gitu?" seru Mamahnya Randi, nampak terkejut. Begitu juga dengan Papah dan Randi yang sama sama terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Eliza.
"Saya sendiri nggak tahu masalahnya apa, Tante. Beruntung saat saya pertama kali datang ke rumah Paman, mereka mau menerima saya. Walaupun awalnya Paman juga marah marah, tapi ya Pamanku ternyata hatinya baik."
"Ya syukurlah, semoga, urusan kalian berdua nanti sore lancar ya? Tante hanya bisa mendukung lewat doa saja."
"Aamiin, makasih, Tante." Semua yang ada di meja makan nampak tersenyum senang.
...@@@@@...
__ADS_1