
"Mbak El mau pulang?" tanya si penjual bubur kacang hijau pada wanita yang sedang mulai berbenah dan merapikan lapak jualannya.
"Iya lah, Bu, sudah siang juga," jawab Eliza sembari meneruskan pekerjaannya.
"Kemarin Paman dan pacar kamu ke sini loh, Mbak. Ketemu nggak?" ucap si ibu yang baru ingat dengan hal itu. Padahal dari jam lima pagi mereka duduk bersebelahan karena memang lapak tempat mereka jualan berdampingan. Tapi entah karena alasan apa, wanita itu baru ingat tentang kedatangan Randi dan Paman iksan di pasar kemarin.
"Udah, tahu, Bu, kemarin udah ketemu di rumah," jawab Eliza yang terus melakukan pekerjaannya hinga tidak butuh waktu lama, kini semua dagangan telah masuk ke dalam kotak yang dihadikan meja untuk menggelar barang dagangannya.
"Emangnya mereka ngapain nyariin kamu, Mbak? Apa kamu akan segera dinikahkan dengan pacar kamu, Mbak?" ibu itu semakin penasaran saja, makanya dia banyak melempar pertanyaan yang cukup membuat lawannya merasa jengah. Dari pertanyaan yang terlontar, jelas sekali kalau Eliza tidak menyukainya. Namun Eliza tidak mungkin marah. Dia tetap bersikap sopan dan lembut kepada lawan bicaranya.
"Doakan aja yang terbaik ya, Bu," balas Eliza yang langsung disambut sumringah oleh lawan bicaranya. Dengan sangat antusias, penjual bubur itu mengiyakan ucapan Eliza. Namun di tengah tengah pembicaraan mereka berdua, Eliza di kejutkandengan datangnya seseorang yang Eliza sendiri juga tidak mengenalnya.
__ADS_1
"Maaf, Mbak, apa kamu yang namanya Eliza?" meski sopan, orang yang baru saja datang itu terlihat sangat ketus.
"Iya, bu, saya Eliza. Ada apa yah?" tanya Eliza lebih sopan dengan tutur kata yang pelan dan lembut.
"Bisa kita bicara sebentar?" ajak wanita itu. Eliza tidak memiliki pilihan lain lagi selain menyanggupinya. Karena kebetulan Eliza sudah selesai beres beres dan hendak pulang, Eliza dan wanita itu lantas mencari tempat yang enak untuk ngobrol, sampai keduanya saat ini sudah berada di warung bakso yang ada di sekitar pasar sesuai permintaan ibu itu.
"Kalau boleh tahu, ibu siapa ya?" tanya Eliza yang sebenarnya sudah sangat penasaran sejak tadi ibu itu datang.
Senyum Eliza seketika langsung terkembang. Dia tidak menyangka kalau wanita di hadapannya seperti bisa membaca pikirannya saat ini. "Emang ibu mau bicara apa? Ibu terlihat serius banget gitu?" bersamaan dengan itu dua mangkok bakso pesanan mereka datang.
"Ibu penasaran aja, kenapa kamu nolak anak Ibu? Menurut saya, Rudi itu tampan, anak orang kaya dan nggak suka neko neko. makanya saya kaget waktu dengar itu anak melakukan hal konyol hanya karena cinta," ucap si ibu nampak sangat bersemangat dalam menggambarkan anaknya.
__ADS_1
Eliza tersenyum tipis sambil mencampur aduk baksonya dengan kecap, saus dan sambal sesuai selera dia. "Ya nggak ada hati aja, Bu. Mungkin kalau hanya sekedar berteman, aku mau. Kalau ke arah hubungan yang lebih dari teman, aku belum siap."
Wanita yang juga sedang melakukan hal yang sama dengan Eliza nampak mengangguk beberapa kali. "Ibu ngerti, hati memang tidak bisa dipaksakan. Kalau boleh tahu, berapa usai kamu saat ini?" Dengan sangat terpaksa Eliza pun menjawabnya, dan Ibu itu kembali mengangguk beberapa kali." Dua puluh enam, usia kamu udah terlalu cukup untuk menikah loh."
Eliza kembali mengembangkan senyumnya. "Mungkin karena saya belum ketemu jodoh aja, bu."
Sekarang gantian wanita itu yang tersenyum. "Bukan masalah karena belum ketemu jodoh. Kalau ibu tebak sih, kamu ada suatu masalah dengan yang namanya asmara. Benarkan?" Eliza sempat tercengang, tapi dia tidak sanggup untuk berbohong. Dengan lemah, wanita itu membenarkan tebakan Ibunya Rudi.
"Apapun yang terjadi di masa lalu, harusnya kamu tidak boleh larut dalam lubang itu. Memang mengawali kembali itu akan sulit, tapi sebagai wanita, kamu itu harus bangkit. Apalagi usia kamu usia yang sudah siap untuk menikah. Ingat, di kampung tidak sama kayak hidup di kota. Akan banyak cibiran yang menghampirimu jika di usia segitu belum nikah, dan hal itu bisa berdampak juga pada keluargamu."
Lagi lagi Eliza dibuat tertegun oleh ucapan wanita di hadapannya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Eliza saat ini. Meski begitu, pikiran Eliza bekerja, mencerna ucapan wanita yang sedang menikmati semangngkok bakso bersamanya.
__ADS_1
...@@@@@...