TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Pembicaraan Keluarga


__ADS_3

Masih di malam yang sama dengan waktu yang hampir sama pula, Arimbi terlihat mematung begitu matanya menangkap sosok yang baru saja datang menggunakan mobil dengan harga yang terbilang mahal. Ada lima orang yang turun dari mobil dan tiga diantaranya adalah orang yang cukup Arimbi kenal meski dulu jarang sekali untuk bertemu.


"Ibu!" teriak bocah yang sedang digendong oleh seorang wanita yang mungkin saat ini usianya hampir sama dengan usia Ibu Farida. Anak itu meminta turun dari gendongan wanita itu dan langsung lari menghampiri ibunya. Mendadak perasaan Arimbi menjadi tidak karuan dengan kedatangan Sandi dan keluargnya itu.


"Assalamu'aikum, Arimbi, apa kabar?" sapa Ibunya Sandi begitu dirinya dan yang lain sudah dekat dan menghentikan langkahnya dihadapan wanita yang baru saja menyambut anaknya dan segera menggendongnya.


"Wa'alaikum salam, Bu, Saya baik, silahkan masuk, Bu, Pak dan ...." ucap Arimbi dengan wajah terlihat berpikir saat matanya menatap seorang wanita muda yang ada di sana.


"Sandrina, adiknya Bang Sandi," jawab Sandrina nampak sumringah.


"Oh iya, maaf, saya lupa," jawab Arimbi dengan perasaan yang teramat canggung. "Silakan masuk, Mbak."


Ke empat orang dewasa itu lantas masuk dan duduk di ruang tamu rumah yang sederhana. Tak lama setelah mereka duduk, Ibu Farida muncul dari pintu yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu rumahnya. "Loh ada tamu!" seru Bu Farida yang nampak asing dengan tamunya selain satu pria yang dia sudah kenal sebelumnya. "Kalian .."


"Kami orang tuanya Sandi, Bu, dan ini anak perempuan saya," Ibunya Sandi yang menjawab dan mereka saling berjabat tangan satu sama lain. Beberapa saat kemudian Pak Seno juga turut serta menemui tamu tamunya dan mereka terlibat obrolan ringan.


"Kami kesini mau meminta maaf sama Arimbi, karena kelakuakan anak kami, Arimbi harus mengurus Reyhan sendirian. Entah kelakuannya ikut siapa anak itu. Padahal di keluarga saya dan istri saya, tidak ada yang sifatnya buruk kayak dia," Sang Ayah kembali meluapkan kekesalannya. Sedangkan Sandi hanya terdiam tanpa bantahan apapun. Meski saat ini dia sedang duduk di tikar bersama anaknya, tapi telinganya cukup jelas mendengar kekesalan ayahnya.

__ADS_1


"Yah, namanya juga anak muda, Pak, selalu ada saja kelakuan yang menguji kesabaran orang tuanya," Pak Seno berusaha menanggapinya dengan netral, tanpa membela pihak manapun.


"Tetap aja bikin enek. Punya otak kok malah digunakan untuk hal yang tidak baik. Kayak uang dari ayahnya kurang aja sampai mau taruhan kayak gitu," sungut sang ayah berapi api.


Tanpa sengaja Sandi melihat wanita yang juga sedang duduk bersama anaknya, senyum senyum sendiri meski wanita itu sedang menunduk. "Sudah sih, Pah, marahnya?" akhirnya Sandi angkat suara. "Orang aku udah punya anak segede ini, masih dimarahin juga. Lihat tuh, ibunya Reyhan sampai senyum senyum gitu."


Seketika Arimbi langsung mendongak dan wajahnya terlihat kaget karena ketahuan kelakukannya. "Siapa juga yang senyum senyum?"


"Hillih, malah ngeles lagi," Sandi malah terlihat kesal.


"Udah, Mbak, jangan dihiraukan pria yang tidak bertanggung jawab kayak dia," Sandrina malah membela Arimbi.


"Ayah marah?" tanya Reyhan tiba tiba sambil menatap pria di hadapannya.


"Tidak, Sayang," Sandi terlihat gelagapan. "Ayah lagi ngomong sama tante."


Reyhan malah tersenyum sedangkan Sandi terpaksa menahan kesalnya dan memasang senyum di depan sang anak. Tentu saja semua mata yang menyaksikan tingkah Sandi, menunjukkan reaksi yang berbeda beda.

__ADS_1


"Benar, Mbi? Sandi pernah ngajak kamu nikah?"


Mendengar pertanyaan dari ayahnya Sandi, Arimbi dan Sandi spontan langsung saling pandang. Jika Sandi berpikir wanita itu akan jujur atau tidak, tapi Arimbi berpikir bingung mau jawab apa. Tapi karena tidak ada pilihan lain lagi dan jika berbohong, takutnya akan jadi masalah kedepannya, Arimbi lantas mengangguk dan mengiyakan.


"Kamu terima tidak?" sekarang gantian Ibunya Sandi yang terlihat antusias dalam melempar pertanyaan.


"Nggak di terima, bu," Sandi yang menjawab. "Arimbi sudah memililki pria lain sebagai ayah sambung Reyhan."


"Jangan ngarang cerita deh," bantah Arimbi tak terima.


"Lah itu kemarin, waktu kita mau piknik. Aku lihat sendiri, laki lakinya ada di sini."


"Mulyadi?" bukan Arimbi yang ngomong, tapi Bu Farida yang memang mengtahui laki laki yang dikatakan Sandi. "Kamu serius, Mbi? Mau sama Mulyadi?"


"Nggak, Bu," bantah Arimbi lantang. "Jangan percaya sama Sandi. Ngarang aja kalau ngomong."


"Kalau nggak ada calon ya udah, kamu nikah aja sama Sandi."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2