
Seorang pria berbadan getap dengan paras mirip orang india, sedang duduk dengan perasaan gelisah. Pria itu duduk sendiri di ruang tamu dengan perasaan yang tidak tenang. Meskipun dari awal pria itu sudah meyakinkan hatinya agar tidak takut, tapi tetap saja rasa gelisah itu ada dan semakin membesar begitu pria tersebut sampai di tempat tujuan, dimana pria itu berada saat ini.
"Kamu!" tiba tiba dari arah dalam sebelah ruang tamu, terdengar suara yang menggelegar dan cukup lantang sampai membuat pria yang berada di ruang tamu sedikt terlonjak karena kaget. Pria itu berusaha agar bisa bersikap tenang meski di dalam dadanya saat ini sedang berdegup sangat kencang.
"Masih berani kamu datang ke sini! Belum puas kamu menghancurkan Eliza!" teriak pria paru baya dengan suaara yang sangat lantang penuh dengan rasa amarahnya setelah tahu siapa tamu yang datang di rumahnya dan mengganggu acara makan malamnya bersama sang istri.
"Maaf, Om jika kedatangan saya mengganggu waktu Om," ucap pria yang tak lain adalah Randi. Pria itu sudah tahu pasti, sang tuan rumah akan marah jika melihat dirinya berada di rumah orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan wanita incarannya, tapi pernah dia hancurkan kebahagiaan wanita itu juga.
"Ya pasti sangat mengganggu!" pria yang tidak lain adalah ayahnya Eliza, terlihat sekali dalam menunjukan amarahnya saat ini. Bahkan suaranya yang menggelegar, sampai membuat sang istri yang masih berada di meja makan, langsung beranjak menuju ke ruang tamu. "Ada perlu apa lagi kamu datang kemari, hah!"
"Saya datang ke sini mau minta maaf, atas segala kesalahan yang saya buat kepada anak Eliza, Om," Randi terus berusaha untuk tetap tenang karena posisinya saat ini dia menjadi tersangka utama yang membuat Eliza pergi dari hidup suami istri yang berada di hadapan Randi.
"Setelah sekian lama, kamu baru datang ke sini untuk meminta maaf? Enak banget hidup kamu ya? Sampai kamu tidak peduli nasib yang menimpa anak saya," seru Ayahnya Eliza.
"Saya sangat peduli dengan Eliza, Om, maka itu saya datang kemari menemui Om malam ini."
__ADS_1
"Nggak usah omong kosong!" bentak Papahnya Eliza. Sedangkan sang istri lebih memilih diam meski dia juga menyimpan kemarahan pada Randi.
"Benar, Om, saya sangat peduli dengan anak Om dan Tante. Maka itu saya datang kesini, karena saya ingin melamar Eliza jadi istri saya Om."
"Apa!"
Sementara itu di tempat lain, masih di hari yang sama.
"Wahh! Ternyata tamunya adalah pria pengecut dan tidak tahu diri, yang telah menghancurkan anak saya, Hebat! Masih berani kamu datang kesini, hah!" seorang pria paruh baya juga sedang menunjukan amarahnya begitu melihat wajah tamu yang datang ke rumahnya. Murka pria itu langsung menyeruak saat melihat wajah yang tidak asing dan tentu saja sangat dia kenali.
"Kamu tanya kabar sama saya?" pria paruh baya itu melempar pertanyaan dengan tatapan yang sangat sinis. "Apa kamu berharap kabar saya tidak baik baik saja sejak kamu menggagalkan acara pernikahan kamu dengan Rianti, gitu?"
"Bukan begitu, Om," balas si tamu yang tidak lain adalah Dandi. Pria itu cukup kesulitan memilih jawaban yang tepat atas sindiran yang terlontar dari mulut ayahnya Rianti. "Saya datang ksini, karena saya mau minta maaf sama Om."
"Minta maaf?" Ayah Rianti masih menanggpinya dengan tatapan remeh. "Setelah sekian lama baru minta maaf?"
__ADS_1
"Saya tahu, mungkin saya telat mengatakannnya. Tapi selain minta maaf, saya datang kesini juga bermaksud untuk melamar Rianti kembali, Om."
"Apa!"
Masih di malam yang sama dan di tempat yang berbeda pula.
"Oh, rupanya tamunya kamu, pria yang tidak bertanggung jawab kepada anakku!" tanya seorang pria dengan tatapan sinis, begitu melihat tamunya yang sedang memangku seorang anak kecil.
Sang tamu lantas berdiri menyambut kedatangan orang tua dari wanita yang telah melahirkan anak dalam pangkuannya. "Selamat malam, Om, Tante, apa kabar?" sapa sang tamu dengan ramah meski hatinya saat ini sedang dilanda gelisah.
"Ada perlu apa kamu datang kesini, hah! Mau pamer anak?" tanya pria paruh baya dengan tatapan penuh kebencian kepada tamunya. "Kamu mau pamer gitu? Kalau kamu sudah menikah dan memiliki anak dengan wanita lain? Pantas, kamu nggak mau mengakui anak yang dikandung Arimbi."
"Maaf, Om, ini bukan anak saya dengan wanita lain," jawab sang tamu dengan segala ketenangan hatinya. "Ini adalah anak saya dengan Arimbi, putri Om."
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@@...