TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Semakin Yakin


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Hallo!"


"Iya, kenapa!"


"Hah! Di hotel?"


"Baik. Biar nanti aku hubungi sendiri."


Klik. Sambungan telfon pun berakhir.


"Siapa, Dan?" tanya seorang wanita yang saat itu sedang menikmati sarapanya bersama suami dan satu anaknya yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Karyawan, Mah," jawab Dandi singkat lalu memasukkan satu sendok nasi dan lauk paluknya ke dalam mulut.


"Karyawan? Kok ngomongin hotel?" tanya Mamahnya lagi yang menjadi penasaran dengan pembicaraan anaknya barusan.


Sebelum menjawab, Dandi mengunyah makanannnya sejenak lalu menelannnya. "Itu, kan kemarin Dandi kedatangan tamu, katanya ingin kerja sama dan membuka cabang rumah makan yang sama seperti punya aku. Dia ngajak ketemu, dan pertemuan nanti dia ngajakin ketemu di hotel."


"Kenapa ketemuan di hotel?" Mamah semakin banyak ingin tahu. Dari wajahhnya jelas sekali kalau wanita itu merasa heran.


"Aku juga nggak tahu, Mah. Dia minta ketemu nanti sore di hotel Enak enak. Itu hotel yang lumayan mewah, kan?" jawab Dandi.

__ADS_1


"Orang yang ngajak ketemuan, cewek apa cowok?" sekarang sang Papah yang bersuara. Dia juga cukup penasaran dengan pembahasan yang dilakukan anak dan istrinya.


"Cewek, Pah."


"Astaga!" seru Mamahnya Dandi. "Masa membicarakan kerja sama sampai di hotel? Kayak nggak ada tempat lain aja. Ya walaupun di hotel itu juga ada restorannya, tapi kok mamah merasa aneh ya?" Dandi hanya mengangkat kedua pundaknya, sebagai tanda kalau dia juga merasakan keanehan yang sama dengan Mamahnya.


"Hati hati, Dan, biasanya menjelang pernikahan, ada aja goodaannya loh," Papah kembali mengeluarkan suaranya. "Godaan itu macam macam. Salah satunya ya bertemu dengan wanita lain. Bisa menimbulkan salah paham."


"Aku tahu, pah. Makanya aku ngatasin masalah ini juga tidak sendiri. Aku juga bakalan ngajak Sandi dan Randi. Cuma kita itu lagi mencurigai sesuatu aja, Pah."


"Mencurigai sesuatu? Maksudnya?" tanya Mamah lagi.


"Begini," Dandi lantas menjelaskan semua yang sedang dialami tiga pria itu dengan tamunya. Tentu saja, kedua orang Dandi tercengang begitu mendengar cerita dari sang anak.


"Maka itu, nanti jika dua wanita yang lain juga meminta bertemu di saat yang sama tapi tempatnya berbeda, berarti memang ada rencana yang sedang dilakukan para wanita itu."


"Ya mending jangan ketemu deh, Dan, daripada nanti ada masalah kedepannya," ucap Mamah yang wajahnya kini malah terlihat cemas dan juga kesal, campur jadi satu.


"Kalau menurut Papah sih, tetep di temuin," Papah menimpali.


"Loh, kok gitu, Pah? Itu kan bahaya?" Mamah melayangkan protesnya.


"Justru lebih bahaya kalau dibiarkan, Mah. Dandi justru harus menemui wanita itu. Jika Dandi tidak datang karena kesengajaaan, itu bisa menjadi poin yang bisa membuat citra buruk rumah makan milik anak kita. Kalau Dandi tetap menemui orangnya, nanti Dandi bisa tahu, motif apa yang sedang direncanakan wanita itu. Apa memang murni ingin kerja sama, atau memang ada motif lain yang nantinya akan berpengaruh pada Dandi," terang Papahnya Dandi.

__ADS_1


"Iya juga sih, Pah. Tapi kan, hal ini sangat rentan terjadi salah paham. Nanti kalau pihak Rianti ada yang mengetahui Dandi ketemuan sama cewek lain gimana? Bukankah kita juga nanti yang akan malu?" sahut Mamahnya.


"Nggak bakalan, Mah," kini Dandi yang bersuara penuh dengan keyakinan. "Kan nanti siang aku sama Rianti akan ketemuan, membahas tanggal pernikahan kita. Sekalian aja aku ngasih tahu hal itu, agar tidak salah paham nantinya. Lagian, aku, Sandi dan Randi juga sebenarnya agak curiga kalau ini adalah rencana seseorang."


"Rencana seseorang? Siapa?"


"Perkiraanku sih ini kerjaannya Rusdi, Mah."


"Loh, kok Rusdi?" Mamah kelihatan terkejut. Biat bagaimanapun orang tua Dandi juga mengenal anak itu cukup lama.


"Dia kan memang dari dulu gitu, Mah. Selalu berusaha menjatuhkan nama aku, Sandi dan Randi di depan mata cewek, makanya aku nggak pernah dekat lagi sama cewek, ya karena ulah Rusdi itu."


"Astaga! Masa dia sampai segitunya?" Mamah kembali merasa terkejut. Papah juga sebenarnya sama, tapi semua rasa yang ingin Papah tanyakan, sudah terwakilkan oleh istrinya.


"Ya emang gitu, Mah. Entah kenapa dia kayak masih dendam aja sama kita. Tapi tenang aja. Kali ini aku tidak mau mengalah."


"Ya lakukan aja yang menurut kamu baik," ucap Papah dengan nasehatnya. "Tapi selidiki dulu, itu murni kerja sama atau bukan."


"Siap, Pah,"


Nyatanya, di tempat lain, Randi dan Sandi juga mendapatkan kabar yang sama. Hal itu semakin membuat ketiga pemuda itu yakin kalau apa yang dilakukan para wanita yang mengajak mereka ketemuan, memiliki tujuan yang tidak baik. Tentu saja, pada akhirnya, ketiga pria itu juga merencanakan sesuatu untuk mengantisipasinya.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2