
Arimbi terpaku. Matanya menatap pria berwibawa yang baru saja melontarkan pertanyaan untuk dirinya. Arimbi bingung menanggapinya. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan dari ayahnya Sandi. Untuk menjawab iya, seperti ada ganjalan besar dalam tenggorokannya. Untuk menjawab tidak pun, seperti ada perasaan tidak enak karena Arimbi tahu siapa orang yang melempar pertanyaan.
"Sudah dong, Pah. Jangan didesak kayak gitu? Dia masih anak orang lain, main desak aja. Biarkan dia berpikir dulu agar lebih mantap lagi nantinya." Arimbi selamat. Istri dari pria yang tadi melempar pertanyaan, mengerti dengan keadaan Arimbi yang kebingungan. Wanita beranak satu itu seketika mampu mengembangkan senyum tipisnya kepada nenek dari anaknya.
Pria bernama Suryo langsung mendengus dan menatap kesal kepada istrinya. "Papah kan sedang berusaha aja, Mah. Ya, kali aja Sandi gagal dalam membujuk orang tua Arimbi, kita bisa segera nikahkan mereka aja, meski tanpa restu dari pihak wanita," alasan Suryo sebenarnya cukup masuk akal. Semua itu hanya untuk antisipasi jika apa yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
"Tapi ya jangan terlalu menekan Arimbi dong?" sang istri masih tidak mau kalah. "Di sini yang menjadi korban paling parah itu Arimbi, herusnya kita yang menjaga perasaannya. Untung Arimbi bertemu dengan Ibu Farida dan Pak Seno, jadi mentalnya baik baik saja. Coba kalau tidak, apa yang akan terjadi?"
"Iya iya, Papah tahu. Ngomong sama Mamah tuh, Papah sangat susah untuk menang," gerutu Pak Suryo dengan kesal.
"Hahaha ... ternyata sama aja ya?" Pak Seno tiba tiba terbahak. "Aku kalau ngomong sama istriku juga, aku yang selalu ngalah. Padahal seringnya istri yang salah, tapi nggak mau ngalah. Ngotot terus mau menang sendiri."
"Loh, kok jadi aku yang di bawa bawa?" Bu Farida nampak tidak terima. Matanya langsung menatap tajam suaminya yang sedang cecengesan.
__ADS_1
"Aku kan cuma lagi cerita, Bu, nggak ada maksud apa apa," kilah Pak Seno.
"Cerita apaan? Orang tadi aku dibawa bawa gitu," Bu Farida nampak tidak terima.
"Udah, Bu, Pak, astaga! Ada Reyhan nih lagi lihatin," celetuk Arimbi. Selain Bu Farida, semua yang ada di sana langsung terkekeh. Tak lama kemudian Bu farida juga ikut tertawa begitu kesalnya hilang. Mereka lantas melanjutkan obrolan ke topik lainnya hingga tanpa terasa, waktu hampir menuju sore, mereka pun memutuskan untuk pulang.
Di waktu yang sama, tiga pria juga nampak sedang sibuk dengan pekerjaanmnya. Sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi jika rumah makan itu selalu ramai di datangi pengunjung dari siang hingga sore hari. Belum lagi pesanan lewat aplikasi.
Maka itu dari tiga orang sebagai tukang masak, mereka selalu berbagi tugas. Satu memasak untuk yang datang ke toko, satu untuk aplikasi dan satunya tergantung keadaanya. Aturan itu berlaku jika rumah makan sedang Ramai dari dua sisi. Tapi kalau ramai satu sisi saja, ya semua tukang masak melayani satu sisi itu.
"Loh, Papah, mamah udah pulang?" tanya Sandi yang cukup terkejut melihat kedatangan keluargnya di sana. "Reyhan mana?" tanya Sandi lagi sambil menjabat tangan orang tuanyanya. Randi dan Dandi juga ikut menjabat tangan orang tua Sandi.
"Reyhan udah Papah anter pulang. Kecapean tadi sampai tidur di mobil," jawab Pak Suryo.
__ADS_1
"Terus sekarang, Papah mau pulang apa gimana?"
"Mau nginep semalam lagi lah. Emangya nyetir nggak pegel apa," sungut Pak Suryo. "Sandrina sih, nggak mau buat gantian."
"Ya kan salah Papah sendiri, orang suruh bawa supir, nggak mau," Sandrina tak mau disalahkan.
"Ya udah nginep semalam lagi. Papah nggak rugi ratusan juta ini kan?" ledek Sandi sambil cengengesan. Sang ayah hanya bisa mendengus lalu dia meminta dicarikan makanan yang enak. Randi merekomdasikan nasi goreng milik Eliza, dan Pak Suryo pun langsung setuju.
Di rumah Arimbi sendiri, dia dan keluarganya sama sama sedang istirahat. Begitu pulang, Mereka langsung bersih bersih. Reyhan Sendiri, saat ini masih terlelap sejak berada di dalam mobil. Anak itu memang sangat kelelahan karena segala macam permainan yang ada di lokasi piknik, Reyhan mencobanya bersama tante dan ibunya.
"Mbi, kaya ada tamu?" ucap Bu Farida di saat mereka sedang ngobrol sambil melepas lelah.
"Biar aku lihat, Bu," Arimbi segera bangkit dan beranjak menuju ruang tamu. Betapa kagetnya wanita itu saat tahu siapa tamu yang datang setelah pintu terbuka.
__ADS_1
...@@@@@...