TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Arimbi tertegun dengan kata yang keluar dari mulut Sandi. Pria yang sudah sah menjadi suaminya itu dengan jelas mengeluarkan kata yang membuat wajah Arimbi bersemu merah. Meski begitu Arimbi juga saat itu menjadi dilema. Hatinya pun bertanya tanya, apa malam ini dia harus melayani Sandi.


Siap tidak siap, Arimbi memang sekarang harus mau melayani Sandi dalam hal apapun. Sebagai istri, tentu saja Arimbi sudah tahu semua tugas yang bisa menunjukkan ketaatannya, termasuk melayani sang suami di atas ranjang. Namun, sebagai wanita yang pernah disakiti oleh Sandi, ada sisi hati Arimbi, yang merasa enggan dan takut jika harus melayani pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu.


Niat hati ingin mandi dan ganti baju, Arimbi malah termenung memikirkan segala hal yang tiba tiba bermunculan dalam benaknya. Namun tak lama setelahnya, sebuah suara terdengar dari luar kamar, yang menyebabkan Arimbi tersadar dari lamunan dan bergegas untuk mandi.


"Jadi kapan, kalian akan berangkat ke kampung?" tanya Ayahnya Arimbi, kepada anak dan menantunya yang saat ini duduk di seberang meja makan. Setelah Arimbi selesai mandi, dia dan suaminya kini sedang menikmatti makan malam bersama orang tua dan juga saudara Arimbi yang masih ada di rumah itu.


"Kemungkinan nanti, Yah, setelah acara nikahannya teman aku yang dua orang itu," jawab Sandi dengan segala rasa canggungnya setelah resmi menjadi bagian anggota keluarga Arimbi.


"Berarti ini sudah pasti kalau kalian tidak tinggal di kota?" sekarang suara ibu yang menggema. Entah sudah berapa kali wanita itu menanyakan hal yang sama sejak beberapa hari yang lalu.


"Sudah, Bu. Bahkan aku sudah meminta, Pak Seno untuk mengecek salah satu perumahan yang ada di dekat tempat usaha kami," jawab Sandi.


"Ya sudah, kalau keputusan kalian sudah bulat, ibu bisa apa," wanita yang telah melahirkan Arimbi nampak terlihat kecewa.

__ADS_1


"Ibu tenang aja, di sana, saya akan menjaga Arimbi dan Reyhan dengan baik, Bu," sekarang gantian Bu Farida yang mengeluarkan suaranya. Dia dan suaminya baru akan pulang esik hari. Ibunya Arimbi pun hanya menunjukkan senyumnya tanpa ada kata kata untuk membalas ucapan Bu Farida.


"Besok kakek sama nenek pulang, Reyhan mau ikut nggak?" tanya Pak Seno kepada anak kecil yang duduk tidak jauh dari pria tua itu.


"Pulang kemana?" tanya Reyhan dengan wajah yang menunjukan kalau anak itu cukup kaget mendengar pertanyaan dari Pak Seno. Bahkaan pandangan matanya juga langsung menatap lekat pria itu.


"Pulang ke kampung, ke rumah Nenek sama Kakek," jawab Pak Seno lagi.


"Ayah sama Ibu ikut?" tanya anak itu lagi.


Anak itu terdiam. Dari raut wajahnya jelas sekali kalau dia saat ini sedang merasa bingung. "Reyhan ikut ayah aja, kek. Tapi nanti Reyhan bubu sama Nenek ya?"


Ucapan anak itu tentu saja di sambut senang oleh Bu Farida dan juga suaminya. Dan yang lebih bahagia adalah pria yang saat ini sedang menahan senyumnya. Keputusan Reyhan yang ingin tidur dengan neneknya, membuat Sandi tidak perlu pusing menyingkirkan si anak, agar bisa lancar melakukan malam pertamanya.


Setelah acara makan malam dan juga perbincangan ringan dengan semua anggota keluarga, satu persatu, keluarga Arimbi memasuki kamar mereka masing masing. Reyhan bahkan sudah terlelap sejak beberapa waktu yang lalu dan sekarang sudah berada di dalam kamar yang digunakan oleh Bu Farida dan Pak Seno.

__ADS_1


"Apa kamu nggak capek duduk disitu terus?" pertanyaan Sandi seketika memecah keheningan dan rasa canggun yang melanda sepasang pengantin baru itu, sejak memasuki kamarnya. sandi merasa heran, karena sejak masuk kamar, Arimbi bukannya berbaring di ranjang, tapi malah duduk di kursi dekat meja rias. "Sini naik ke ranjang."


"Iya, sebentar lagi," jawab Arimbi agak gugup sambil mengusap pipinya dengan kapas.


Sandi pun tersenyum. "Perasaan make up sudah bersih dari tadi saat makan malam dan juga kena air wudlu, kenapa masih usap wajahnya dengan kapas?"


Arimbi terperangah. Wanita itu cukup terkejut karena Sandi tahu kalau dia hanya sedang bersandiwara membersihkan wajahnya untuk mengulur waktu. Di saat Arimbi ingin mengatakan alasan yang lainnya, dari cermin wanita itu melihat Sandi yang turun dari ranjang dan mendekat ke arahnya. Arimbi seketika langsung bingung, harus melakukan apa saat ini.


Arimbi tidak bisa berkutik lagi saat Sandi benar benar mendekat dan berdiri di belakangnya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Arimbi yang semakin gugup saja.


Sandi lantas tersenyum, lalu dia berjongkok hingga mulutnya tepat berada di telinga kanan Arimbi. "Isi celanaku sudah merindukan sarangnya, Sayang."


Deg!


Jantung Arimbi seakan berhenti berdetak.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2