
"Kamu kenapa, Mul? Kok Kayak galau gitu?" tanya seorang pria yang baru saja menenggak segelas minuman beralkohol. Tangan kiri pria bertato banyak itu melingkar pada pingangg wanita berpakaian seksi yang sedang menyanyikan lagu dangdut mengikuti alunan musik yang terpampang pada layar televisi di depan mereka.
Di sisi lain mereka, ada juga seorang pria bertubuh kurus yang sedang berusaha menyerang wanita lain yang juga sedang menyanyi. Pria yang kelihatan sudah mabuk itu berkali kali mendaratkan bibirnya pada wanita yang justru merasa senang diperlakukan seperti itu. Wanita itu tetap menyanyi meski suaranya jauh dari kata sempurna. Bagi si wanita, yang penting malam ini dia bisa dapat uang dari pria yang sedang memberinya serangan dengan bibirnya.
Mulyadi sendiri sedari tadi dia datang langsung di sambut oleh wanita yang saat ini sedang duduk dengan tubuh yang menempel pada dirinya. Tidak ada kata canggung diantara keduanya, bahkan obrolan mereka juga terlihat sangat akrab. Meski Mulyadi malam ini lebih banyak diam, tapi dia tetap meladeni wanita itu.
"Paling masalah cewek beranak satu itu," celetuk pria ceking yang sudah terlihat sangat mabuk itu. Meski tubuhnya sudah sangat sempoyongan, pria itu nyatanya masih bisa menimpali ucapan rekanya. "Heran, cewek modelan kayak gitu aja sampai digalauin."
Dua pria yang sangat akrab itu hanya tersenyum tipis mendengar celetukan si tubuh ceking. Mereka memang sering menghabiskan waktu bersama di tempat karaoke yang ada tak jauh dari kampung mereka.
"Astaga, Mul! Kamu segalau ini gara gara cewek yang nggak jelas statusnya? Apa kamu sebucin itu?" teman Mulyadi yang bertato banyak sedari tadi memperhatikan Mulyadi nampak begitu heran dengan tingkah Mulyadi. "Apa sih istimewanya itu cewek? Udah punya anak nggak jelas aja, diajak tidur bareng nggak mau. Munafik."
__ADS_1
Mulyadi nampak menyeringai. "Ya, dia memang terlalu jual mahal. Tapi karena itu, aku tertantang ingin menaklukannya. Cuma ya sekarang keadaan malah makin sulit. Kalau dulu cuma ibuku aja yang jadi penghalang. Sekarang ada cowok lain yang mengejarnya juga," akhirnya unek unek Mulyadi keluar juga. Setelah mengatakan itu semua, pria itu menuangkan minuman berlakohol dari dalam botol ke dalam gelas, lalu menenggaknya.
"Ya elah, ceritanya ada saingan nih," celetuk si ceking disela sela menggerayangi tubuh wanita di dekatnya. "Ya udah serahin aja wanita itu sama saingan kamu. Orang munafik aja masih kamu pertahanin segala."
"Ya gimana nggak aku pertahankan. Aku belum mencicipi tubuhnya. Rugi dong kalau aku nyerah begitu saja. Uang yang aku keluarkan untuk nyenengin anaknya aja udah banyak, masa aku nggak dapat apa apa," akhirnya Mulyadi menunjukkan sisi buruknya.
"Yah, dia emang cantik sih. Cowok mana yang nggak ngiler lihat tubuh dan wajahnya," ucap teman bertato yang duduk di dekatnya. "Kalau nggak bisa pakai cara halus untuk menidurinya, kenapa kamu nggak pakai cara kasar sih, Mul?"
Dan pada akhirnya, rencana yang sangat tidak baik terjadi di malam itu. Entah apa itu rencana mereka, yang pasti, Mulyadi sangat siap menjalankan rencana yang diusulkan kedua temannya. Seketika rasa galau yang tadi melanda Mulyadi hilang seketika. Bahkan pria itu memilih pergi menuju kamar yang ada di tempat yang sama, untuk melakukan hubungan dengan wanita yang sedari tadi menempel pada Mulyadi.
Nyatanya bukan hanya Mulyadi yang memiliki rencana yang tidak baik. Di lain tempat seorang, seseorang juga sedang mengatur strategi untuk mendapatkan orang yang mereka inginkan. Entah kenapa, banyak orang yang tidak menyadari kalau yang namanya hati itu tidak bisa dipaksakan. Apa lagi jika menyangkut tentang cinta, banyak orang yang justru sangat buta hanya karena alasan cinta, mereka bisa tega melakukan apapun yang sebenarnya bisa merugikan diri sendiri.
__ADS_1
"Kamu masih akan menjalankan terormu?" seseorang terlihat terkejut saat masuk ke dalam kamar, melihat penghuninya sedang menyiapkan rencana sebuah teror yang sudah pernah dia lakukan.
"Ya, seperti yang kamu lihat, selama Mas Romi masih mendekati wanita itu, selama itu juga aku harus membuatnya takut," balas wanita yang sedang duduk di lantai sambil mempersiapkan sesuatu untuk mereror targetnya.
"Sampai kapan kamu akan melakukan hal konyok seperti itu?" orang yang tadi baru datang langsung mencoba memberi nasehat.
"Sampai wanita itu pergi dari kampung ini. Jika perlu, akau akan membayar orang untuk membuat wanita itu semakin takut."
Wanita yang memberi nasehat sungguh terperangah mendengarnya.
...@@@@@@...
__ADS_1